“Ngono Yo Ngono, Ning Ojo Ngono”: Batas Etika dalam Kebijaksanaan Jawa

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Filosofi Jawa kaya akan pitutur yang sederhana dalam bunyi, tetapi dalam makna. Salah satu ungkapan yang sering terdengar dalam percakapan sehari-hari adalah ngono yo ngono, ning ojo ngono. Secara harfiah, kalimat ini berarti “begitu ya begitu, tapi jangan begitu.” Sepintas terdengar seperti permainan kata, bahkan membingungkan. Namun justru di situlah letak kedalaman maknanya. Ungkapan ini mengajarkan tentang batas, kepantasan, dan keseimbangan dalam bersikap.

Dalam budaya Jawa, keseimbangan adalah kunci kehidupan. Manusia diajak untuk hidup selaras dengan sesama, alam, dan Tuhan. Pitutur ngono yo ngono, ning ojo ngono menegaskan bahwa segala sesuatu memiliki batas kewajaran. Kita boleh marah, tetapi jangan berlebihan. Kita boleh bercanda, tetapi jangan sampai menyakiti. Kita boleh tegas, tetapi jangan sampai kasar. Artinya, tindakan manusia harus selalu disertai kesadaran etika dan empati.

Filosofi ini relevan dalam kehidupan modern yang serba cepat dan sering kali kehilangan batas. Di era media sosial, misalnya, orang bebas berpendapat. Kebebasan itu sah dan penting dalam demokrasi. Namun kebebasan tanpa kendali bisa berubah menjadi ujaran kebencian, fitnah, atau perundungan. Di sinilah “ngono yo ngono, ning ojo ngono” menjadi pengingat: menyampaikan kritik itu boleh, tetapi jangan sampai merendahkan martabat orang lain. Mengungkapkan ketidaksepakatan itu wajar, tetapi tetaplah menjaga adab.

Dalam dunia pekerjaan pun, pitutur ini sangat relevan. Seseorang boleh ambisius mengejar karier dan prestasi. Ambisi mendorong kemajuan dan inovasi. Namun ketika ambisi membuat seseorang menjatuhkan rekan kerja, menghalalkan segala cara, atau mengorbankan integritas, maka ia telah melampaui batas. “Ngono yo ngono”—bekerja keraslah, berkompetisilah. “Ning ojo ngono”—jangan sampai kehilangan nilai moral dan rasa kemanusiaan.

Filosofi ini juga mengandung unsur pengendalian diri. Orang Jawa mengenal konsep eling lan waspada—ingat dan berhati-hati. Setiap tindakan perlu dipertimbangkan dampaknya. Dalam keluarga, misalnya, orang tua boleh mendisiplinkan anak. Namun mendisiplinkan bukan berarti memarahi tanpa kendali atau merendahkan harga diri anak. Ada garis halus antara mendidik dan melukai. Pitutur ini menjadi rem agar emosi tidak menguasai akal sehat.

Menariknya, ungkapan ini menunjukkan bahwa kebijaksanaan Jawa tidak kaku. Ia tidak menolak tindakan atau ekspresi, tetapi menekankan proporsi. Dalam pandangan ini, hidup bukan tentang hitam dan putih, melainkan tentang harmoni. Orang tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi diingatkan agar tidak kebablasan.

Di tengah budaya global yang sering mengagungkan kebebasan absolut dan ekspresi tanpa filter, filosofi ngono yo ngono, ning ojo ngono terasa semakin relevan. Ia mengajarkan moderasi—sebuah nilai yang kini banyak dicari kembali. Moderasi bukan berarti lemah, melainkan kemampuan mengendalikan diri dan menghormati batas.

Pada akhirnya, pitutur ini adalah ajakan untuk menjaga tata krama dalam segala aspek kehidupan. Ia sederhana, tetapi jika benar-benar dihayati, mampu menjadi pedoman etika yang kuat. Dalam hubungan sosial, pekerjaan, keluarga, bahkan dalam bermedia, ungkapan ini mengingatkan bahwa manusia bukan hanya makhluk bebas, tetapi juga makhluk bermoral.

Maka, “ngono yo ngono”—jalani hidup dengan semangat dan keberanian. “Ning ojo ngono”—tetaplah ingat batas, jaga nurani, dan pelihara harmoni. Karena di situlah letak keluhuran budi yang menjadi inti kebijaksanaan Jawa.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pertamina Patra Niaga Terus Gencarkan Pengelolaan Sampah di Berbagai Wilayah, Dampak Ekonomi Capai Rp3,2 Miliar
• 9 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Potret Polisi Bertanjak, Wajah Baru Polda Riau Penjaga Budaya dan Alam
• 22 jam laludetik.com
thumb
Dijuluki Masjid Robin Hood, Masjid Tertua di Kebayoran Lama Ini Dulunya Tempat Ngumpul Para Jawara!
• 4 jam laludisway.id
thumb
Kronologi Piche Kota Jebolan Indonesian Idol 2025 Diduga Terlibat Pemerkosaan Siswi SMA di Atambua, Begini Fakta Kejadiannya
• 12 jam lalugrid.id
thumb
Jadwal Buka Puasa dan Imsakiyah Jepara, Kudus, Demak Hari Ini Minggu 22 Februari 2026
• 9 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.