Jejak komunitas Koja di Kota Semarang, Jawa Tengah, menyimpan kisah panjang tentang perjumpaan budaya, perdagangan, dan penyebaran agama. Koja merupakan sebutan bagi masyarakat Indonesia keturunan atau peranakan Gujarat, India. Kehadiran mereka di Nusantara diperkirakan telah berlangsung sejak era Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, lalu berkembang pesat pada abad ke-17 hingga ke pesisir utara Jawa, termasuk Semarang.
Melalui jalur perdagangan laut, para pedagang Gujarat singgah di pelabuhan-pelabuhan penting, salah satunya Bandar Semarang. Mereka datang sebagai saudagar rempah, namun peran mereka tidak berhenti pada aktivitas ekonomi. Bersamaan dengan arus perdagangan, mengalir pula pengaruh keagamaan dan kebudayaan. Para pedagang ini turut mengenalkan ajaran Islam, termasuk tradisi baca-tulis Arab.
Di Semarang, komunitas Gujarat membangun permukiman yang kemudian dikenal sebagai Pekojan. Letaknya strategis, dekat pusat perdagangan, kawasan Jurnatan dan Purwodinatan, serta tak jauh dari aktivitas bongkar muat barang di sekitar Damaran.
Dari kawasan inilah komunitas Koja tumbuh dan berbaur dengan masyarakat setempat. Perkawinan dengan warga pribumi ataupun etnis lain Arab, Jawa, Eropa, hingga Tionghoa melahirkan generasi dengan ragam latar budaya. Istilah Koja sendiri berasal dari bahasa Persia yang berarti pengajar, merujuk pada peran mereka dalam pendidikan agama.
Salah satu penanda sejarah mereka adalah Masjid Jami Pekojan di Jalan Petolongan, Kota Semarang. Masjid ini diyakini dibangun dan dikembangkan oleh leluhur komunitas Gujarat di Semarang. Di sekitarnya dahulu terdapat banyak makam keturunan Gujarat, sebagian di antaranya dipindahkan pada era 1970-an untuk pengembangan lembaga pendidikan Islam.
Warisan budaya Koja tak hanya berupa bangunan, tetapi juga tradisi. Salah satunya saat Ramadhan, Masjid Jami Pekojan menghadirkan bubur India sebagai sajian berbuka puasa. Ada pula kesenian terbangan atau rebana dengan irama yang lebih rancak dibandingkan rebana. Tradisi ini, antara lain, dipertahankan oleh komunitas yang berhimpun dalam Persatuan Majelis Muslimin (PMM) Pekojan.
Chandra (56), salah seorang warga keturunan Koja, Minggu (22/2/2026), bercerita, warisan yang paling terasa adalah kuliner. ”Masyarakat Koja dikenal dengan kekayaan rempah dalam setiap masakan: kapulaga, kayu manis, pala, lada, merica, kemiri, hingga kulit jeruk,” ujarnya. Aroma rempah menjadi ciri khas yang membedakan hidangan mereka.
Menurut dia, bolu lapis koja dan tart piring akan selalu hadir saat Lebaran nanti. Apalagi, bolu dikenal sebagai sajian kelas atas dalam tradisi keluarga. Komposisinya unik, menggunakan banyak telur dengan sedikit tepung, diperkaya margarin dan minyak samin, serta taburan kenari, almon, keju, susu, dan kismis. Rempah-rempah seperti kapulaga, kayu manis, pala, hingga serutan kulit jeruk memberi cita rasa yang khas dan berbeda dari bolu bergaya Eropa.
Selain itu, ragam kuliner lain juga memperkaya khazanah rasa, seperti pacri terong, kuah lada, pindang anteb, blekotok, kari, kue jala, samosa, ketan sarikaya, hingga aneka manisan India. Sebagian besar resep diwariskan lintas generasi dan tetap bertahan hingga kini.
Upaya merawat dan menghidupkan kembali identitas tersebut kini dilakukan melalui Komunitas Budaya Khoja Semarang (Khojas). Salah satu inisiatifnya adalah Pasar Kuliner Khoja atau Paku Khoja yang digelar di depan Masjid Jami Pekojan pada awal Ramadhan.





