CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Perundingan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan akan kembali digelar pada awal Maret mendatang. Informasi ini disampaikan oleh seorang pejabat senior Iran yang enggan disebutkan namanya, sebagaimana dilaporkan Reuters pada Minggu (22/2/2026).
Menurut laporan tersebut, terdapat peluang bagi kedua negara untuk mencapai kesepakatan sementara di tengah dinamika pembahasan yang masih berlangsung. Meski demikian, sejumlah perbedaan mendasar masih menjadi tantangan dalam proses negosiasi.
Reuters melaporkan bahwa Teheran dan Washington masih memiliki pandangan berbeda terkait cakupan serta mekanisme pencabutan sanksi Amerika Serikat. Pencabutan sanksi itu diharapkan menjadi imbalan atas pembatasan program nuklir Iran.
Di sisi lain, Iran disebut mempertimbangkan beberapa langkah kompromi. Di antaranya adalah mengekspor sebagian cadangan uranium yang sangat diperkaya, menurunkan tingkat kemurniannya, serta membentuk konsorsium pengayaan uranium di tingkat regional.
Namun, langkah-langkah tersebut hanya akan dijalankan apabila hak Iran untuk melakukan pengayaan uranium secara damai diakui secara resmi.
Pejabat Iran tersebut juga menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerahkan kendali atas sumber daya minyak dan mineralnya. Meski demikian, Iran membuka kemungkinan memberikan akses kepada kontraktor Amerika Serikat untuk terlibat di ladang minyak dan gasnya.
Isu energi dan sumber daya alam ini dinilai menjadi bagian sensitif dalam pembicaraan, mengingat dampak sanksi terhadap sektor vital ekonomi Iran selama beberapa tahun terakhir.
Putaran kedua perundingan nuklir yang dimediasi oleh Oman berlangsung di Jenewa pada 17 Februari lalu. Pertemuan tersebut mempertemukan delegasi dari kedua negara dalam format tidak langsung.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan bahwa kemajuan telah dicapai dalam pembahasan terbaru. Ia menambahkan bahwa kedua pihak sepakat untuk mulai menyusun teks yang dapat menjadi dasar bagi kemungkinan tercapainya kesepakatan.
Meski jalan menuju kesepakatan final masih panjang, sinyal positif dari kedua belah pihak memunculkan harapan baru bagi stabilitas kawasan dan masa depan perundingan nuklir yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/Antara




