EtIndonesia. Ini adalah sebuah kisah nyata yang terjadi di Amerika Serikat.
Pada suatu malam yang diguyur hujan deras disertai angin kencang, sepasang suami istri lanjut usia memasuki lobi sebuah hotel dengan harapan dapat menginap semalam.
Namun, petugas resepsionis shift malam berkata dengan sopan : “Mohon maaf, seluruh kamar hotel sudah dipesan penuh oleh rombongan yang datang untuk menghadiri konferensi sejak pagi hari.
Biasanya, jika terjadi kondisi seperti ini, saya akan mengantar tamu ke hotel lain yang menjadi hotel cadangan. Namun, saya sungguh tidak tega membiarkan Anda berdua harus kembali kehujanan di tengah badai. Bagaimana jika Anda menginap di kamar saya saja?
Memang bukan kamar mewah, tetapi cukup bersih. Saya sendiri harus tetap berjaga, jadi saya bisa beristirahat di kantor.”
Pemuda itu menyampaikan usulan tersebut dengan sangat tulus.
Pasangan lansia itu dengan lapang dada menerima tawarannya dan meminta maaf karena telah merepotkannya.
Keesokan harinya, cuaca cerah kembali. Ketika pasangan tua itu hendak melakukan pembayaran, dia mendapati bahwa petugas di meja resepsionis masih orang yang sama seperti malam sebelumnya.
Dengan ramah, petugas itu berkata: “Kamar yang Anda tempati tadi malam bukanlah kamar tamu hotel, jadi kami tidak akan memungut biaya apa pun. Semoga Bapak dan Ibu dapat beristirahat dengan nyenyak tadi malam.”
Pria tua itu mengangguk sambil tersenyum dan berkata: “ Anda adalah tipe karyawan yang diimpikan oleh setiap pemilik hotel. Mungkin suatu hari nanti aku akan membangun sebuah hotel untukmu.”
Beberapa tahun kemudian, petugas hotel itu menerima sepucuk surat tercatat dari seorang pria. Dalam surat tersebut, sang pengirim menceritakan kembali kejadian pada malam hujan badai itu. Bersama surat tersebut, dia juga menyertakan sebuah undangan serta tiket pesawat pulang-pergi ke New York, mengundangnya untuk berkunjung ke sana.
Beberapa hari setelah tiba di Manhattan, mantan petugas hotel itu bertemu kembali dengan tamu lama tersebut di persimpangan Fifth Avenue dan 34th Street. Di sana berdiri sebuah gedung baru yang sangat megah.
Pria tua itu berkata: “Inilah hotel yang kubangun untukmu. Aku berharap engkau bersedia mengelolanya. Masih ingat janjiku?”
Petugas hotel itu terkejut bukan main. Dia bahkan terbata-bata saat berbicara: “Apakah Anda memiliki syarat tertentu? Mengapa Anda memilih saya? Sebenarnya, siapa Anda?”
“Aku bernama William Waldorf Astor. Aku tidak memiliki syarat apa pun. Aku sudah mengatakan sejak awal, engkau adalah karyawan yang selama ini aku impikan.”
Hotel tersebut adalah Hotel Waldorf (Waldorf Astoria), yang mulai beroperasi pada tahun 1931. Hotel ini menjadi simbol kemewahan tertinggi di New York dan merupakan pilihan utama bagi para pemimpin dunia dan pejabat tinggi internasional saat berkunjung ke kota tersebut.
Sementara itu, petugas hotel yang menerima pekerjaan tersebut adalah George Boldt, sosok penting yang meletakkan fondasi kejayaan Hotel Waldorf selama satu abad.
Sikap apakah yang membuat seorang petugas hotel mampu mengubah arah hidupnya?
Tidak diragukan lagi, dia bertemu dengan seorang “penolong besar” dalam hidupnya. Namun, jika pada malam itu petugas yang bertugas adalah orang lain, apakah hasilnya akan sama?
Dalam kehidupan ini, terdapat begitu banyak pertemuan dan kesempatan. Setiap kesempatan bisa saja mendorong kita menuju puncak yang lebih tinggi. Jangan pernah meremehkan siapa pun, dan jangan pernah melewatkan kesempatan untuk menolong orang lain. Belajarlah memperlakukan setiap orang dengan tulus, melakukan setiap pekerjaan dengan sebaik-baiknya, dan menyambut setiap kesempatan dengan penuh rasa syukur.
Percayalah, kita sendirilah penolong terbesar bagi diri kita sendiri.
Renungan
Ada ungkapan dari para tokoh sukses: “Kesempatan hanya datang kepada mereka yang siap.”
Kesempatan itu bisa berupa waktu yang diberikan oleh Tuhan, atau peluang yang diberikan oleh orang-orang baik di sekitar kita. Namun sebelum kesempatan itu datang, kita harus lebih dahulu memiliki kualitas diri yang pantas menerimanya. Hanya dengan begitu, kesempatan akan tertarik mendekat kepada kita.
Kisah ini membuktikan pepatah: Tuhan menolong mereka yang menolong dirinya sendiri. Seseorang yang sungguh-sungguh mengerjakan setiap tugas dengan sepenuh hati, itulah jalan sejati menuju kesuksesan.
Ada orang yang setiap hari mengeluh merasa dirinya berbakat, tetapi tidak pernah bertemu dengan “orang penolong” dalam hidupnya. Mereka lupa bahwa sikap sombong, memandang rendah orang lain, dan terlalu tinggi menilai diri sendiri justru telah mengusir semua kesempatan baik.
Seperti yang dikisahkan dalam cerita ini: tamu yang sama, namun jika petugas hotel malam itu adalah orang lain, kemungkinan besar kisah ini tidak akan pernah terjadi.(jhn/yn)





