FAJAR, JAKARTA –Kisah Indonesia di panggung Asia musim ini berubah arah secara tak terduga. Ketika harapan publik Bandung pupus, peluang justru berpindah tangan—dan kini bertumpu pada satu nama: Pratama Arhan.
Persib Bandung memang menang. Namun kemenangan itu terasa seperti perpisahan yang tertunda.
Gol tunggal di Stadion Gelora Bandung Lautan Api pada leg kedua babak 16 besar ACL 2, Rabu malam, tak cukup membalikkan keadaan. Kekalahan telak 0-3 pada pertemuan pertama melawan Ratchaburi FC menjadi beban yang terlalu berat. Agregat 1-3 memastikan langkah Maung Bandung terhenti lebih cepat dari yang diharapkan.
Bersamaan dengan gugurnya Persib, sebuah skenario besar ikut menghilang: duel melawan Cristiano Ronaldo di final kompetisi antarklub Asia kasta kedua.
Harapan itu sempat terasa nyata. Publik membayangkan stadion penuh, sorotan Asia tertuju ke Bandung, dan pertemuan simbolis antara sepak bola Indonesia dengan salah satu ikon terbesar dalam sejarah olahraga dunia.
Namun sepak bola jarang berjalan sesuai imajinasi.
Di belahan Asia lainnya, klub Arab Saudi Al Nassr melangkah stabil. Mereka kembali menang 1-0 atas Arkadag—mengulang skor leg pertama—meski tanpa kehadiran Cristiano Ronaldo di lapangan. Sang megabintang Portugal sengaja diistirahatkan demi menjaga kebugaran di tengah jadwal kompetisi yang padat.
Ketika pintu bagi Persib tertutup, peluang justru terbuka bagi klub Thailand, Bangkok United—tim yang kini diperkuat bek tim nasional Indonesia, Pratama Arhan.
Bangkok United memastikan tempat di perempat final setelah menahan imbang Macarthur FC 2-2 di Sydney. Hasil itu cukup mempertahankan keunggulan 2-0 pada leg pertama, sekaligus mengantar mereka lolos dengan agregat 4-2.
Perjalanan klub Thailand tersebut kini menjadi jalur baru bagi representasi Indonesia di kompetisi Asia.
Arhan, yang musim ini mencatat dua penampilan di ACL 2, perlahan berubah menjadi satu-satunya wajah Indonesia yang masih bertahan dalam turnamen. Ia tampil penuh saat menghadapi Persib di fase sebelumnya dan sempat bermain singkat melawan Lion City Sailors di fase grup.
Meski absen dalam beberapa laga terakhir, peluangnya kembali terbuka seiring langkah Bangkok United yang semakin jauh.
Di babak perempat final Zona Timur, Bangkok United akan menghadapi Tampines Rovers dari Singapura. Jika berhasil melaju, mereka berpotensi bertemu pemenang duel Gamba Osaka melawan Ratchaburi—tim yang sebelumnya menyingkirkan Persib.
Sementara itu, jalur Zona Barat berjalan dengan cerita berbeda. Al Nassr akan menghadapi Al Wasl dari Uni Emirat Arab, sementara Al Ahli (Qatar) bertemu Al Hussein (Yordania).
Dua jalur itu baru akan bersatu di partai final pada 16 Mei 2026, ketika wakil terbaik dari Timur dan Barat Asia bertarung memperebutkan trofi ACL 2.
Di titik inilah narasi berubah menjadi menarik.
Jika Bangkok United mampu menembus final, maka peluang bentrok antara Pratama Arhan dan Cristiano Ronaldo bukan lagi sekadar angan publik Bandung—melainkan kemungkinan nyata bagi sepak bola Indonesia secara keseluruhan.
Ironinya, mimpi yang gagal diwujudkan klub Indonesia justru berpotensi hadir melalui pemain Indonesia di klub luar negeri.
Sepak bola Asia, sekali lagi, menunjukkan bahwa perjalanan tidak selalu lurus. Kadang sebuah cerita besar tidak berakhir ketika harapan runtuh—melainkan berpindah tempat, mencari panggung baru.
Dan kini, panggung itu bernama Pratama Arhan.




