"Udah, ngabdi saja di masjid, karena masjid itu salat tidak tertinggal, (salat) jemaah jalan terus."
Demikian petuah sang ayah kepada Effendi 26 tahun yang lalu. Nasihat itu ia amalkan sepenuh hati, hingga detik ini ia setia menjalankan pekerjaan sebagai marbut masjid.
Keterbatasan ekonomi keluarga membuat harapan Effendi menjadi mahasiswa luruh kala itu. Namun, hal itu tak membuat Effendi berkecil hati. Dengan kelapangan hati yang tak terbatas, kini Effendi merasakan berkah sebagai petugas kebersihan dan pelayanan masjid.
"Ya, di balik itu ada hikmahnya semua. Alhamdulilah sampai sekarang punya anak istri, istilahnya mengandung keberkahan," ungkap Effendi saat ditemui kumparan di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK), Senin (23/2).
Masjid Agung Sunda Kelapa adalah salah satu masjid paling ikonik dan bersejarah di Jakarta, tepatnya berlokasi di Jalan Taman Sunda Kelapa No. 16, Menteng, Jakarta Pusat.
Masjid yang terletak di kawasan elite ini memiliki luas tanah sekitar 9.920 m² dan mampu menampung hingga 4.424 jemaah di area ruang salat utamanya.
Effendi menceritakan, ayahnya yang semasa hidup merupakan anggota aktif Muhammadiyah di Kebon Baru, Jakarta Selatan, membentuk dirinya menjadi sosok yang religius. Bahkan pekerjaan marbut masjid merupakan 'warisan' dari sang ayah.
"Kebetulan saya di sini bahasanya titisan dari orang tua. Jadi mungkin saya sedikit banyaklah mengambil atau menimba ilmu dari orang tua saya," tutur Effendi.
Di fase awal menjadi marbut di Masjid Agung Sunda Kelapa, Effendi bekerja lepas yang hanya dibayar per agenda. Masjid Sunda Kelapa kadang dipakai untuk acara pernikahan, dan hal itu menjadi tanggung jawab Effendi.
Perlahan, kecakapan Effendi membuatnya dipercaya di banyak sektor mulai menjadi sekuriti, penjaga koperasi, tim keuangan, hingga aspek kebersihan. Hasil pengabdiannya pun perlahan-lahan mengalami peningkatan, dari per agenda, menjadi harian, hingga berstatus karyawan tetap Masjid Agung Sunda Kelapa di usia 40 tahun.
"Nah, (setelah) 20 tahun saya baru diangkat karyawan, karyawan tetap. Mengabdi di sini saya 20 tahun. Umur 40 saya baru diangkat karyawan," ucap Effendi.
Kepuasan BatinMenurut Effendi, hasil pengabdiannya tidak diukur hanya sekadar angka. Melainkan dari keberkahan yang dirasakannya sebagai orang yang setiap hari berada di masjid.
"Walaupun honor kita mungkin dianggap kecil ya di mata orang lain, tapi insyaallah membawa keberkahan. Itulah bedanya di masjid dengan di tempat lain," ucap Effendi.
Ia sering merasa 'direndahkan' karena mata pencariannya sebagai marbut masjid. Namun, Effendi sama sekali tidak merasa goyah, ia menganggapnya angin lalu dan tetap teguh untuk menebar kebaikan.
"Ya kita ini hidup untuk apa sih? Cuma untuk buat-buat kebaikan. Insyaallah kalau kita buat baik, bekerja baik, ikhlas, semuanya akan datang dengan sendirinya," yakin Effendi.
Bersyukur Kunci Kelapangan HatiKini di usia 48 tahun, ia bertanggung jawab atas seluruh kebersihan di Masjid Agung Sunda Kelapa. Posisi ini merupakan hasil pengabdiannya untuk terus merawat kebersihan masjid dengan rajin.
"Saya emang datang pagi-pagi berangkat. Saya jam 06.00 udah sampai sini. Jadi saya 06.30, 07.00 udah bekerja," ungkap Effendi.
Effendi mengatakan, bekerja di masjid tidak membuatnya kekurangan, melainkan merasa terpenuhi secara materi maupun rohani. Baginya, bersyukur merupakan kunci bagi kelapangan hati.
"Iya banyak dikitnya kalau kita banyak enggak bersyukur ya kurang juga. Ya pada hakikatnya kan adalah istri nerima, anak nerima, kan cukup. Cuma kalau kita turutkan hawa nafsu kita, kurang terus berasa kesusahan hidup, kan," ujar Effendi.



