FAJAR, BANDUNG — Persaingan menuju gelar juara Super League 2025/2026 semakin menyerupai lomba ketahanan mental. Bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga konsistensi di tengah liga yang sulit diprediksi.
Akhir pekan ini, Persib Bandung kembali menemukan momentumnya. Kemenangan tipis 1-0 atas Persita Tangerang di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Minggu malam, membawa Pangeran Biru tetap berdiri di puncak klasemen dengan 50 poin. Namun kemenangan itu terasa semakin bernilai karena hasil di tempat lain berjalan searah.
Pada waktu yang hampir bersamaan, Borneo FC Samarinda justru tersungkur. Pesut Etam takluk 1-2 dari Dewa United Banten FC, gagal menambah poin, dan secara tidak langsung memberi ruang napas bagi Persib dalam persaingan papan atas.
Situasi klasemen pun berubah menjadi lebih tegang. Persija Jakarta kini menjadi bayangan paling dekat, hanya terpaut tiga poin dari Persib. Perebutan gelar perlahan mengerucut menjadi duel dua kekuatan besar, sementara pesaing lain mulai kehilangan momentum.
Pelatih Persib, Bojan Hodak, menyambut hasil tersebut dengan nada hati-hati. Baginya, kekalahan Borneo memang menguntungkan, tetapi bukan alasan untuk merasa aman.
“Ini tentu baik bagi kami karena Borneo kalah, tetapi kami harus tetap fokus pada hasil kami sendiri,” ujarnya seusai pertandingan.
Nada bicara Hodak mencerminkan pengalaman panjangnya menghadapi kompetisi Indonesia—liga yang menurutnya tidak pernah memberi ruang nyaman bagi siapa pun, bahkan bagi tim pemuncak klasemen.
Ia berulang kali menegaskan bahwa Super League bukan kompetisi yang bisa diprediksi hanya lewat posisi klasemen. Jarak perjalanan yang panjang, atmosfer laga tandang, hingga karakter permainan yang keras membuat setiap pertandingan memiliki risiko yang sama.
“Liga Indonesia itu sangat sulit. Tidak mudah memainkan pertandingan tandang. Siapa pun bisa mengalahkan siapa pun,” katanya.
Pengalaman musim ini menjadi bukti nyata. Persib pernah tergelincir saat menghadapi Persijap Jepara—tim yang kini berada di zona bawah klasemen. Kekalahan 1-2 di awal musim menjadi pengingat bahwa status unggulan tidak menjamin kemenangan.
Hal serupa terjadi ketika mereka ditahan Persik Kediri dan PSIM Yogyakarta. Laga-laga tersebut, menurut Hodak, menunjukkan bahwa ancaman terbesar sering datang justru dari tim yang secara peringkat dianggap lebih lemah.
Beberapa poin yang hilang itu kini terasa mahal di tengah persaingan ketat dengan Persija Jakarta. Setiap kesalahan kecil berpotensi mengubah arah perebutan gelar.
Di balik posisi puncak yang terlihat kokoh, Persib sebenarnya sedang berjalan di atas garis tipis. Tekanan bukan hanya datang dari lawan di lapangan, tetapi juga dari klasemen yang terus bergerak.
Persija yang perlahan mendekat membuat setiap pertandingan berubah menjadi final kecil. Tidak ada lagi ruang untuk kehilangan fokus.
“Inilah yang membuat liga ini menarik,” kata Hodak. “Siapa pun bisa mengalahkan siapa pun.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sekaligus menggambarkan realitas kompetisi: gelar juara bukan hanya milik tim terbaik, melainkan tim yang paling mampu bertahan dari ketidakpastian.
Dan di tengah perlombaan yang semakin ketat, Persib kini tidak hanya berusaha menang—mereka berusaha tidak terpeleset.





