Bisnis.com, JAKARTA —PT Asuransi Jiwa BCA atau BCA Life menyampaikan bahwa bancassurance masih menjadi salah satu kanal distribusi utama bagi perusahaan, dengan kontribusi hampir 30% terhadap total pendapatan premi.
Presiden Direktur & CEO BCA Life Eva Agrayani menjelaskan bahwa pendapatan premi BCA Life sepanjang 2025 meningkat 32,9% (year on year/YoY) menjadi Rp2 triliun. Bagi perusahaan, ini mencerminkan kinerja pertumbuhan yang sangat baik di tengah dinamika industri asuransi jiwa.
“Kontribusi [bancassurance] sejalan dengan model bisnis BCA Life yang bertumpu pada kekuatan jaringan dan sinergi grup yang memiliki basis nasabah yang luas, serta tingkat kepercayaan yang tinggi melalui ekosistem Group BCA,” ucapnya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Bagi BCA Life, lanjut Eva, kanal bancassurance sangat strategis dalam menopang total pendapatan premi. Dia optimistis sinergi dan kolaborasi dalam Grup BCA dapat memberikan kenyamanan bagi setiap nasabah.
“Melalui berbagai produk yang dimiliki BCA Life, diharapkan dapat melengkapi solusi keuangan nasabah,” sebutnya.
Oleh karena itu, dia berujar BCA Life akan terus memperkuat sinergi dan kolaborasi ini melalui pengembangan produk yang semakin relevan dengan kebutuhan setiap segmen nasabah, peningkatan kompetensi tenaga pemasar, serta optimalisasi pemanfaatan data dan teknologi.
Baca Juga
- BCA Life: Perluasan Pasar dan Pengelolaan Klaim jadi Penentu Kinerja 2026
- Perjanjian Dagang RI-AS: Indonesia Tak Boleh Batasi Asuransi Simpan Data di Luar Negeri
Selain itu, imbuhnya, perusahaan juga akan fokus pada penyediaan solusi perlindungan yang lebih mudah dijangkau dan terintegrasi dengan ekosistem layanan keuangan Grup BCA, sehingga bisa mendukung perencanaan keuangan nasabah secara lebih menyeluruh dan berkelanjutan.
“Perusahaan memproyeksikan kanal bancassurance akan tetap menjadi salah satu pilar utama distribusi premi industri asuransi jiwa sepanjang 2026,” kata Eva.
Untuk diketahui, AAJI mencatat pada periode sembilan bulan pertama tahun 2025, pendapatan premi dari kanal distribusi bancassurance mencapai Rp55,28 triliun. Angka ini turun 4,2% (YoY) dari Rp57,70 triliun.
Menurut Eva, penurunan ini disebabkan belum membaiknya daya beli masyarakat secara umum dan juga belum membaiknya penjualan produk asuransi yang dikaitkan investasi (PAYDI) atau unit-linked.





