ALFI Dorong Reformasi Logistik untuk Jaga Harga Pangan Ramadhan

republika.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Stabilitas harga bahan kebutuhan pokok menjadi fokus utama pemerintah dan dunia usaha sepanjang periode Ramadhan dan Idul Fitri. Momentum musiman ini kerap memicu tekanan inflasi pangan akibat tingginya permintaan pada komoditas volatile food yang menjadi konsumsi utama masyarakat.

Pelaku usaha logistik rantai pasok menilai stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok perlu ditopang reformasi rantai pasok yang terintegrasi.

Baca Juga
  • Gandeng Universitas Pamulang, Bank Muamalat Dorong Literasi Keuangan Syariah
  • Antrean Penukaran Uang Baru Membludak di Pasar Raya Padang
  • Sinergi Perlindungan Anak dan Keamanan Publik: Respons Tragedi Sukabumi hingga Cegah Tawuran

Ketua Dewan Pembina DPP (Asosiasi Logistik & Forwarder Indonesia) sekaligus Senior Vice President FIATA (International Federation of Freight Forwarders Associations) Yukki Nugrahawan Hanafi menilai stabilitas harga bahan pangan pada periode musiman Ramadhan dan Idul Fitri merupakan isu tahunan yang memerlukan pendekatan struktural dan strategis, khususnya dari sisi logistik rantai pasok.

“Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan langkah penting yang sudah dilakukan sebagai bagian intervensi jangka pendek dalam meredam volatilitas harga bahan pokok. Namun secara struktural dan jangka panjang, stabilitas harga juga merupakan hasil dari sistem rantai pasok yang efisien, terintegrasi, dan transparan,” ujarnya melalui keterangan, Senin (23/2/2026).

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Lebih lanjut, Yukki melihat dari perspektif makroekonomi, harga yang stabil menciptakan kepastian usaha, visibilitas permintaan, kepercayaan investor, serta perlindungan daya beli masyarakat. Sementara dari perspektif logistik rantai pasok, volatilitas harga sering dipicu disrupsi arus perdagangan, ketidakseimbangan supply-demand antarwilayah, bottleneck transportasi dan pelabuhan, serta keterbatasan visibilitas data rantai pasok.

“Pengendalian inflasi pangan tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan trade flows, freight cost, port performance, dan governance. Ke depan, penguatan tata kelola rantai pasok harus menjadi agenda bersama pemerintah melalui penguatan kolaborasi dengan dunia usaha dan berbagai stakeholder relevan di sektor logistik,” tambah Yukki.

 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Panduan Lengkap Cara Tukar Uang BI, Simak Syaratnya
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Industri Haji dan Umrah di Persimpangan: Antara Bisnis, Amanah, dan Regulasi
• 3 jam laluharianfajar
thumb
Pramono Ungkap Penyebab Bus Transjakarta Adu Banteng di Jalur Langit Koridor 13 hingga Sebabkan 23 Orang Terluka
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Ramadan 2026, Vasaka Hotel Hadirkan Promo Iftar dengan Sajian Lokal Nusantara dan Timur Tengah
• 9 jam laluterkini.id
thumb
Pemerintah Gelar Imlek Nasional, Hadirkan Harmonisasi di Tengah Ramadan
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.