Sutradara Ryan Adriandhy kembali menggarap film anak-anak lewat proyek terbarunya, Na Willa. Film ini mengisahkan kehidupan sehari-hari seorang gadis kecil berusia empat tahun, Na Willa (Luisa Adreena), yang tinggal di sebuah gang di pinggiran Kota Surabaya. Karya tersebut diadaptasi dari novel berjudul sama karya Reda Gaudiamo.
Dalam proses adaptasi ke layar lebar, Ryan Adriandhy menekankan pentingnya menghormati pembaca setia novel aslinya. Ia pun melakukan konsultasi intensif dengan Reda selaku penulis untuk meramu ulang struktur cerita yang semula bersifat slice of life menjadi narasi film yang lebih utuh.
“Ketika melakukan pendekatan adaptasi, kita sadar betul bahwa material asalnya sudah punya pembaca. Jadi saat proses pengerjaan naskah, tentunya Bu Reda terlibat karena beliau pemilik karakternya, aku konsultasi panjang lebar,” kata Ryan dalam konferensi pers peluncuran trailer dan poster Na Willa di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (12/2).
Ryan Adriandhy Ungkap Cara Perkuat Visualisasi Dunia Na WillaRyan menjelaskan, diskusi tersebut juga mencakup pengembangan karakter agar masing-masing memiliki fungsi yang jelas dalam alur film.
Untuk memperkuat visualisasi dunia Na Willa, Reda bahkan membagikan foto-foto masa kecilnya kepada Ryan. Hal itu membantu sang sutradara memahami sudut pandang dan atmosfer cerita secara lebih mendalam.
“Bu Reda memberikan ‘pandora box’ berupa foto-foto masa kecilnya. Jadi lebih dari sekadar pembaca Na Willa, aku bisa benar-benar melihat seperti apa dunianya,” tutur Ryan.
Selain itu, keduanya sepakat mempertahankan latar tahun 1960-an demi menjaga konteks pertumbuhan karakter. Reda menilai penggunaan dialog atau situasi yang terlalu modern justru akan menghilangkan esensi cerita.
“Saya dan Ryan sepakat mempertahankan setting tahun 60-an. Kalau dialognya terlalu modern, itu bisa mengacaukan semuanya,” ucap Reda.
Ryan menambahkan bahwa latar era tersebut menjadi elemen penting dalam membangun konflik dan perkembangan karakter.
“Kalau misalnya ‘Farida bolos sekolah’ di zaman sekarang mungkin tinggal bilang ‘aku Zoom aja’, selesai. Enggak ada pertumbuhan karakter. Mak ke pasar juga tinggal belanja online, enggak seru,” ungkap Ryan.
Secara sisi kreatif, Ryan ingin menghadirkan Surabaya tahun 1960-an sebagaimana dilihat oleh anak kecil. Ia menekankan bahwa perspektif anak berbeda dengan orang dewasa, sehingga dunia yang ditampilkan terasa lebih besar, imajinatif, dan penuh makna.
“Dulu waktu kecil, sekolahku terasa besar sekali. Pas datang lagi sebagai alumni, ternyata biasa saja. Makanya film ini bukan sekadar tentang anak enam tahun di Surabaya tahun 60-an, tapi tentang Surabaya tahun 60-an yang dilihat dari sudut pandang anak enam tahun. Itu yang membedakan visi kreatifnya,” ucap Ryan.
Film produksi Visinema Pictures ini dijadwalkan tayang di bioskop pada Lebaran 2026 dan diharapkan menjadi tontonan keluarga yang hangat di momen perayaan tersebut.





