DEPOK, KOMPAS.com - Saina Tazkiya Zulala Azizi (17), santriwati Pondok Pesantren Al Muhajirin di Cilangkap, Tapos, Kota Depok, dilaporkan hilang sejak Senin (2/2/2026).
Sebelum menghilang, remaja itu meninggalkan sepucuk surat berisi permintaan maaf dan pesan agar utang jajanan sebesar Rp 2.500 dibayarkan.
“SAYA MEMINTA MAAF UMI DAN USTADZ SERTA TEMAN-TEMAN BAHWA SAYA INGIN PERGI GATAU BERAPA LAMA DAN GATAU KEMANA TOLONG JANGAN KASIH TAU ORANGTUA SAYA JUGA DAN JANGAN DICARI, DAN SAYA MEMINTA TOLONG UNTUK BAYARKAN SEMPOL SAYA SEBESAR RP 2.500,” bunyi isi surat yang ditinggalkan Saina.
Kapolsek Cimanggis Kompol Jupriono saat dihubungi, Sabtu (22/2/2026), mengatakan bahwa hingga kini Saina belum ditemukan dan pencarian masih terus dilakukan.
“Belum ditemukan. Kami masih melakukan pencarian dan mencari informasi dari keluarga maupun pihak pondok,” ujar Jupriono.
Baca juga: Kronologi Santriwati di Depok Hilang, Belum Ditemukan sejak 2 Februari
Ia menegaskan, polisi tidak membatasi waktu pencarian.
“Kami bukan Basarnas yang ditentukan waktu pencariannya. Sampai ketemu akan terus kami lakukan pencarian. Hambatannya memang belum ada informasi keberadaannya,” kata dia.
Berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/B/06/II/2026/Sek Cimanggis tertanggal 4 Februari 2026, peristiwa itu bermula saat kegiatan pengajian di Pondok Pesantren Al Muhajirin pada Senin sekitar pukul 16.30 WIB.
Saat pengajian berlangsung, Saina tidak terlihat hadir. Seusai kegiatan, teman-teman dan pengurus pondok berupaya mencari keberadaan Saina di kamar. Namun, ia tidak ditemukan.
Baca juga: Santriwati di Depok Dilaporkan Hilang, Tinggalkan Surat untuk Orangtua
Teman sekamarnya kemudian menemukan sepucuk surat di atas lemari Saina. Surat itu berisi permintaan maaf dan keinginan untuk pergi tanpa memberi tahu tujuan maupun lamanya waktu.
Setelah menemukan surat tersebut, pihak pondok melakukan pencarian internal di sekitar lingkungan pesantren, namun tidak membuahkan hasil.
Keesokan harinya, Selasa (3/2/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, seorang lulusan pondok bernama Fauzan mengaku sempat melihat Saina di depan Sekolah Kristen Mardi Waluya, Cilodong, Depok.
“Fauzan mengaku memanggil korban, tetapi tidak mendapat respons,” kata Jupriono.
Menurut keterangan saksi, wajah Saina saat itu terlihat pucat. Setelah momen tersebut, tidak ada lagi informasi mengenai keberadaannya.
Pihak keluarga kemudian membuat laporan ke Polsek Cimanggis pada 4 Februari 2026. Pelapor diketahui bernama Maksus (45).
Jupriono mengatakan, hingga kini pihak kepolisian masih melakukan upaya pencarian terhadap Saina.
Polisi telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk teman-teman korban dan pengurus pondok pesantren.
“Kami masih melakukan pencarian dan mengambil keterangan dari saksi-saksi. Rekaman CCTV juga sedang kami telusuri, serta penyebaran informasi melalui media sosial,” ujar dia.
Polisi mengimbau masyarakat yang mengetahui informasi terkait keberadaan Saina untuk segera melapor ke kantor kepolisian terdekat atau menghubungi Polsek Cimanggis.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



