REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengkritik biaya pembiayaan bank syariah yang dinilai masih lebih mahal dibanding bank konvensional. Kritik ini menjadi ujian bagi industri keuangan syariah yang tengah mendorong ekspansi pembiayaan ke sektor produktif.
Sorotan tersebut dinilai berpotensi menjadi hambatan jangka pendek jika tidak segera dijawab dengan langkah konkret. Persepsi mahal dapat memengaruhi minat masyarakat dan pelaku usaha, terutama UMKM, yang sensitif terhadap selisih margin pembiayaan.
Baca Juga
Bank Aladin Syariah Perluas Akses UMKM
Menkeu Purbaya Kritik Bank Syariah, KNEKS: Industri Sedang Berbenah
Bank Muamalat Luncurkan Investasi Reksa Dana Syariah yang Bisa Bantu Umroh Dhuafa
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengingatkan, persepsi tersebut tidak boleh dibiarkan menguat. Jika pembiayaan syariah dianggap lebih tinggi, penghimpunan dana berisiko melambat dan berdampak pada struktur biaya industri.
“Jika persepsi biaya lebih mahal terus menguat, penghimpunan dana bisa melambat. Biaya dana naik, lalu harga pembiayaan ikut terdorong. Itu bisa membentuk lingkaran yang melemahkan pertumbuhan,” ujarnya kepada Republika, Ahad (22/2/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Josua menambahkan, keraguan publik terhadap keselarasan praktik dengan prinsip syariah juga berpotensi menggerus kepercayaan. Padahal, kepatuhan terhadap prinsip syariah menjadi alasan utama masyarakat memilih layanan tersebut.
Market share perbankan syariah Indonesia dibandingkan negara muslim lainnya - (republika)