Analis Perkirakan Sentimen Positif Global Belum Berdampak Signifikan ke IHSG

medcom.id
5 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Pasar saham global, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, ditutup menguat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan kebijakan tarif darurat era Donald Trump. 
 
Keputusan ini memicu optimisme pelaku pasar terhadap prospek perdagangan global, seiring ekspektasi penurunan biaya impor di AS dan potensi perbaikan margin perusahaan.
 
Indeks S&P 500 pada akhir pekan lalu tercatat naik sekitar 0,7 persen. Di Eropa, indeks CAC 40 Prancis menguat sekitar 1,4 persen, sementara DAX Jerman bertambah 0,9 persen pada periode yang sama.
 
Baca juga: Presiden Prabowo dan Trump Sepakati Perjanjian Dagang RI–AS

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menuturkan sentimen positif tersebut diperkirakan berpotensi menular ke pasar saham Asia pada awal pekan ini. 

Dia menuturkan investor diperkirakan kembali memburu aset berisiko (risk on), khususnya pada saham-saham berorientasi ekspor, sektor siklikal, serta saham teknologi yang sensitif terhadap perbaikan prospek perdagangan global.
 
“Namun demikian, ruang penguatan pasar keuangan Indonesia dinilai relatif lebih terbatas dibandingkan kawasan lainnya. Pelaku pasar masih mencermati sejumlah isu struktural, termasuk sorotan terhadap aspek investability serta revisi prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif,” tegas dia. 
 
Dengan kondisi tersebut, arus dana asing dan kinerja aset berisiko di Indonesia diperkirakan akan sangat bergantung pada respons kebijakan domestik serta sinyal perbaikan tata kelola ke depan. Perkembangan faktor-faktor tersebut akan menjadi kunci untuk menentukan arah pasar dalam jangka pendek maupun menengah.
 
Sementara itu PDB Indonesia tumbuh 5,4% YoY pada 4Q25, membawa pertumbuhan 2025 menjadi 5,1%, dengan konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor neto semuanya mendukung momentum, sementara pemerintah menargetkan 5,5 hingga 6,0% YoY pada 1Q26 melalui pengeluaran awal sekitar IDR809tr dan program sosial seperti skema MBG untuk memperkuat daya beli.
 
Pembuat kebijakan juga menjadikan tahun 2026 sebagai "tahun peningkatan" untuk investasi, dengan Danantara sebagai pusat utama untuk menggerakkan modal swasta ke sektor hilir, infrastruktur, dan perumahan, termasuk enam proyek Tahap I senilai sekitar USD7 miliar (IDR118 triliun) di bidang biofuel, pengolahan logam, garam industri, dan fasilitas unggas terintegrasi.
Kombinasi dukungan konsumsi yang kuat, pelaksanaan anggaran yang dipercepat, dan ekspansi proyek hilir yang terkait dengan Danantara mendasari sikap konstruktif jangka pendek terhadap nama-nama yang berorientasi domestik dalam cakupan kami. 
 
Penerima manfaat sisi permintaan yang paling langsung adalah di sektor unggas dan telekomunikasi/infrastruktur telekomunikasi, yang seharusnya mendapatkan keuntungan dari pengeluaran rumah tangga yang lebih kuat, aliran kas pedesaan yang lebih baik, dan peluncuran jaringan serta infrastruktur yang berkelanjutan, sementara kami juga melihat potensi kenaikan selektif pada nama-nama yang terpapar hilir dan komoditas.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran & AS Memanas! Jerman, Swedia hingga Serbia Minta Warganya Tinggalkan Teheran
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Cuaca 23 Februari 2026: Jakarta Diguyur Hujan Seharian, Kepulauan Seribu Berpotensi Petir
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Insiden Longsor di IMIP Morowali Renggut Korban Jiwa, KLH Kaji Pencabutan Izin
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Cara Gunakan Pintar.bi.go.id untuk Penukaran Uang, Ini Langkah dan Syaratnya
• 6 jam lalumedcom.id
thumb
Menag Nasaruddin Datangi KPK Jelaskan Soal Kunker ke Sulsel Pakai Pesawat Khusus
• 4 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.