Beberapa hari terakhir, linimasa terasa seperti medan perang. Seablings dan Knetz saling serang, saling koreksi, saling klaim siapa yang paling benar, paling peduli, dan paling berhak bersuara. Semua terjadi cepat, masif, dan emosional, terutama di X.
Di permukaan, ini tampak seperti solidaritas penggemar membela idolanya. Tapi jika kita mundur selangkah, konflik ini membuka pertanyaan yang lebih tidak nyaman: ketika penggemar “berjuang” di internet, apakah itu benar-benar aktivisme atau hanya kerja emosional gratis untuk industri?
Dan lebih penting lagi: siapa yang sebenarnya diuntungkan?
Ketika Menjadi Penggemar Berarti Siap BerperangMenjadi penggemar hari ini bukan lagi soal menikmati musik atau karya. Ia datang dengan ekspektasi: loyalitas, kesiapsiagaan, dan kesediaan untuk membela.
Setiap kritik dianggap ancaman. Setiap komentar negatif dianggap serangan.
Sehingga ketika Knetz atau netizen Korea mengeluarkan opini tertentu, banyak Seablings (penggemar internasional) merespons bukan sebagai pembaca, tetapi sebagai pasukan.
Mereka: membuat thread klarifikasi, membanjiri komentar, mengangkat tagar, dan memproduksi narasi tandingan.
Semua ini dilakukan secara sukarela. Tanpa dibayar. Tanpa kontrak. Namun dengan intensitas yang menyerupai pekerjaan penuh waktu.
Ini yang oleh sosiolog Manuel Castells disebut sebagai networked movements atau mobilisasi berbasis emosi yang dimungkinkan oleh jaringan digital.
Masalahnya, tidak semua mobilisasi adalah pembebasan. Beberapa hanya reproduksi loyalitas.
Nasionalisme Digital dan Hirarki yang Tidak TerlihatKonflik Seablings vs Knetz juga memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan secara jujur: adanya hirarki dalam fandom global.
Knetz sering diposisikan sebagai “lebih asli”. Lebih dekat dengan industri. Lebih sah suaranya. Sementara penggemar internasional, betapapun loyalnya, tetap dianggap luar. Hal ini yang kemudian menciptakan paradoks.
Di satu sisi, Seablings adalah konsumen global yang sangat penting. Mereka membeli album, streaming, dan membangun popularitas internasional.
Di sisi lain, legitimasi mereka tetap dipertanyakan.
Ini adalah bentuk lain dari apa yang disebut Zeynep Tufekci sebagai networked power asymmetry: ketimpangan kuasa dalam ruang digital yang tampak egaliter.
Internet membuat semua orang bisa bersuara, akan tetapi tidak semua suara memiliki bobot yang sama.
Aktivisme atau Eksploitasi Emosional?Yang paling jarang dipertanyakan adalah: mengapa penggemar merasa harus bertarung?
Mengapa reputasi seorang figur publik terasa seperti tanggung jawab pribadi?
Jawabannya tidak sederhana. Tapi salah satunya adalah karena industri hiburan modern dibangun di atas ilusi kedekatan.
Idola tidak dijual sebagai produk, namun mereka dijual sebagai relasi. Mereka dijual sebagai seseorang yang “membutuhkan” penggemarnya.
Kedekatan ini menciptakan keterikatan emosional. Lebih lanjut, keterikatan emosional menciptakan loyalitas. Loyalitas ini yang menciptakan tenaga kerja gratis.
Setiap kali penggemar membela, mempromosikan, atau melindungi citra idolanya, mereka sebenarnya sedang melakukan kerja relasi publik secara gratis, tanpa kontrak, tanpa perlindungan, dan tanpa pengakuan formal.
Akan tetapi, dampak ekonomi yang timbul tetaplah nyata.
Algoritma Menyukai KemarahanYang membuat semua ini semakin intens adalah logika platform. Platform seperti X tidak dirancang untuk ketenangan. Ia dirancang untuk keterlibatan.
Lebih jauh, tidak ada yang menghasilkan keterlibatan lebih tinggi daripada kemarahan. Semakin marah orang, semakin sering mereka posting. Semakin sering mereka posting, semakin lama mereka tinggal di suatu platform.
Semakin lama mereka tinggal, maka semakin untunglah platform tersebut. Dengan kata lain, konflik bukanlah suatu kegagalan sistem. Ia adalah fitur, sedangkan penggemar adalah bahan bakarnya.
Ilusi KekuasaanAktivisme digital memberi penggemar rasa kuasa. Mereka bisa membuat tagar trending. Mereka juga bisa memengaruhi percakapan.
Merekapun bisa “melawan balik”. Sekilas mereka tampak berkuasa, namun kuasa ini seringkali bersifat ilusi.
Karena pada akhirnya: industri tetap berjalan, platform tetap mendapat keuntungan, dan penggemar tetap tidak memiliki kontrol nyata.
Para penggemar ini hanya memiliki partisipasi, bukan kepemilikan.
Jadi, Haruskah Penggemar Diam?
Tidak.
Masalahnya bukan pada bersuara. Masalahnya adalah pada ketidaksadaran tentang bagaimana suara itu digunakan.
Ketika penggemar percaya bahwa mereka sedang “melindungi”, mereka jarang bertanya: Apakah mereka juga sedang digunakan?
Industri hiburan modern tidak membutuhkan tentara resmi. Ia memiliki fandom. Dan fandom seringkali dengan sukarela melakukan pekerjaan itu.
Mungkin yang Perlu Kita Tanyakan Ulang adalah IniBagaimana jika menjadi penggemar tidak harus berarti menjadi pembela?
Bagaimana jika mencintai karya tidak harus berarti kehilangan jarak kritis?
Bagaimana jika solidaritas tidak harus berarti perang?
Sekali lagi, konflik Seablings vs Knetz bukan hanya tentang siapa yang benar. Ia adalah cermin dari bagaimana internet telah mengubah emosi menjadi tenaga kerja.
Dan bagaimana kita, sering tanpa sadar, menjadi pekerjanya.





