Pernah nggak sih, kamu cuma sekali ngomong soal sepatu lari ke teman di WhatsApp, lalu beberapa menit kemudian Instagram dan TikTok penuh dengan iklan sepatu? Atau setelah nonton satu video tentang resep diet, beranda kamu tiba-tiba berubah jadi etalase konten kesehatan? Kita merasa sedang berselancar bebas di internet, memilih tontonan sesuai selera. Padahal diam-diam, ada sesuatu yang bekerja di belakang layar yaitu algoritma. Dan mungkin, tanpa kita sadari, ruang bebas kita kini tidak lagi sepenuhnya bebas.
Kita hidup di era media sosial, di mana informasi mengalir tanpa henti. Tapi aliran itu ternyata bukan sungai alami. Tapi sudah dibentuk, disaring, dan diarahkan. Pertanyaannya sederhana tapi mengusik sejauh mana pilihan kita benar-benar pilihan?
Algoritma Kurator Tak Terlihat di Balik LayarBanyak dari kita membayangkan media sosial sebagai ruang publik digital. Tempat siapa pun bisa bersuara, berdiskusi, atau sekadar berbagi cerita. Tapi sebenarnya, apa yang muncul di beranda bukanlah potret utuh dunia. Itu adalah hasil seleksi.
Algoritma bekerja berdasarkan kebiasaan kita atau apa yang kita klik, tonton sampai habis, beri like, atau komentari. Dari situ, platform memutuskan apa yang cocok untuk kita. Hasilnya? Timeline yang terasa personal, seolah-olah dibuat khusus.
Masalahnya, ketika semuanya terasa cocok, kita jarang mempertanyakan. Kita tidak lagi melihat hal-hal yang berbeda, apalagi yang bertentangan dengan pandangan kita. Tanpa sadar, kita hidup dalam gelembung yang nyaman.
Contohnya sederhana. Jika seseorang sering menonton konten politik dengan sudut pandang tertentu, algoritma akan terus menyajikan narasi serupa. Lama-lama, ia merasa itulah suara mayoritas. Padahal bisa jadi itu hanya potongan kecil dari realitas.
Ruang bebas kita pun menyempit, bukan karena dilarang, tapi karena diarahkan.
Ketika Selera Dibentuk, Bukan DitemukanDulu, kita mengenal lagu baru dari radio atau rekomendasi teman. Sekarang, playlist kita disusun otomatis. Film yang kita tonton dipilihkan. Bahkan berita yang kita baca sudah dikurasi.
Awalnya terasa praktis. Siapa sih yang nggak suka kemudahan? Tapi lama-kelamaan, kita mulai kehilangan momen tersesat yang justru sering membawa kejutan.
Fenomena ini terlihat jelas dalam budaya populer. Lagu yang viral di TikTok mendadak diputar di mana-mana. Film yang trending jadi topik obrolan wajib. Banyak orang menonton bukan karena benar-benar ingin, tapi karena merasa harus tahu agar tidak ketinggalan.
Selera jadi seragam. Tren bergerak cepat, dan kita ikut berlari tanpa sadar siapa yang memulai arah.
Di sisi lain, kreator konten juga terjebak. Demi menjangkau lebih banyak orang, mereka menyesuaikan diri dengan pola algoritma: durasi tertentu, judul sensasional, topik yang sedang ramai. Kreativitas perlahan dikompromikan demi angka views.
Akhirnya, bukan kita yang membentuk platform, tapi platform yang membentuk kita.
Dampaknya ke Rumah dan RelasiAlgoritma tidak hanya memengaruhi apa yang kita tonton, tapi juga cara kita berinteraksi. Di meja makan, satu keluarga bisa duduk bersama tapi masing-masing tenggelam dalam layar. Ayah sibuk dengan berita politik yang terus direkomendasikan, ibu asyik dengan konten belanja online, anak remaja larut dalam FYP.
Masing-masing hidup di dunia digital yang berbeda.
Kadang ini memicu konflik kecil yang terasa besar. Orang tua merasa anak terlalu konsumtif karena sering melihat iklan dan tren. Anak merasa orang tua terlalu keras karena terus membaca konten bernada marah atau provokatif.
Algoritma, secara halus, membentuk emosi kita. Konten yang memancing kemarahan atau keterkejutan biasanya lebih banyak interaksi. Maka, konten seperti itu lebih sering muncul. Kita pun lebih mudah tersulut.
Hubungan jadi lebih tegang, bukan karena masalah nyata, tapi karena informasi yang terus-menerus memancing reaksi.
Ekonomi Perhatian, Kita Produk Sekaligus KonsumenBanyak orang berpikir media sosial itu gratis. Padahal, kita membayar dengan perhatian dan data.
Setiap klik, pencarian, dan durasi menonton adalah data berharga. Dari situ, perusahaan bisa menargetkan iklan dengan sangat spesifik. Inilah yang disebut ekonomi perhatian: semakin lama kita bertahan di layar, semakin besar keuntungan yang dihasilkan.
Lihat saja fenomena live shopping. Seseorang awalnya hanya ingin hiburan, tapi akhirnya tergoda membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Diskon, countdown, komentar pembeli lain semua dirancang agar kita bertahan lebih lama dan akhirnya bertransaksi.
Algoritma tidak jahat. Ia hanya menjalankan fungsi: memaksimalkan keterlibatan. Tapi dalam sistem seperti ini, yang diutamakan bukan kualitas hidup kita, melainkan durasi kita bertahan.
Tanpa sadar, ruang bebas kita berubah menjadi ruang transaksi.
Masih Adakah Ruang untuk Benar-Benar Bebas?Apakah ini berarti kita harus keluar dari media sosial? Tidak sesederhana itu. Platform digital sudah menjadi bagian dari kehidupan modern untuk bekerja, belajar, hingga menjaga relasi.
Namun mungkin yang perlu kita lakukan adalah menyadari bahwa kebebasan digital bukanlah sesuatu yang otomatis ada. Ia harus diupayakan.
Mulailah dengan hal kecil: sesekali cari topik di luar kebiasaan. Ikuti akun dengan sudut pandang berbeda. Batasi waktu layar. Tanyakan pada diri sendiri sebelum membagikan sesuatu: apakah ini benar-benar pemikiran saya, atau hanya reaksi dari apa yang terus saya lihat?
Kesadaran adalah langkah pertama. Ketika kita sadar bahwa algoritma memengaruhi pilihan, kita bisa mulai mengambil kembali kendali.
Ruang bebas mungkin tidak lagi murni seperti dulu. Tapi bukan berarti ia hilang sepenuhnya. Ia hanya perlu diperjuangkan dengan cara yang lebih sadar.
Di tengah derasnya arus konten, mungkin kebebasan sejati hari ini bukan soal bisa melihat apa saja. Melainkan kemampuan untuk memilih dengan sadar apa yang ingin kita lihat, percayai, dan bagikan.
Karena pada akhirnya, algoritma memang bisa mengatur beranda kita. Tapi seharusnya, ia tidak mengatur cara kita berpikir.





