EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pertama kalinya mengungkapkan bahwa rezim Iran bulan lalu melakukan penindasan brutal terhadap para demonstran yang menyebabkan 32.000 orang tewas. Ia juga menyatakan sedang mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran.
Dalam konferensi pers pada Jumat (20 Februari) di Gedung Putih, Trump ditanya pesan apa yang ingin ia sampaikan kepada rakyat Iran. Ia mengatakan bahwa rakyat Iran sangat berbeda dari para pemuka agama Syiah radikal yang memerintah negara itu dan memerintahkan penindasan.
Saat menyinggung peristiwa penindasan tersebut, Trump menambahkan, “Ini adalah situasi yang sangat menyedihkan. Dalam waktu yang relatif singkat, 32.000 orang kehilangan nyawa.”
Ini merupakan pertama kalinya pemerintah AS menyebutkan angka korban yang pasti terkait penindasan brutal Iran bulan lalu. Sebelumnya, pejabat AS memperkirakan bahwa sejak 28 Desember, ketika aksi protes nasional meletus di Iran, ribuan hingga puluhan ribu orang telah tewas. Kala itu, warga Iran turun ke jalan menuntut diakhirinya 47 tahun pemerintahan teokratis. Setelah itu, pihak berwenang sempat memutus akses internet secara nasional dan melakukan pembantaian brutal, menggunakan kekuatan militer untuk sementara meredam protes nasional tersebut.
Dalam konferensi pers itu, Trump menyatakan simpati mendalam kepada rakyat Iran. Ia berkata, “Mereka hidup di neraka.”
Cuplikan konferensi pers tersebut kemudian viral di internet. Dalam video, seorang reporter bertanya kepada Trump, “Apakah Anda sedang mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer?” Trump menjawab, “Saya pikir, ya.”
Sehari sebelumnya, Trump telah memberikan tenggat waktu terakhir kepada rezim Iran agar mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Pada Kamis, saat diwawancarai wartawan di Air Force One, Trump ditanya apakah ia telah menetapkan batas waktu yang jelas bagi rezim Iran. Ia menjawab bahwa 10 hingga 15 hari sudah cukup, dan menambahkan bahwa 15 hari “hampir merupakan batas maksimal.”
Trump memperingatkan Teheran: “Entah kita mencapai kesepakatan, atau mereka akan sangat tidak beruntung.”
Trump sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa jika rezim Iran menolak menghentikan apa yang ia sebut sebagai aktivitas jahat, termasuk pengembangan senjata nuklir, penindasan terhadap demonstran, pengembangan rudal balistik, serta dukungan terhadap kelompok teroris proksi di kawasan, maka Amerika Serikat akan mengambil tindakan militer. (Hui)
Editor penanggung jawab: Chen Zhenjin





