FAJAR, JAKARTA– Nama Asnawi Mangkualam kembali bergaung di ruang percakapan sepak bola Indonesia. Bukan karena aksi di lapangan, melainkan satu kalimat sederhana yang terlontar santai dalam siaran langsung TikTok—namun cukup untuk memantik spekulasi besar.
Bek kanan tim nasional Indonesia itu menyatakan dirinya terbuka kembali bermain di kompetisi domestik. Pernyataan tersebut langsung memunculkan satu pertanyaan lama yang kembali hidup: ke mana Asnawi akan berlabuh jika pulang?
Dalam sesi live pada Minggu malam, 22 Februari 2026, seorang warganet menanyakan kemungkinan dirinya bergabung dengan Persebaya Surabaya, Persija Jakarta, atau Persib Bandung. Jawaban Asnawi singkat, tetapi tegas.
Ia siap.
Namun ada satu syarat: klub peminat harus mampu menebus kontraknya dari Port FC.
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya tersimpan realitas yang tidak ringan. Klub Thailand tersebut masih mengikat Asnawi hingga 30 Juni 2029, membuat statusnya jauh dari bebas transfer. Artinya, kepulangan ke Indonesia bukan sekadar soal keinginan pemain, melainkan negosiasi finansial yang kompleks.
Nilai pasar Asnawi yang mencapai sekitar Rp7,8 miliar hanyalah permukaan dari persoalan. Biaya transfer, gaji, serta investasi medis pasca-cedera menjadi faktor yang harus dihitung matang oleh klub mana pun.
Situasi ini membuat spekulasi transfer berubah menjadi permainan strategi: siapa yang paling membutuhkan Asnawi—dan siapa yang benar-benar mampu membayarnya.
Nama Persib Bandung muncul paling awal dalam pusaran rumor. Klub berjuluk Maung Bandung memang tengah agresif mengumpulkan pemain berlabel tim nasional. Kedatangan Thom Haye menjadi sinyal jelas bahwa Persib sedang membangun skuad dengan standar lebih tinggi, termasuk untuk ambisi kompetisi Asia.
Dalam sebuah perbincangan di kanal YouTube Greg Nwokolo, Asnawi mengakui bahwa pendekatan dari klub Indonesia memang pernah terjadi. Bahkan, kesepakatan dengan Persib disebut hampir terealisasi sebelum akhirnya gagal karena klub lamanya menolak melepasnya.
Cerita itu memperlihatkan satu hal: minat terhadap Asnawi bukan hal baru. Ia sudah lama masuk radar klub besar Liga Indonesia.
Bagi Persib, kehadiran Asnawi akan memberi dimensi berbeda di sektor kanan—posisi yang menuntut kombinasi stamina, agresivitas menyerang, dan disiplin bertahan. Karakter yang selama ini menjadi identitas permainan sang pemain sejak masih membela PSM Makassar.
Namun Persib bukan satu-satunya kandidat logis.
Persija Jakarta memiliki kebutuhan serupa. Klub ibu kota itu kerap mengandalkan fullback aktif dalam skema permainan modern mereka. Sosok Asnawi, dengan pengalaman internasional dan mental kompetitif tinggi, dapat menjadi simbol proyek jangka panjang Macan Kemayoran.
Sementara Persebaya Surabaya menghadirkan narasi yang berbeda: proyek kebangkitan. Green Force tengah mencari stabilitas setelah performa yang naik-turun musim ini. Kehadiran pemain dengan kepemimpinan alami seperti Asnawi berpotensi menjadi fondasi baru, bukan hanya secara teknis tetapi juga mental tim.
Di antara tiga klub tersebut, keputusan nantinya mungkin tidak semata soal uang, melainkan arah karier.
Namun sebelum semua spekulasi itu menjadi nyata, ada satu pertarungan yang jauh lebih penting bagi Asnawi: melawan cedera.
Port FC mengonfirmasi bahwa pemain asal Makassar itu mengalami cedera ligamen anterior (ACL) saat latihan. Operasi telah dilakukan dan dinyatakan berhasil, tetapi proses pemulihan diperkirakan memakan waktu empat hingga enam bulan—periode yang praktis mengakhiri musim 2025/2026 baginya.
Dalam beberapa unggahan terbaru, Asnawi terlihat menjalani terapi air di kolam renang. Ia bahkan mengaku baru saja melepas tongkat penyangga.
Langkahnya belum sepenuhnya normal.
Namun bagi seorang pemain yang dikenal dengan determinasi tinggi sejak meniti karier dari Liga Indonesia hingga Asia Tenggara, fase rehabilitasi ini menjadi ujian mental yang sama beratnya dengan pertandingan final.
Statistiknya di Liga Thailand sebelum cedera sebenarnya menunjukkan grafik positif. Ia tampil dalam 16 dari 18 pertandingan, menjadi pilihan utama sebelum akhirnya harus menepi.
Itulah sebabnya publik sepak bola Indonesia tetap menaruh harapan besar. Kolom komentar dipenuhi doa sekaligus ajakan pulang: dari Bobotoh, Jakmania, hingga Bonek.
Fenomena itu menunjukkan satu fakta menarik—Asnawi kini bukan lagi milik satu klub tertentu, melainkan figur nasional yang diinginkan banyak suporter.
Kepulangan Asnawi Mangkualam ke Super League mungkin belum terjadi dalam waktu dekat. Kontrak panjang dan proses pemulihan cedera menjadi penghalang nyata.
Namun sinyal sudah diberikan.
Dan dalam sepak bola modern, sinyal sering kali menjadi awal dari cerita besar berikutnya.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Asnawi akan kembali ke Indonesia, melainkan: klub mana yang paling siap menyambutnya—secara ambisi, strategi, dan keberanian investasi.





