Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah China menanggapi putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Donald Trump.
Juru Bicara Kementerian Perdagangan China menyebut, pihaknya akan memantau ketat langkah pemerintahan Presiden Donald Trump yang berencana melanjutkan kebijakan tarif melalui instrumen lain. Kementerian Perdagangan China juga mengatakan Beijing saat ini melakukan evaluasi komprehensif atas implikasi putusan tersebut.
“Kami juga mencatat bahwa pihak AS sedang menyiapkan langkah alternatif, seperti investigasi perdagangan, dalam upaya mempertahankan tarif terhadap mitra dagang. China akan memantau perkembangan ini secara saksama dan dengan tegas melindungi kepentingannya sendiri,” ujarnya dalam pernyataan resmi sebagaimana dikutip dari Bloomberg, Senin (23//2/2026).
Komentar resmi pertama China itu disampaikan beberapa hari setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif global besar-besaran yang diterapkan Trump. Presiden AS tersebut kemudian menyatakan akan kembali memberlakukan tarif global 15% serta menjanjikan investigasi perdagangan baru.
Indikator utama saham perusahaan China yang tercatat di Hong Kong sempat melonjak hingga 2,6% pada perdagangan Senin pagi. Meski Trump mengumumkan pungutan baru, Bloomberg Economics menghitung tarif efektif rata-rata yang berlaku akan berada di kisaran 12% — terendah sejak kebijakan tarif “Liberation Day” diumumkan pada April lalu.
Sebelumnya, investigasi berdasarkan Section 301 dan Section 232 telah digunakan untuk mengenakan bea masuk atas ekspor China, termasuk produk otomotif dan logam. Otoritas hukum alternatif tersebut dinilai dapat memberi Gedung Putih ruang untuk tetap menerapkan pajak impor tambahan meskipun ada putusan pengadilan.
Baca Juga
- Tarif Trump Dianulir, Kesepakatan Dagang dengan China hingga RI Batal?
- AS Tegaskan Perjanjian Dagang Tetap Berlaku Usai MA Batalkan Tarif Trump
- Polemik Kesepakatan Dagang Prabowo-Trump hingga Besarnya Ekspor RI ke Pasar AS
Namun demikian, bagi China — yang juga melihat tarif 10% terkait fentanyl dibatalkan oleh pengadilan — tekanan terhadap ekspor kini relatif berkurang. Beijing kembali menyerukan agar AS mencabut tarif sepihak karena dinilai tidak menguntungkan pihak mana pun.





