EtIndonesia. Ada seorang hartawan. Dengan uangnya, dia bisa membeli hampir apa pun yang dia inginkan. Namun anehnya, dia justru merasa semakin tidak bahagia.
Dia yakin dirinya menderita depresi.Dia menemui banyak dokter terkenal, tetapi kehampaan di dalam hatinya tetap menyiksanya siang dan malam.
Suatu hari, dia mendengar kabar bahwa di sebuah pantai terpencil tinggal seorang dokter yang sangat hebat. Dia pun memutuskan untuk pergi berobat ke sana.
Setelah mendengarkan keluhannya, dokter itu berkata: “Aku punya resep yang sangat baik, dan aku jamin manjur.”
Lalu sang dokter menyerahkan tiga bungkus kertas kepadanya.
Dokter berpesan: “Di dalam masing-masing bungkus ini ada satu dosis obat. Minumlah satu bungkus setiap hari. Namun ingat baik-baik, obat ini harus diminum di pantai, barulah akan berkhasiat.”
Hartawan itu setengah percaya, setengah ragu. Begitu meninggalkan ruang dokter, dia langsung menuju pantai dan membuka bungkus pertama.
Di dalamnya tidak ada apa-apa, hanya tertulis beberapa kata: “Berbaringlah di pantai selama tiga puluh menit.”
Dia merasa seperti dipermainkan. Namun dia berpikir, tidak ada ruginya mencoba, lalu menuruti petunjuk itu dan berbaring di pasir.
Awalnya, pikirannya dipenuhi rasa tidak bahagia. Namun perlahan-lahan, dia mulai mendengar debur ombak, mencium asin air laut, dan melihat awan di langit biru yang berubah bentuk tertiup angin sejuk.
Dia terus berbaring di sana, hingga matahari mulai tenggelam. Saat itu barulah dia sadar bahwa dia telah berbaring jauh lebih dari tiga puluh menit.
Obat Kedua
Keesokan harinya, dia kembali ke pantai dan membuka bungkus kedua.
Isinya tetap kosong, hanya tertulis: “Carilah lima ikan kecil yang terdampar di pantai, lalu kembalikan mereka ke laut.”
Dia melakukannya.
Entah mengapa, ketika melihat ikan-ikan kecil yang hampir mati itu kembali ke laut dan seketika berenang dengan lincah, dia tiba-tiba merasa hatinya sedikit lebih ringan.
Dia pun melemparkan satu ikan, lalu ikan berikutnya, dan seterusnya.
Obat Ketiga
Pada hari ketiga, dia membuka bungkus terakhir.
Di dalamnya tertulis: “Tuliskan semua kegelisahanmu di atas pasir pantai.”
Dia mengambil sebatang ranting kecil dan mulai menulis di pasir: hubungannya dengan sang istri yang semakin dingin, anak-anak yang tidak mau mendengarkan, urusan bisnis bulan lalu yang gagal…
Dia menulis begitu banyak hingga merasa lelah. Dia pun berdiri tegak dan menatap deretan kegelisahan yang tertulis di pasir.
Tiba-tiba, sebuah ombak besar datang menerjang, lalu dengan cepat surut kembali.
Dengan terkejut, dia melihat bahwa pasir yang tadi penuh dengan tulisan kegelisahan kini kembali rata, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa.
Makna di Balik Cerita
Depresi seakan telah menjadi penyakit peradaban modern. Bahkan jika kita tidak benar-benar menderita depresi, hampir setiap orang pernah merasakan murung, seakan ada batu besar menekan dada.
Namun sesungguhnya, yang bisa menggeser batu itu hanyalah diri kita sendiri.
Obat pertama dalam cerita ini adalah istirahat. Dokter meminta sang hartawan berbaring di pantai, bukan hanya agar tubuhnya rileks, tetapi juga agar pikiran yang kusut mendapat ruang untuk beristirahat.
Obat kedua adalah memberi. Tak peduli apakah yang kita bantu adalah manusia atau hewan, kita sendiri akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar.
Hanya dengan memberi sedikit waktu, kita bisa mendapatkan hati yang lebih penuh dan bermakna—bukankah itu sangat berharga?
Obat ketiga adalah waktu. Kamu mungkin berkata, melepaskan itu tidak mudah. Kalau begitu, serahkan saja pada waktu.
Karena waktu itu seperti ombak yang meratakan pasir pantai— betapa pun dalamnya luka, perlahan akan memudar seiring berjalannya waktu.(jhn/yn)





