Bisnis.com, CIREBON- Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) terampil dinilai menjadi penghambat utama Kabupaten Cirebon untuk bertransformasi dari kawasan industri padat karya berupah rendah menuju industri bernilai tambah tinggi.
Bupati Cirebon, Imron Rosyadi, menegaskan peningkatan kualitas tenaga kerja menjadi pekerjaan rumah mendesak jika daerah ingin menarik investasi skala besar berbasis teknologi dan padat modal.
Menurut Imron, struktur industri di Cirebon hingga kini masih didominasi sektor padat karya seperti garmen, furnitur, dan kerajinan rotan. Industri tersebut memang menyerap banyak tenaga kerja lokal, tetapi relatif rentan terhadap gejolak pasar dan tekanan global.
“Kalau kita ingin naik kelas, maka SDM harus disiapkan. Investor yang membawa teknologi dan modal besar tentu membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan khusus, bukan hanya tenaga kerja umum,” ujar Imron, Sabtu (21/2/2026).
Diaa menilai, tanpa lompatan kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi, Cirebon akan terus berada dalam lingkaran industri murah yang mengandalkan upah rendah sebagai daya tarik utama.
Imron mengakui, selama ini keberadaan industri padat karya membantu menekan angka pengangguran dan menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun ketergantungan berlebihan pada sektor tersebut berisiko menghambat transformasi ekonomi daerah.
Baca Juga
- Baru Hari Ke-2 Ramadan, Harga Cabai di Cirebon Tembus Rp103.000 per Kg
- 498 UMKM Cirebon Difasilitasi di Jalan Siliwangi, Jadi Pusat Uang Berputar selama Ramadan
- OJK Cirebon Soroti Lonjakan Investasi Ilegal Jelang Ramadan, 38 Kasus Tercatat
Industri padat karya cenderung memiliki margin keuntungan yang tipis dan sensitif terhadap fluktuasi permintaan. Ketika pasar melemah, gelombang pengurangan tenaga kerja kerap tak terhindarkan. Kondisi itu membuat stabilitas ekonomi daerah menjadi rapuh.
“Padat karya penting, tetapi kita tidak boleh berhenti di situ. Kita harus mulai mendorong industri yang berbasis teknologi dan inovasi,” katanya.
Dia menambahkan, sejumlah calon investor yang melakukan penjajakan di Cirebon umumnya menanyakan kesiapan tenaga kerja lokal, khususnya untuk posisi teknisi, operator mesin modern, hingga tenaga ahli di bidang manufaktur.
Bupati menyoroti fakta bahwa sebagian besar tenaga kerja di Kabupaten Cirebon masih didominasi lulusan pendidikan menengah. Untuk memenuhi kebutuhan industri modern, dibutuhkan kompetensi tambahan seperti penguasaan mesin otomatis, literasi digital, hingga pemahaman sistem produksi berbasis teknologi.
Pemerintah daerah, kata Imron, telah berupaya memperkuat sinergi dengan sekolah kejuruan dan balai latihan kerja. Kurikulum vokasi diarahkan agar selaras dengan kebutuhan industri yang berkembang.
“Kita dorong link and match antara dunia pendidikan dan industri. Jangan sampai lulusan sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” ujarnya.
Selain peningkatan kompetensi, Imron juga menekankan pentingnya membangun mentalitas kerja yang adaptif terhadap perubahan teknologi.
Imron menyebut, transformasi ekonomi tidak bisa dilepaskan dari dukungan infrastruktur dan kepastian regulasi. Pemerintah Kabupaten Cirebon berkomitmen memperbaiki tata kelola perizinan serta menyiapkan kawasan industri yang lebih terintegrasi.
Dia berharap, dengan perbaikan kualitas SDM dan infrastruktur, Cirebon dapat menarik investasi yang tidak hanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga memberikan nilai tambah ekonomi lebih tinggi bagi daerah.
“Kita ingin investasi yang berkelanjutan, yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar menciptakan pekerjaan berupah rendah,” tegasnya.
Imron optimistis, dengan strategi peningkatan kualitas tenaga kerja yang konsisten, Cirebon berpeluang keluar dari ketergantungan pada industri murah. Namun, dia mengingatkan, proses tersebut membutuhkan waktu, kolaborasi lintas sektor, dan komitmen jangka panjang. "Transformasi ekonomi tidak instan, tapi kalau kita tidak mulai dari sekarang, kita akan terus tertinggal,” pungkasnya.




