Jakarta (ANTARA) - Sutradara Joko Anwar membedah proses kreatif di balik film ke-12 yang diproduksi bersama Come And See Pictures, "Ghost in the Cell" (Hantu di dalam Penjara).
Saat ditemui ANTARA seusai konferensi pers peluncuran cuplikan (trailer) film itu di Jakarta, Senin, Joko menekankan pentingnya kedalaman karakter dan keterkaitan film dengan realitas sosial di Indonesia.
Berikut adalah poin-poin penting berdasarkan wawancara langsung dengan Joko Anwar sebelum film terbarunya tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa ia menulis riwayat hidup yang sangat mendetail bagi setiap pemain, meskipun jumlahnya mencapai puluhan orang.
Baca juga: Joko Anwar hadirkan lagu anak di "Ghost in the Cell"
"Kalau di film kami ada 40 karakter, ya 40 aku bikin kayak gini. Dari dia lahirnya kapan, pendidikannya kapan... kehidupannya lengkap semuanya. Internal fear (ketakutan batin)-nya apa, segala macam. Bahkan aku, misalnya, nulis surat yang dia tulis ke ibunya. Walaupun di film nggak ada, tapi ini membantu dia mengetahui karakternya," ujar Joko.
Ia mencontohkan karakter Tokek yang diperankan Aming. Meski orang yang menonton nanti beranggapan dia jahat, karakter tersebut memiliki latar belakang trauma yang kuat.
"Walaupun dia dianggap karakter evil (jahat), tapi dia karakter utuh. Dia mengalami trauma misalnya. Jadi ketika dia berbuat seperti itu, dia tidak punya intention (niat) untuk jadi jahat," jelas Joko.
Baca juga: Kisah Magistus Miftah: Seporsi pecel ayam sebelum film Joko Anwar
Keunikan lain dari produksi film ini adalah keterlibatan kru teknis sebagai aktor. Di antaranya sinematografer Jaisal (Ical) Tanjung yang berperan sebagai pejabat tinggi atau penyanyi lagu "The Rising Man" yang menjadi lajur suara film tersebut, Tony Merle.
"Kru kita selalu jadi pemain. Ical Tanjung, dia jadi wakil menteri, jadi Wamen. Pejabat. Cocok enggak mukanya?" kata Joko. "Nah iya, Tony Merle main juga, dia pembuat lagu," ujar dia lagi.
Joko menambahkan bahwa setiap film produksinya selalu memiliki dua versi video pratinjau sebagai panduan visual atau storyboard video. "Satu versi yang dibikin diperankan oleh para aktor, satu lagi versi yang diperankan oleh para kru. Kru kita semua hafal dialog," tambahnya.
Baca juga: Joko Anwar simpan kritik sosial di Ghost in the Cell, tayang 16 April
Mengenai genre horor komedi yang diusung, Joko Anwar memiliki pandangan unik tentang cara masyarakat Indonesia bereaksi terhadap tensi atau tekanan (tension).
"Komedi di sini justru menajamkan tensinya. Karena di Indonesia, tension dan ketawa itu satu paket sebenarnya. Kita sering kan, lagi susah tapi ketawa dulu. Banyak kita ketawa saat gugup. Misalnya kita ditegur, didatangi polisi pas razia, kita kayak 'Pak...' nyengir. Jadi di sini itu menunjukkan bahwa komedi itu menajamkan tensi," kata Joko.
Terkait genre horor, ia percaya bahwa hal tersebut adalah identitas nasional yang mampu menyatukan keragaman suku di Indonesia. "Kita terdiri dari banyak sekali kelompok etnis, lebih dari 300. Yang bisa menyatukan itu sebagai shared pop culture yaitu horor. Jadi apakah efektif menyampaikan pesan? Efektif banget," tegasnya.
Baca juga: Film "Ghost in the Cell" dapat sambutan antusias di Berlinale 2026
Meski filmnya menyimpan kritik sosial, Joko Anwar lebih suka menyebut karyanya sebagai refleksi dari sesuatu yang relevan.
"Film Come And See selalu berangkat dari yang relevan di masyarakat, bukan kritik. Kritik itu kan jadinya datang kemudian ketika kita mengungkapkan apa yang sedang terjadi secara faktual dan ternyata itu membuka mata masyarakat. Sayang kalau hasil pekerjaan yang dikonsumsi banyak orang enggak diisi dengan sesuatu yang penting, seperti bersuara tentang ketidakadilan," tuturnya.
Setelah film horornya sukses menembus seleksi Festival Berlinale (Berlin International Film Festival), Joko Anwar membocorkan proyek masa depannya yang akan mengambil genre romansa.
"Proyek ke depannya aku romance (romansa). Sudah di-announce (diumumkan) juga ya di Glasgow. Judulnya "The Charms of Broken Things", tentang Pesona Barang-Barang yang Sudah Pecah. Lagi dikembangkan," ungkapnya.
Mengenai judul "Ghost in the Cell" yang menggunakan bahasa Inggris, ia beralasan itu hanya selera. "Ada judul bahasa Indonesia-nya, Hantu di dalam Penjara. Orang Indonesia tahu ghost, orang tahu cell. Ghost in the Cell," Joko menandaskan.
Baca juga: Penjara di "Ghost in the Cell" contoh kecil sistem di masyarakat
Saat ditemui ANTARA seusai konferensi pers peluncuran cuplikan (trailer) film itu di Jakarta, Senin, Joko menekankan pentingnya kedalaman karakter dan keterkaitan film dengan realitas sosial di Indonesia.
Berikut adalah poin-poin penting berdasarkan wawancara langsung dengan Joko Anwar sebelum film terbarunya tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa ia menulis riwayat hidup yang sangat mendetail bagi setiap pemain, meskipun jumlahnya mencapai puluhan orang.
Baca juga: Joko Anwar hadirkan lagu anak di "Ghost in the Cell"
"Kalau di film kami ada 40 karakter, ya 40 aku bikin kayak gini. Dari dia lahirnya kapan, pendidikannya kapan... kehidupannya lengkap semuanya. Internal fear (ketakutan batin)-nya apa, segala macam. Bahkan aku, misalnya, nulis surat yang dia tulis ke ibunya. Walaupun di film nggak ada, tapi ini membantu dia mengetahui karakternya," ujar Joko.
Ia mencontohkan karakter Tokek yang diperankan Aming. Meski orang yang menonton nanti beranggapan dia jahat, karakter tersebut memiliki latar belakang trauma yang kuat.
"Walaupun dia dianggap karakter evil (jahat), tapi dia karakter utuh. Dia mengalami trauma misalnya. Jadi ketika dia berbuat seperti itu, dia tidak punya intention (niat) untuk jadi jahat," jelas Joko.
Baca juga: Kisah Magistus Miftah: Seporsi pecel ayam sebelum film Joko Anwar
Keunikan lain dari produksi film ini adalah keterlibatan kru teknis sebagai aktor. Di antaranya sinematografer Jaisal (Ical) Tanjung yang berperan sebagai pejabat tinggi atau penyanyi lagu "The Rising Man" yang menjadi lajur suara film tersebut, Tony Merle.
"Kru kita selalu jadi pemain. Ical Tanjung, dia jadi wakil menteri, jadi Wamen. Pejabat. Cocok enggak mukanya?" kata Joko. "Nah iya, Tony Merle main juga, dia pembuat lagu," ujar dia lagi.
Joko menambahkan bahwa setiap film produksinya selalu memiliki dua versi video pratinjau sebagai panduan visual atau storyboard video. "Satu versi yang dibikin diperankan oleh para aktor, satu lagi versi yang diperankan oleh para kru. Kru kita semua hafal dialog," tambahnya.
Baca juga: Joko Anwar simpan kritik sosial di Ghost in the Cell, tayang 16 April
Mengenai genre horor komedi yang diusung, Joko Anwar memiliki pandangan unik tentang cara masyarakat Indonesia bereaksi terhadap tensi atau tekanan (tension).
"Komedi di sini justru menajamkan tensinya. Karena di Indonesia, tension dan ketawa itu satu paket sebenarnya. Kita sering kan, lagi susah tapi ketawa dulu. Banyak kita ketawa saat gugup. Misalnya kita ditegur, didatangi polisi pas razia, kita kayak 'Pak...' nyengir. Jadi di sini itu menunjukkan bahwa komedi itu menajamkan tensi," kata Joko.
Terkait genre horor, ia percaya bahwa hal tersebut adalah identitas nasional yang mampu menyatukan keragaman suku di Indonesia. "Kita terdiri dari banyak sekali kelompok etnis, lebih dari 300. Yang bisa menyatukan itu sebagai shared pop culture yaitu horor. Jadi apakah efektif menyampaikan pesan? Efektif banget," tegasnya.
Baca juga: Film "Ghost in the Cell" dapat sambutan antusias di Berlinale 2026
Meski filmnya menyimpan kritik sosial, Joko Anwar lebih suka menyebut karyanya sebagai refleksi dari sesuatu yang relevan.
"Film Come And See selalu berangkat dari yang relevan di masyarakat, bukan kritik. Kritik itu kan jadinya datang kemudian ketika kita mengungkapkan apa yang sedang terjadi secara faktual dan ternyata itu membuka mata masyarakat. Sayang kalau hasil pekerjaan yang dikonsumsi banyak orang enggak diisi dengan sesuatu yang penting, seperti bersuara tentang ketidakadilan," tuturnya.
Setelah film horornya sukses menembus seleksi Festival Berlinale (Berlin International Film Festival), Joko Anwar membocorkan proyek masa depannya yang akan mengambil genre romansa.
"Proyek ke depannya aku romance (romansa). Sudah di-announce (diumumkan) juga ya di Glasgow. Judulnya "The Charms of Broken Things", tentang Pesona Barang-Barang yang Sudah Pecah. Lagi dikembangkan," ungkapnya.
Mengenai judul "Ghost in the Cell" yang menggunakan bahasa Inggris, ia beralasan itu hanya selera. "Ada judul bahasa Indonesia-nya, Hantu di dalam Penjara. Orang Indonesia tahu ghost, orang tahu cell. Ghost in the Cell," Joko menandaskan.
Baca juga: Penjara di "Ghost in the Cell" contoh kecil sistem di masyarakat





