JAKARTA, KOMPAS.TV - Di tengah pemanasan global dan kampanye pengurangan sampah plastik yang kian masif, mungkin Anda pernah berpikir "Untuk apa kita repot-repot menjaga alam jika kiamat sudah pasti terjadi?"
Ustaz Fatih Risyad menjawab pertanyaan itu dalam tayangan Tanya Pak Ustaz di kanal YouTube Kalam Hati.
Ia menjelaskan, kiamat memang perkara gaib yang wajib diimani, tetapi kewajiban percaya pada hari akhir bukan berarti seseorang boleh abai terhadap kondisi bumi saat ini.
Ia mengutip pesan mendalam Rasulullah SAW tentang biji kurma.
"Seandainya besok kiamat dan di tangan Anda ada biji kurma, maka tanamlah! Padahal logikanya, kalau ditanam sekarang, besok kiamat, kita nggak sempat makan buahnya. Tapi intinya bukan soal hasil, melainkan soal melakukan yang terbaik selama masih bernapas," jelasnya.
Baca Juga: Bagaimana Hukum Childfree dalam Islam? Ini Kata Ustaz Fatih Risyad
Fatih mengatakan, setiap usaha manusia untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi sampah nonorganik, adalah bentuk amal saleh yang bernilai pahala di mata Allah SWT.
Selain itu, kata dia, tempat yang bau busuk, kotor, dan lembap adalah lokasi favorit setan.
"Ciri Islam seseorang itu baik adalah ketika ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Normalisasi selokan atau mengurangi plastik itu positif. Kecuali kalau Anda memang senang hidup gelap-gelapan dan kotor, itu mah demenan setan," ucapnya.
Ia juga membagikan kaidah hidup orang Betawi kuno yang sangat relevan dengan kerja keras dan ibadah.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- kiamat
- hubungan menjaga alam dan kiamat
- kalam hati
- islam
- menjaga alam
- sampah plastik




