Persebaya Surabaya Kontra PSM Makassar: Laga Pertaruhan Reputasi Bernardo Tavares dan Tomas Trucha

harianfajar
19 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Pertandingan antara Persebaya Surabaya dan PSM Makassar pada pekan ke-23 Super League 2025/2026 bukan sekadar perebutan tiga poin. Di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu malam (25/2/2026), dua pelatih akan membawa beban yang jauh lebih besar dari sekadar strategi: reputasi.

Februari yang semula menjanjikan bagi Persebaya berubah menjadi bulan penuh kegelisahan. Green Force datang ke laga ini dengan dua kekalahan beruntun yang menggerus kepercayaan diri tim sekaligus mengundang sorotan publik terhadap kepemimpinan pelatih Bernardo Tavares.

Kekalahan 1-3 dari Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini menjadi pukulan paling terasa. Sebelumnya, Persebaya juga tumbang 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC. Dalam waktu singkat, grafik performa tim jatuh dari stabil menjadi rapuh.

Padahal awal bulan berjalan berbeda. Hasil imbang melawan Dewa United FC dan kemenangan meyakinkan atas Bali United sempat menghadirkan optimisme bahwa Persebaya menemukan ritme permainan.

Namun konsistensi kembali menjadi persoalan klasik. Dari empat laga Februari, hanya satu kemenangan yang berhasil diraih.

Ketika Dominasi Tak Lagi Berarti

Bernardo Tavares sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangan argumentasi. Secara permainan, Persebaya kerap tampil dominan. Masalahnya, dominasi itu gagal diterjemahkan menjadi efektivitas.

Melawan Persijap, Persebaya unggul penguasaan bola 51 persen dan menciptakan 13 tembakan. Tetapi hanya empat yang mengarah tepat ke gawang. Sebaliknya, lawan tampil lebih efisien: lima tembakan tepat sasaran menghasilkan tiga gol.

Bagi Tavares, kegagalan itu berakar pada satu masalah mendasar—transisi.

“Kami punya dua sampai tiga peluang di babak pertama, tapi kami buruk dalam transisi defensif. Persijap mencuri gol lewat situasi itu,” ujarnya, seperti dikutip dari kanal resmi klub.

Peluang demi peluang sebenarnya hadir. Tendangan Jefferson membentur tiang, sepakan Bruno Moreira melenceng tipis, dan beberapa situasi di kotak penalti gagal diselesaikan dengan baik.

Di sinilah frustrasi muncul. Analisis pertandingan yang disiapkan staf pelatih tidak berjalan sesuai rencana di lapangan.

“Analisis kami tidak dapat diterapkan untuk meredam permainan mereka,” kata pelatih asal Portugal tersebut.

Sepak bola modern sering kali menghukum tim bukan karena bermain buruk, melainkan karena gagal memanfaatkan momentum kecil.

Persebaya sedang berada di fase itu.

PSM dan Pelajaran dari Kekalahan

Di sisi lain, PSM Makassar datang dengan situasi yang berbeda—tidak sepenuhnya nyaman, tetapi membawa pelajaran penting.

Kekalahan dari Persija Jakarta justru memberikan gambaran baru bagi pelatih Tomas Trucha tentang identitas permainan timnya. PSM mampu menekan tuan rumah dalam beberapa fase pertandingan dan menciptakan tekanan yang konsisten.

Salah satu gol Persija bahkan lahir dari kesalahan individu penjaga gawang Rezky Arya, bukan dominasi total permainan.

Artinya, struktur permainan PSM mulai terbentuk.

Trucha melihat bahwa timnya mampu bertahan dalam tekanan tinggi sekaligus menyerang melalui transisi cepat—model permainan yang berpotensi efektif menghadapi Persebaya yang tengah bermasalah dalam organisasi bertahan.

PSM datang tanpa beban besar. Posisi ini sering kali justru berbahaya bagi tuan rumah.

Duel Mental di Gelora Bung Tomo

Pertandingan ini menghadirkan keseimbangan psikologis yang menarik. Persebaya memiliki dukungan penuh Bonek di Gelora Bung Tomo—energi yang bisa menjadi kekuatan sekaligus tekanan.

Sementara PSM bermain dengan ruang yang lebih bebas. Tidak ada tuntutan wajib menang sebesar yang dihadapi tuan rumah.

Dalam sepak bola, momentum mental sering kali lebih menentukan dibanding statistik.

Jika Persebaya gagal mencetak gol lebih dulu, atmosfer stadion dapat berubah menjadi tekanan internal. Sebaliknya, satu gol cepat PSM berpotensi menggeser arah pertandingan secara drastis.

Pertaruhan Dua Filosofi

Di atas lapangan, laga ini menjadi pertarungan dua pendekatan kepelatihan.

Bernardo Tavares dikenal dengan struktur permainan disiplin dan analisis detail, tetapi kini dituntut menemukan solusi cepat atas inkonsistensi timnya.

Tomas Trucha, sebaliknya, sedang berada dalam fase membangun identitas permainan PSM—sebuah proses yang mulai menunjukkan bentuk meski belum sepenuhnya stabil.

Keduanya sama-sama tidak memiliki ruang untuk kalah.

Bagi Persebaya, kemenangan adalah cara meredam krisis dan mengembalikan kepercayaan publik. Bagi PSM, hasil positif bisa menjadi titik balik musim sekaligus legitimasi bahwa proyek permainan Trucha berjalan ke arah yang benar.

Pada akhirnya, laga ini bukan hanya soal siapa mencetak gol lebih banyak.

Ini tentang siapa yang lebih siap menghadapi tekanan—dan siapa yang mampu mengubah pelajaran dari kekalahan menjadi kemenangan berikutnya.

Persebaya Surabaya Kontra PSM Makassar: Laga Pertaruhan Reputasi Bernardo Tavares dan Tomas Trucha

FAJAR, MAKASSAR — Pertandingan antara Persebaya Surabaya dan PSM Makassar pada pekan ke-23 Super League 2025/2026 bukan sekadar perebutan tiga poin. Di Stadion Gelora Bung Tomo, Rabu malam (25/2/2026), dua pelatih akan membawa beban yang jauh lebih besar dari sekadar strategi: reputasi.

Februari yang semula menjanjikan bagi Persebaya berubah menjadi bulan penuh kegelisahan. Green Force datang ke laga ini dengan dua kekalahan beruntun yang menggerus kepercayaan diri tim sekaligus mengundang sorotan publik terhadap kepemimpinan pelatih Bernardo Tavares.

Kekalahan 1-3 dari Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini menjadi pukulan paling terasa. Sebelumnya, Persebaya juga tumbang 1-2 dari Bhayangkara Presisi Lampung FC. Dalam waktu singkat, grafik performa tim jatuh dari stabil menjadi rapuh.

Padahal awal bulan berjalan berbeda. Hasil imbang melawan Dewa United FC dan kemenangan meyakinkan atas Bali United sempat menghadirkan optimisme bahwa Persebaya menemukan ritme permainan.

Namun konsistensi kembali menjadi persoalan klasik. Dari empat laga Februari, hanya satu kemenangan yang berhasil diraih.

Ketika Dominasi Tak Lagi Berarti

Bernardo Tavares sebenarnya tidak sepenuhnya kehilangan argumentasi. Secara permainan, Persebaya kerap tampil dominan. Masalahnya, dominasi itu gagal diterjemahkan menjadi efektivitas.

Melawan Persijap, Persebaya unggul penguasaan bola 51 persen dan menciptakan 13 tembakan. Tetapi hanya empat yang mengarah tepat ke gawang. Sebaliknya, lawan tampil lebih efisien: lima tembakan tepat sasaran menghasilkan tiga gol.

Bagi Tavares, kegagalan itu berakar pada satu masalah mendasar—transisi.

“Kami punya dua sampai tiga peluang di babak pertama, tapi kami buruk dalam transisi defensif. Persijap mencuri gol lewat situasi itu,” ujarnya, seperti dikutip dari kanal resmi klub.

Peluang demi peluang sebenarnya hadir. Tendangan Jefferson membentur tiang, sepakan Bruno Moreira melenceng tipis, dan beberapa situasi di kotak penalti gagal diselesaikan dengan baik.

Di sinilah frustrasi muncul. Analisis pertandingan yang disiapkan staf pelatih tidak berjalan sesuai rencana di lapangan.

“Analisis kami tidak dapat diterapkan untuk meredam permainan mereka,” kata pelatih asal Portugal tersebut.

Sepak bola modern sering kali menghukum tim bukan karena bermain buruk, melainkan karena gagal memanfaatkan momentum kecil.

Persebaya sedang berada di fase itu.

PSM dan Pelajaran dari Kekalahan

Di sisi lain, PSM Makassar datang dengan situasi yang berbeda—tidak sepenuhnya nyaman, tetapi membawa pelajaran penting.

Kekalahan dari Persija Jakarta justru memberikan gambaran baru bagi pelatih Tomas Trucha tentang identitas permainan timnya. PSM mampu menekan tuan rumah dalam beberapa fase pertandingan dan menciptakan tekanan yang konsisten.

Salah satu gol Persija bahkan lahir dari kesalahan individu penjaga gawang Rezky Arya, bukan dominasi total permainan.

Artinya, struktur permainan PSM mulai terbentuk.

Trucha melihat bahwa timnya mampu bertahan dalam tekanan tinggi sekaligus menyerang melalui transisi cepat—model permainan yang berpotensi efektif menghadapi Persebaya yang tengah bermasalah dalam organisasi bertahan.

PSM datang tanpa beban besar. Posisi ini sering kali justru berbahaya bagi tuan rumah.

Duel Mental di Gelora Bung Tomo

Pertandingan ini menghadirkan keseimbangan psikologis yang menarik. Persebaya memiliki dukungan penuh Bonek di Gelora Bung Tomo—energi yang bisa menjadi kekuatan sekaligus tekanan.

Sementara PSM bermain dengan ruang yang lebih bebas. Tidak ada tuntutan wajib menang sebesar yang dihadapi tuan rumah.

Dalam sepak bola, momentum mental sering kali lebih menentukan dibanding statistik.

Jika Persebaya gagal mencetak gol lebih dulu, atmosfer stadion dapat berubah menjadi tekanan internal. Sebaliknya, satu gol cepat PSM berpotensi menggeser arah pertandingan secara drastis.

Pertaruhan Dua Filosofi

Di atas lapangan, laga ini menjadi pertarungan dua pendekatan kepelatihan.

Bernardo Tavares dikenal dengan struktur permainan disiplin dan analisis detail, tetapi kini dituntut menemukan solusi cepat atas inkonsistensi timnya.

Tomas Trucha, sebaliknya, sedang berada dalam fase membangun identitas permainan PSM—sebuah proses yang mulai menunjukkan bentuk meski belum sepenuhnya stabil.

Keduanya sama-sama tidak memiliki ruang untuk kalah.

Bagi Persebaya, kemenangan adalah cara meredam krisis dan mengembalikan kepercayaan publik. Bagi PSM, hasil positif bisa menjadi titik balik musim sekaligus legitimasi bahwa proyek permainan Trucha berjalan ke arah yang benar.

Pada akhirnya, laga ini bukan hanya soal siapa mencetak gol lebih banyak.

Ini tentang siapa yang lebih siap menghadapi tekanan—dan siapa yang mampu mengubah pelajaran dari kekalahan menjadi kemenangan berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hakim PN Sleman Vonis Tahanan Politik Kasus Perusakan Tenda Polda DIY 5 Bulan 3 Hari, Perdana Arie Segera Bebas dari Tahanan
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
Ini Untung Rugi RI Mau Impor BBM-LPG USD 15 Miliar dari AS
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Puting Berdarah Hingga Kurang Tidur, Vior Bagikan Drama Minggu Pertama Jadi Ibu yang Penuh Air Mata
• 13 jam laluintipseleb.com
thumb
Warga Keluhkan Trotoar Menyempit, Puluhan Motor yang Parkir Liar di Glodok Terjaring Operasi Cabut Pentil
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
Jelang Malut United Vs Persija di BRI Super League 2025/2026, Jordi Amat Ingin Pertahankan Momentum
• 14 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.