jpnn.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mampu menggerakkan roda perekonomian daerah hingga ke pelosok pedesaan.
Hal tersebut turut dirasakan sejumlah masyarakat yang berada di Kecamatan Pamarayan, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
BACA JUGA: Program MBG Dongkrak Semangat Siswa, Sekolah Catat Lonjakan Kehadiran
Penjual buah di Desa Pamarayan, Kabupaten Serang menjadi pemasok kebutuhan dapur makan bergizi gratis (MBG). Foto: Abdul Malik Fajar/JPNN.com
Program yang diinisiasi langsung pemerintah pusat tersebut tidak hanya berperan penting dalam meningkatkan ketahanan gizi anak-anak sekolah.
BACA JUGA: Arief Poyuono Merespons Pihak-Pihak yang Merecoki Program MBG
Akan tetapi, terbukti mampu menggerakkan roda perekonomian daerah hingga ke pelosok-pelosok pedesaan.
Program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memberikan dampak domino kepada masyarakat seperti terbuka lapangan kerja sampai pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
BACA JUGA: Ketum PP Muhammadiyah Menilai Perubahan Struktur Polri Rawan Timbulkan Masalah Baru
Juru Masak Utama SPPG I Pamarayan, Hendra Harahap mengaku bersyukur bisa bekerja kembali setelah sebelumnya menganggur.
Memiliki latar belakang tata boga, dia sekarang dipercaya sebagai salah seorang yang ikut bertanggung jawab memasak menu untuk program MBG.
"Kehadiran MBG bukan hanya untuk membantu pemenuhan gizi anak sekolah, tetapi menjadi solusi bagi tenaga kerja lokal," ucap Hendra kepada JPNN.com, Sabtu (21/2).
"Alhamdulillah, sekarang saya memiliki penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan keluarga di rumah," sambung pria 50 tahun tersebut.
Hendra menjelaskan sistem kerja di dapur MBG cukup ketat, karena selalu dipantau ahli gizi tidak bisa sembarangan dalam memasak.
Dia mengatakan SPPG di tempatnya bekerja setiap hari bertanggung jawab menyiapkan menu MBG untuk kebutuhan 3.200 porsi.
"Semua dikontrol dari persiapan, proses masak, hingga pengemasan. Jadi, tidak asal memasak," ujarnya.
Dampak serupa turut dirasakan Ujang Setiawan bertugas sebagai sukarelawan pengantar ompreng MBG ke sekolah-sekolah.
Ujang mengaku sebelum bekerja menjadi kurir distribusi menu MBG dia hanya mengais rezeki sebagai sopir harian lepas dengan pendapatan tidak menentu.
Setelah program MBG berjalan di desanya, Ujang beralih menjadi sopir distribusi ompreng MBG dengan penghasilan lebih pasti.
"Saya mendapatkan honorarium Rp 1.300.000,- setiap dua minggu sekali. Lebih pasti dibandingkan sebelumnya," ungkap dia.
Menurut dia, sistem kerja sebagai kurir distribusi menu MBG dimulai dari pukul 05.30 WIB hingga 14.00 WIB.
Dia mengatakan semua dimulai dari mengantar ompreng berisi penuh menu MBG sekaligus mengambil kembali wadah kosong dari sekolah-sekolah.
"Letih dalam bekerja merupakan resiko, tetapi semangat siswa yang antusias menyambut kedatangan mobil pengantar MBG membuat rasa lelah terbayar," kata Ujang.
"Dapur MBG di tempat saya bekerja untuk mendistribusikan sepuluh sekolah, saya kebagian mengirim buat empat sekolah," sambung dia.
Program MBG tidak hanya membuka peluang menyerap tenaga kerja guna mengurangi angka pengangguran, dampak positif juga dirasakan sejumlah UMKM satu, di antaranya pedagang buah.
Hendriyanto pemilik Kios Taman Buah Pamarayan merasakan dampak yang signifikan setelah program MBG berjalan di desanya.
"Omzet dagangan saya meningkat signifikan sejak menjadi pemasok buah-buahan kebutuhan dapur MBG," ucap Hendriyanto saat ditemui JPNN.com.
Menurut dia, kebutuhan buah untuk satu SPPG bisa mencapai 480 kilogram dalam sekali produksi.
"Bisanya, jenis buah yang rutin dipesan antara lain melon, semangka, apel, jeruk, kelengkeng, dan anggur," ujarnya.
Dia membeberkan omzet penjualan meningkat signifikan melebihi ekspektasinya sebagai penjual buah.
"Biasanya omzet saya sekitar Rp 4 juta per hari, tetapi sejak ada pesanan dari dapur MBG bisa tembus tiga kali lipat," tutur dia.
Bahkan, kata Hendriyanto, dirinya sempat kewalahan menyanggupi permintaan buah-buahan yang tinggi.
"Permintaan buah yang tinggi membuat saya harus belanja ke berbagai pasar mulai di Banten hingga ke Jakarta untuk memastikan pasokan terpenuhi," tutur dia. (mcr34/jpnn)
Jangan Lewatkan Video Terbaru:
Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Abdul Malik Fajar




