Di sekitar kawasan Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, denyut pagi biasanya dimulai sejak matahari belum tinggi. Aroma nasi uduk, lontong sayur, dan nasi rames bercampur dengan lalu lalang pegawai kantor yang berburu sarapan sebelum masuk kerja.
Namun suasana itu berubah saat Ramadan tiba.
Andari, pemilik warung makan "Wa Enday" di sekitar stasiun, kini tak lagi membuka lapaknya sejak subuh. Jika hari biasa ia sudah menanak nasi dan menyiapkan lauk sejak pukul 05.30 WIB, selama bulan puasa ia baru 'buka' sekitar pukul 12.00 WIB. Itu pun bukan benar-benar buka seperti hari biasa.
“Orang nerima pesenan-pesenan doang. Lontong isi aja,” ujar Andari saat ditemui kumparan di warungnya, Senin (23/2) pagi.
Lontong isi adalah varian lontong yang di dalamnya sudah diberi tumisan lauk, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus hingga matang — sedikit mirip arem-arem.
Di hari normal, menu Andari cukup lengkap; nasi uduk, lontong sayur, nasi rames, hingga aneka gorengan. Pukul 08.00 WIB biasanya menjadi puncak keramaian. Pegawai kantor di sekitar stasiun berdatangan untuk sarapan cepat sebelum mulai bekerja. Warungnya tutup sekitar pukul 15.00 WIB setelah dagangan habis.
Ramadan mengubah pola itu. Pembeli sarapan hilang. Aktivitas perkantoran di sekitar lokasi juga belum sepenuhnya pulih karena gedung yang berada tepat di depan warung tengah direnovasi, membuat banyak pekerja pindah sementara.
Lontong Isi Rp 2.500Alih-alih menutup total, Andari tetap berjualan meski sederhana. Ia hanya membuat lontong isi, tanpa nasi uduk, tanpa rames. Harganya Rp 2.500 per buah. Dalam sehari, ia memasak sekitar dua liter beras untuk lontong, menyesuaikan pesanan pelanggan tetap.
“Paling ada yang pesan lima, sepuluh (orang). Yang kenal-kenal aja,” tuturnya.
Pesanan biasanya datang dari pegawai kantor yang sudah lama menjadi pelanggan. Mereka memesan lewat ponsel, lalu mengambilnya untuk bekal berbuka pada sore hari. Jika sudah habis, Andari tak menambah produksi.
“(Hari biasa) jam tigaanlah udah rapi. Kalau puasa, ya abis, nah udah (warung tutup). Jam tiga, jam empat kalau abis, ya udah. Enggak dagang lagi,” lanjut dia.
Sarana Terus BergerakAndari hidup sendiri setelah anak-anaknya berkeluarga. Warung kecil itulah satu-satunya sumber penghasilan.
“Cukup buat sendiri doang. Janda, hidup sendirian,” ujarnya pelan.
Bagi Andari, berjualan di Ramadan bukan semata soal keuntungan. Meski pemasukan tak sebesar hari biasa, ia tetap memilih berjualan. Baginya, tetap bergerak lebih penting daripada berdiam diri di rumah.
“Daripada enggak bergerak, tiduran mulu, enggak ada kegiatan. Udah tua begini kan ada penyakit, ada gula,” terang Andari.
Di deretannya, sejumlah warteg tetap buka seperti biasa, bahkan ada yang beroperasi hampir 24 jam. Pedagang musiman pun bermunculan menjelang sore, kata dia, menjajakan es dan makanan takjil. Ramadan memang memindahkan pusat keramaian dari pagi ke jelang berbuka.





