Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) menyebut proyek Giant Sea Wall akan menjadi proyek dengan sistem perlindungan pesisir terpadu yang tak hanya mengandalkan tanggul laut, tetapi juga mengintegrasikan waduk retensi, tanggul pantai, dan sabuk mangrove untuk melindungi kawasan pesisir utara Jawa.
Kepala BOPPJ Didit Herdiawan Ashaf mengatakan, konsep perlindungan pesisir yang dikembangkan menggabungkan infrastruktur fisik dengan pendekatan berbasis alam atau nature-based construction. Sistem tersebut mencakup tanggul pantai, Giant Sea Wall di lepas pantai, serta penanaman mangrove sebagai pelindung alami.
“Perlindungan pesisir tidak dimaknai sebagai pembangunan tanggul laut saja, tapi tentunya juga terintegrasi. Di situ ada tanggul pantai, ada mangrove, dan juga tanggul laut,” ujarnya dalam media briefing di Jakarta Pusat, Senin (23/2).
Secara keseluruhan, proyek Giant Sea Wall direncanakan membentang sepanjang sekitar 535 kilometer, mulai dari Banten hingga Gresik, Jawa Timur.
Pembangunan akan dilakukan secara bertahap dengan prioritas wilayah yang paling rentan terhadap penurunan tanah dan banjir rob, seperti Jakarta, Semarang, Kendal, dan Demak.
BOPPJ mencatat, kawasan Pantura Jawa dihuni sekitar 17 juta hingga 20 juta penduduk dan menjadi lokasi berbagai aset strategis nasional, mulai dari kawasan industri, pelabuhan, bandara, hingga pusat permukiman.
Penurunan muka tanah di beberapa wilayah bahkan mencapai 4 hingga 7 sentimeter per tahun, seperti di Semarang, yang meningkatkan risiko banjir rob dan kerusakan infrastruktur.
“Banyak sekali di Pantura Jawa ini yang perlu dilindungi. Bukan hanya penduduk, tapi juga aset nasional, kawasan industri, rumah sakit, pelabuhan, dan kota-kota,” ujar Didit.
Pembangunan GSW dirancang untuk terintegrasi dengan pengembangan fasilitas strategis seperti jalan tol, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) serta pembentukan waduk atau danau retensi.
Rancang Waduk Retensi untuk Sumber Air BakuSelain sebagai pelindung pesisir, Giant Sea Wall juga dirancang menciptakan waduk retensi raksasa di sisi dalam tanggul yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku.
BOPPJ memperkirakan luas waduk retensi mencapai sekitar 9.000 hektare, terdiri dari sekitar 7.000 hektare di sisi barat, dan 2.000 hektare di sisi timur. Waduk ini diharapkan dapat menyediakan cadangan air tawar bagi wilayah pesisir, termasuk Jakarta.
Didit menjelaskan, air laut yang terperangkap di dalam sistem retensi akan berubah menjadi air tawar secara alami dalam kurun waktu sekitar 2,5 hingga 3 tahun melalui proses hidrologis.
“Waduk retensi yang kami buat itu dapat bermanfaat untuk digunakan sebagai air baku, air bersih bagi penduduk DKI. Dengan ketinggian sekitar dua sampai tiga meter air tawar, prosesnya secara alami selama 2,5 sampai 3 tahun,” katanya.
Meski telah memiliki desain umum, Didit menegaskan proyek ini masih berada pada tahap perencanaan dan penyusunan masterplan, termasuk kajian teknis, lingkungan, dan skema pembiayaan.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5509154/original/097117200_1771659028-WhatsApp_Image_2026-02-21_at_14.23.11.jpeg)

