Harga Cabai Rawit Melonjak, Pemerintah Pasok Pasar

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Fityan

TVRINews - Jakarta

BPS mencatat kenaikan harga di 230 daerah saat Kementerian Pertanian mulai melakukan intervensi pasar.

Lonjakan harga cabai rawit merah menjadi motor utama kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di berbagai wilayah Indonesia sepanjang Februari 2026. 

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan eskalasi harga yang signifikan baik secara nilai maupun luasan wilayah yang terdampak.

Hingga pekan ketiga Februari, tercatat sebanyak 230 kabupaten/kota mengalami kenaikan IPH. Angka ini meningkat dari pekan sebelumnya yang hanya mencakup 199 daerah. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengonfirmasi bahwa komoditas cabai rawit memberikan kontribusi kenaikan yang sangat menonjol.

"Cabai rawit ini mengalami peningkatan yang tergolong cukup tinggi sekali," ujar Ateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang disiarkan secara daring, Senin 23 Februari 2026.

Disparitas Harga yang Tajam

Berdasarkan catatan otoritas statistik, harga rata-rata nasional cabai rawit pada pekan kedua Februari melambung hingga 19,89 persen, bergerak dari Rp57.492 menjadi Rp68.928 per kilogram. Gejolak harga ini kini menyentuh hampir 60 persen wilayah di Indonesia.

Namun, tantangan terbesar terletak pada ketimpangan harga antarwilayah yang sangat lebar. Di saat beberapa daerah masih mencatat harga Rp23.000 per kilogram, wilayah pedalaman seperti Kabupaten Nduga, Papua, harus menghadapi harga ekstrem.

"Harga tertingginya sampai Rp200 ribu. Ini di Kabupaten Nduga," tambah Ateng.

Kendala Logistik dan Momentum Ramadan

Pemerintah mengidentifikasi bahwa hambatan pasokan di sejumlah sentra produksi menjadi akar masalah. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, 

Agung Sunusi, menjelaskan bahwa meskipun panen telah dimulai di 21 kabupaten/kota, distribusinya belum merata ke seluruh pasar nasional.

Salah satu kendala unik terjadi di Lombok Timur, NTB, yang merupakan salah satu lumbung cabai nasional. Faktor sosiokultural menjelang bulan suci Ramadan menyebabkan aktivitas pemetikan di tingkat petani sempat terhenti.

"Ada permasalahan historikal di sana, di mana tiga hari sebelum puasa tidak ada aktivitas pemetikan," jelas Agung. Ia memproyeksikan situasi akan kembali normal dalam satu pekan setelah puasa dimulai.

Langkah Intervensi Pemerintah

Guna meredam volatilitas harga, Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satgas Pangan telah memulai aksi "guyur pasokan" ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, sejak 19 Februari. Pasar ini dipilih karena statusnya sebagai barometer harga pangan nasional.

Skema intervensi ini melibatkan para petani binaan (champion) untuk menyuplai pasokan langsung ke pasar induk. Pemerintah menetapkan struktur harga yang terkendali:

•    Harga di tingkat petani: Rp50.000 per kg.
•    Harga di pedagang pasar induk: Rp55.000 per kg.
•    Target harga konsumen: Rp60.000 – Rp65.000 per kg.

Melalui penguatan stok dan mulainya puncak panen raya di sejumlah sentra dalam dua pekan ke depan, pemerintah optimis tekanan inflasi dari komoditas cabai akan melandai secara bertahap.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Barcelona vs Levante di La Liga Malam Ini, Kick-off Pukul 22.15 WIB
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
IHSG Hari Ini (23/2) Berpeluang Menguat, Cek Saham IMPC, ARCI, hingga VKTR
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Grand Mercure Malang Mirama dan Baznas Gelar Gebyar Lailatul Qadar: Berbagi Kebahagiaan dengan 1.000 Anak Yatim & Piatu
• 3 jam laluerabaru.net
thumb
Sorot Kebijakan Mardiono Pasca-Muktamar PPP, Putra Mbah Moen: Jauh dari Harapan Kiai
• 18 jam lalujpnn.com
thumb
Cuaca 23 Februari 2026: Jakarta Diguyur Hujan Seharian, Kepulauan Seribu Berpotensi Petir
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.