Slogan ”Gemar Makan Ikan” terus digaungkan untuk mendorong ikan menjadi pilihan konsumsi masyarakat. Harga ikan dinilai lebih terjangkau dibandingkan dengan sumber protein hewani lain, seperti daging sapi dan ayam.
Namun, kondisi tengah berbalik. Harga beberapa komoditas ikan melejit sampai 50-100 persen. Pantauan di Pasar Segar Pasar Minggu, Jakarta, Senin (23/2/2026), harga ikan kembung banjar bertengger di Rp 60.000 per kg, ikan layang Rp 62.000 per kg, dan ikan tongkol basah Rp 71.000 per kg.
Kenaikan harga juga tecermin di wilayah timur Indonesia yang merupakan salah satu daerah penghasil ikan laut. Data sistem informasi terpadu Dinas Kelautan dan Perikanan Sulawesi Barat mencatat, harga ikan kembung banjar berkisar Rp 45.000-Rp 50.000 per kg, ikan kembung layang menyentuh Rp 40.000-Rp 50.000 per kg, sedangkan tongkol di kisaran Rp 30.000-Rp 45.000 per kg. Harga ikan terkerek sejak awal tahun 2026.
Ketua Koperasi Nelayan Indonesia Indar Wijaya mengungkapkan, lonjakan harga hampir seluruh komoditas ikan laut terjadi di seluruh rantai pasok, mulai dari tingkat pengepul hingga pasar. ”Beberapa komoditas ikan yang biasanya lebih murah dibandingkan harga ayam broiler, kini justru lebih mahal. Pasokan ikan menurun di sejumlah wilayah,” kata Indar saat dihubungi pada Senin (23/2/2026).
Di tingkat pengepul, harga ikan layang dari yang biasanya di kisaran Rp 11.000-Rp 15.000 per kg kini melonjak hingga Rp 31.000 per kg. Ikan kembung banjar yang biasanya Rp 20.000 per kg menjadi Rp 38.000 per kg, sedangkan tongkol dari yang rata-rata Rp 20.000 per kg menjadi Rp 31.000 per kg.
Kenaikan harga ikan laut yang drastis jauh melampaui harga ayam broiler yang saat ini berkisar Rp 39.000-Rp 43.000 per kg. Dari data Badan Pusat Statistik, kelompok daging ayam ras dan beberapa komoditas pertanian lain turut menyumbang deflasi pada Januari 2026 sebesar 0,15 persen.
”Muncul kesan, ikan laut semakin sulit dibeli masyarakat dan hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan terbatas,” ujar Indar.
Selama ini, komoditas ikan laut memiliki harga yang bervariasi menurut jenis ikan. Ikan jenis tuna, bawal laut, kakap merah, dan gabus memiliki harga rata-rata di atas Rp 60.000 per kg. Sementara ikan kembung, tongkol, dan layang dikenal memiliki harga lebih murah ketimbang ayam broiler. Ada pula komoditas ikan air tawar, seperti nila, patin, mas, dan bandeng dengan harga yang lebih terjangkau ketimbang ikan laut.
Indar menduga lonjakan harga hampir seluruh komoditas ikan laut dipicu oleh cuaca buruk perairan sejak akhir 2025 dan proses perpanjangan izin kapal-kapal perikanan serentak pada awal 2026. Akibatnya, pasokan ikan menurun dan harga terdongkrak naik. Fluktuasi harga ikan laut dinilai menjadi penghambat daya saing pasar.
”Harga ikan yang cepat naik biasanya butuh waktu untuk kembali turun. Dibutuhkan upaya untuk mendorong pasokan ikan laut lewat kemudahan perizinan kapal-kapal nelayan,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia Saut Hutagalung mengemukakan, hasil tangkapan ikan menurun selama Januari-Februari akibat cuaca yang kurang mendukung.
”Pasokan berkurang berakibat pada harga cenderung naik, tentu ini mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya, Senin.
Ia menambahkan, dalam kondisi menurunnya stok, sistem logistik berperan penting mengalirkan ikan dari daerah yang pasokan ikan relatif banyak ke daerah yang kurang pasokan.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Machmud, secara terpisah, mengemukakan, kenaikan harga beberapa jenis ikan karena kondisi stok dan meningkatnya permintaan. Namun, secara umum, ketersediaan ikan nasional dalam kondisi aman dari hasil tangkapan dan hasil budidaya.
Berdasarkan pantauan KKP pada 20 Februari 2025 di beberapa lokasi, harga ikan kembung di tingkat nelayan dan pengepul berkisar Rp 30.000- Rp 40.000 per kg, sedangkan di tingkat pasar eceran tradisional Rp 40.000-Rp 50.000 per kg. Harga ikan cakalang mengalami kenaikan di Sulawesi, tetapi secara nasional masih tergolong stabil. Kakap juga dominan stabil dengan kenaikan harga di beberapa provinsi, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Gorontalo, dan Jakarta.
Machmud menambahkan, harga ikan cenderung berbeda-beda tergantung jenis, ukuran, dan bentuk produk. Hal itu memberikan pilihan beragam kepada konsumen, sesuai keinginan dan keterjangkauan. Semua jenis ikan konsumsi dinilai memiliki manfaat bagi kesehatan karena tinggi protein, mengandung mineral, vitamin, dan omega 3.
Preferensi konsumsi ikan masyarakat Jakarta terutama ikan kembung, lele, tongkol, nila, udang, dan bandeng. Produk ikan air tawar memiliki harga yang cenderung lebih terjangkau. KKP memastikan ketersediaan aman selama Ramadhan.
”Harga jenis ikan lain masih banyak di bawah harga ayam broiler. Banyak pilihan,” katanya, akhir pekan lalu.
Direktur Kepelabuhanan Perikanan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Ady Candra mengemukakan, terjadi penurunan produksi akibat musim barat yang ditandai curah hujan tinggi serta gelombang besar yang membuat aktivitas penangkapan ikan terganggu. Produksi perikanan tangkap hingga Maret 2026 diproyeksikan 1,73 juta ton. Meski begitu, ia yakin produksi ikan akan kembali meningkat dan stok aman menjelang Lebaran.
”Diproyeksikan awal Maret (produksi) akan mulai meningkat dan biasanya menjelang Idul Fitri juga akan banyak kapal ikan yang kembali, terutama di pantai utara Jawa, sehingga mendorong peningkatan produksi dari sektor perikanan tangkap,” kata Ady dalam keterangan pers, akhir pekan lalu.
Dari data KKP, di Provinsi Jakarta, sebanyak 3.726 kapal perikanan telah memiliki izin, dengan rincian 2.312 kapal berpangkalan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Muara Angke dan 1.414 kapal di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman. Per 12 Februari 2026, terdapat 127 kapal perikanan dalam proses pemenuhan persyaratan perizinan.
Anggota Komisi IV DPR, Rokhmin Dahuri, menilai, kesulitan masyarakat untuk menjangkau hasil perikanan laut merupakan ironi negeri kelautan. Paradoks negara kelautan yang masyarakatnya susah menjangkau harga ikan seharusnya bisa dihindari jika ada pengawasan rantai pasok dari produksi, distribusi, hingga ke pasar. Keberpihakan negara diperlukan agar pasokan ikan terjaga dan dapat terjangkau masyarakat secara luas.
”Stok aman seharusnya tecermin dari harga yang wajar. Kalau harga ikan melonjak, tetapi klaim stok dinyatakan aman, maka ada potensi masalah logistik. Ini harus diusut tuntas,” kata Rokhmin.
Persoalan cuaca buruk dan perpanjangan izin kapal rutin terjadi setiap awal tahun sehingga perlu diantisipasi. Akar persoalan penurunan pasokan ikan saat musim angin barat seharusnya diatasi dengan membenahi rantai distribusi, seperti memperbanyak angkutan, mulai dari titik produsen, gudang penyimpan, hingga ke konsumen. Selain itu, kemudahan proses perpanjangan izin.





