JAKARTA, KOMPAS.com- Di tengah riuh kendaraan bermotor dan deru ojek online di Pasar Senen, Jakarta Pusat, sebuah becak berwarna hijau dengan rangka kuning masih setia terparkir di tepi trotoar.
Di atasnya duduk Susanto (56), yang akrab disapa Yanto.
Sudah sekitar 40 tahun ia mengayuh becak di kawasan itu, dari masa ketika becak masih mendominasi jalanan ibu kota hingga kini saat keberadaannya kian terpinggirkan.
“Usia saya 56 tahun, kelahiran 1970,” kata Yanto saat ditemui Kompas.com, Jumat (20/2/2026).
Baca juga: Di Tengah Modernisasi Jakarta, Becak Masih Bertahan di Pasar Senen
Ia mengaku mulai menarik becak sejak masih bujangan. Kini, rambutnya mulai memutih dan wajahnya dipenuhi garis usia. Namun rutinitasnya nyaris tak berubah, mengayuh becak demi menyambung hidup.
Selama empat dekade, Yanto hanya mangkal di Pasar Senen. Ia tidak pernah mencoba peruntungan di lokasi lain.
“Di Senen saja. Tidak pernah mangkal di tempat lain,” ujar dia.
Baginya, kawasan ini bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang hidup yang membesarkannya.
Yanto biasanya mulai bekerja sekitar pukul 14.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Ia memilih siang hari karena menurutnya pagi lebih banyak orang beraktivitas kerja.
“Biasanya orang selesai aktivitas sekitar jam 12 siang, baru ada yang naik,” kata Yanto.
Penumpangnya kini tak lagi seramai dulu. Ia mengandalkan pelanggan tetap yang sudah mengenalnya bertahun-tahun.
“Ada, tapi kebanyakan langganan,” ujar Yanto.
Dalam sehari, ia bisa membawa pulang Rp 150.000 hingga Rp 200.000. Jika sepi, pendapatannya sekitar Rp 100.000.
Tarif yang ia pasang berkisar Rp 15.000–Rp 20.000 untuk jarak dekat di sekitar Pasar Senen dan Tanah Tinggi.
Untuk rute lebih jauh seperti Johar Baru atau Majoran, Jakarta Utara, tarif bisa mencapai Rp 35.000.
“Kalau jauh, ya menyesuaikan jarak,” tutur dia.
Becak yang ia gunakan bukan milik pribadi.
Ia menyewa dari seseorang di Bekasi dengan sistem setoran harian sekitar Rp 10.000.
Baca juga: Viral Video Remaja Rusak Portal JLNT Casablanca , Polisi Buru Pelaku
Pasang surut tukang becakMeski demikian, ia tidak pernah berpikir meninggalkan profesinya.
“Pernah coba bawa bajaj, tapi enggak lama. Malas. Saya lebih suka becak,” ujar dia.
Selama 40 tahun, Yanto merasakan pasang surut kehidupan sebagai pengemudi becak.
Ia pernah mengalami penertiban saat ada acara di sekitar GOR kawasan Senen.
Kini ia lebih berhati-hati dan memilih mangkal di pinggir trotoar atau gang kecil.





