FAJAR, MAKASSAR — Grafik performa Persebaya Surabaya sepanjang Februari 2026 berubah drastis hanya dalam hitungan pekan. Dari tim yang sempat terlihat stabil, Green Force kini justru memasuki laga krusial melawan PSM Makassar dengan tekanan besar setelah dua kekalahan beruntun.
Situasi itu membuka peluang bagi pelatih PSM Makassar, Tomas Trucha, untuk mencuri momentum saat kedua tim bertemu pada pekan ke-23 Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu (25/2/2026).
Persebaya datang dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Mereka baru saja dipermalukan Persijap Jepara 3-1 di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2). Kekalahan tersebut menjadi hasil negatif kedua secara beruntun setelah sebelumnya tumbang 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC.
Padahal awal Februari berjalan menjanjikan. Persebaya membuka bulan dengan hasil imbang 1-1 melawan Dewa United FC sebelum tampil impresif menundukkan Bali United FC 3-1 di Stadion Kapten I Wayan Dipta.
Namun konsistensi kembali menjadi persoalan lama. Dari empat laga Februari, Persebaya hanya mencatat satu kemenangan, satu imbang, dan dua kekalahan.
Alarm di Lini Belakang
Secara statistik, produktivitas gol Persebaya sebenarnya tidak buruk. Enam gol berhasil dicetak dalam empat pertandingan. Masalah utama justru berada di lini pertahanan yang kebobolan tujuh kali.
Catatan ini menjadi sinyal bahaya menjelang duel melawan PSM Makassar, tim yang dikenal efektif memanfaatkan celah transisi lawan.
Pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, mencoba meredam tekanan dengan mengajak pemain fokus ke laga berikutnya.
“Sekarang waktunya melihat ke depan, bersiap untuk laga berikutnya, dan kembali mencoba meraih kemenangan,” ujarnya.
Namun di balik pernyataan optimistis tersebut, tekanan publik Gelora Bung Tomo tetap terasa kuat. Dukungan Bonek bisa menjadi energi tambahan, tetapi juga berubah menjadi tekanan jika performa tak kunjung membaik.
Pelajaran dari Persija Jakarta
Di sisi lain, PSM Makassar datang dengan modal tak terlihat dalam angka klasemen: pengalaman menghadapi tim besar dengan pendekatan taktis yang mulai terbentuk.
Meski sebelumnya kalah dari Persija Jakarta, permainan PSM justru menunjukkan pola yang berpotensi merepotkan Persebaya.
Dalam laga tersebut, PSM mampu menekan tuan rumah dan menciptakan situasi sulit sepanjang pertandingan. Salah satu gol Persija bahkan lahir dari blunder kiper PSM, Rezky Arya, bukan dominasi permainan total Macan Kemayoran.
Artinya, secara struktur permainan, PSM sebenarnya tidak kalah jauh.
Bagi Tomas Trucha, laga melawan Persija menjadi bahan evaluasi penting. Ia melihat bagaimana timnya mampu bertahan dalam tekanan tinggi sekaligus menciptakan peluang lewat transisi cepat.
Model permainan seperti ini berpotensi menjadi senjata utama menghadapi Persebaya yang sedang rapuh secara mental setelah dua kekalahan beruntun.
Momentum Psikologis
Sepak bola tak hanya soal taktik, tetapi juga momentum psikologis. Persebaya kini berada dalam fase mencari kembali kepercayaan diri, sementara PSM datang dengan motivasi membuktikan diri setelah hasil kurang maksimal.
Kondisi tersebut menciptakan keseimbangan yang unik: tuan rumah unggul dukungan publik, tetapi tim tamu memiliki ruang bermain lebih lepas tanpa tekanan berlebih.
Jika PSM mampu mengulang intensitas permainan seperti saat menghadapi Persija—menekan sejak awal dan memanfaatkan kesalahan lawan—peluang mencuri poin di Gelora Bung Tomo terbuka lebar.
Ujian Dua Pelatih
Pertandingan ini juga menjadi duel ide antara dua pelatih dengan pendekatan berbeda. Bernardo Tavares dituntut menemukan variasi taktik baru, sementara Tomas Trucha mencoba membuktikan bahwa proses adaptasi PSM mulai menemukan bentuknya.
Bagi Persebaya, laga ini adalah kesempatan terakhir menutup Februari dengan cerita positif.
Namun bagi PSM Makassar, pertandingan ini bisa menjadi titik balik musim — dan semuanya berawal dari satu pelajaran penting yang mereka dapat saat menghadapi Persija Jakarta: kalah dalam skor, tetapi menemukan cara bermain yang bisa memenangkan laga berikutnya.




