Di banyak sudut Nusantara, menjelang fajar Ramadan, suara kentongan, beduk, atau tabuhan alat musik sederhana memecah kesunyian malam. Irama itu berkeliling dari gang ke gang, menyusuri kampung, membangunkan warga untuk santap sahur.
Tradisi ini dikenal luas sebagai patrol sahur, sebuah praktik yang sederhana, namun menyimpan jejak sejarah panjang dan memiliki lapisan makna budaya yang kaya.
Patrol sahur bukan sekadar kebiasaan membangunkan orang untuk makan sebelum subuh. Ia adalah sebentuk komunikasi sosial-tradisional yang lahir dari kebutuhan praktis sekaligus berkembang menjadi ekspresi kebudayaan Ramadan yang khas di Indonesia.
Akar Sejarah: Dari Dunia Islam ke Pelosok Kampung NusantaraDalam sejarah peradaban Islam, praktik membangunkan sahur telah dikenal sejak masa awal Islam. Riwayat hadis menyebutkan adanya sahabat Nabi yang bertugas mengumandangkan azan pertama untuk membangunkan kaum Muslim sebelum waktu Subuh.
Di berbagai kota Islam di dunia, tradisi ini kemudian berkembang menjadi profesi khusus, seperti musaharati di Mesir dan Syam, yaitu sekelompok orang yang berkeliling membawa lentera sambil menabuh drum untuk membangunkan warga.
Jejak praktik serupa masuk ke Nusantara seiring penyebaran Islam sejak abad ke-13. Kala Islam berkembang melalui jalur perdagangan dan dakwah kultural, unsur-unsur tradisi Timur Tengah beradaptasi dengan kebudayaan lokal.
Di tanah Jawa, misalnya, kentongan dan beduk yang notabene sebagai alat komunikasi tradisional masyarakat agraris dipakai untuk fungsi keagamaan, termasuk membangunkan sahur.
Di Madura dan sebagian Jawa Timur, patrol sahur bahkan berkembang menjadi atraksi musikal dengan irama khas yang dinamis.
Proses ini menunjukkan bahwa tradisi sahur keliling di Indonesia bukan hasil imitasi semata, melainkan hasil dialektika antara ajaran agama dan budaya lokal.
Ia memang berakar pada praktik dunia Islam, tetapi ia tumbuh dengan identitas Nusantara yang kuat.
Ritme Kolektif: Kala Agama dan Kebudayaan BerpaduPatrol sahur menemukan maknanya yang lebih dalam ketika agama bertemu dengan kebudayaan. Pada satu sisi, ia berfungsi praktis: memastikan umat Islam bangun untuk menjalankan sunnah sahur yang dianjurkan dalam hadis.
Di sisi lain, ia menjelma menjadi ruang sosial, tempat anak muda, remaja masjid, hingga warga kampung membangun sekaligus memupuk kebersamaan.
Di banyak daerah di Indonesia, patroli sahur dilakukan oleh kelompok pemuda dengan membawa kentongan, galon bekas, drum, atau alat musik sederhana. Bahkan di Lamongan utara, para pemuda menggunakan seperangkat marching band yang terorganisir dengan baik.
Mereka membawa snare drum, bass drum, pianika tiup, hingga terompet, lalu menyusuri jalanan desa menjelang waktu sahur.
Hasilnya, warga mengintip dari balik jendela atau membuka pintu untuk menyaksikan langsung tabuhan yang seirama, bukan sekadar bunyi gaduh pembangkit tidur, melainkan komposisi ritmis yang tertata.
Di sana, patrol sahur bukan hanya tradisi membangunkan, tetapi juga pertunjukan budaya yang memperlihatkan kreativitas generasi muda dalam merayakan Ramadan. Aktivitas ini jelas dapat membentuk solidaritas sosial sekaligus menjadi sarana ekspresi kreatif masyarakat setempat.
Di Jawa Barat, patrol sahur kerap dikaitkan dengan seni ngabuburit versi malam hari. Di Sumatera Barat dan Aceh, unsur musik tradisional juga mewarnai kegiatan ini.
Bahkan di beberapa kota besar, lomba patrol sahur pernah menjadi agenda tahunan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah atau komunitas lokal.
Tradisi ini memperlihatkan bagaimana ajaran agama (anjuran sahur) tidak hadir secara kaku, tetapi terus hidup melalui medium budaya. Ia kemudian menjadi jembatan antara spiritualitas dan kehidupan sosial sehari-hari.
Dari Lentera ke Pengeras Suara: Adaptasi dan Dinamika ZamanSeiring perkembangan teknologi, fungsi awal patrol sahur sebagai “alarm kolektif” perlahan berubah. Di era jam weker, televisi, hingga ponsel pintar, kebutuhan untuk dibangunkan secara manual sebenarnya semakin berkurang. Namun, tradisi ini tidak serta-merta hilang.
Sebaliknya, ia bertransformasi. Di beberapa kota, patrol sahur tetap dilakukan sebagai simbol perayaan Ramadan, meski dengan penyesuaian aturan yang berlaku.
Ada wilayah yang membatasi jam dan volume suara demi menjaga ketertiban. Ada pula yang mengemasnya sebagai festival budaya Ramadan yang lebih terorganisir.
Perubahan ini menunjukkan bahwa patrol sahur adalah tradisi yang lentur, bahwa ia tidak berhenti sebagai praktik lama yang usang, tetapi menyesuaikan diri dengan konteks sosial kontemporer.
Bahkan di tengah urbanisasi dan gaya hidup masa kini, semangat membangunkan sahur bersama tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Muslim Indonesia.
Antara Sunyi Fajar dan Ingatan KolektifArkian, patrol sahur adalah tentang kebersamaan dalam waktu yang paling hening: menjelang fajar. Ia mengajarkan bahwa Ramadan tidak dijalani sendirian.
Ada tangan-tangan yang menabuh kentongan, ada suara-suara yang memanggil dengan riang, dan ada langkah kaki yang menyusuri gang-gang demi memastikan tetangga tidak tertinggal sahur.
Tradisi ini mungkin berubah bentuk, mungkin pula menghadapi tantangan regulasi dan modernitas.
Namun selama Ramadan masih dirayakan sebagai bulan kebersamaan, jejak patrol sahur selamanya akan tetap dan terus hidup, bukan hanya sebagai bunyi yang membangunkan tidur, melainkan sebagai gema solidaritas yang mengikat kampung, kota, dan ingatan kolektif Nusantara.
Patrol sahur adalah bukti bahwa dalam kebudayaan Islam di Nusantara, agama tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga dirayakan dengan gembira dan penuh suka cita.[*]





