Di lapangan, di tengah hujan gerimis, puluhan siswa SMA Negeri 2 Surabaya, Jawa Timur, telah bersiap, Senin (23/2/2026). Tangan mereka membawa minuman dan makanan. Dari arah gerbang sekolah, petugas membawa spanduk, mengarahkan warga untuk masuk dan mendapatkan takjil gratis. Dalam waktu singkat, makanan dan minuman yang dibawa siswa pun berpindah tangan.
Tidak hanya pengguna sepeda motor, ada juga warga yang datang dengan sepeda angin ataupun berjalan kaki. Banyak dari mereka adalah warga yang pulang kerja, juga pengendara ojek daring yang sedang menunggu atau mengantarkan penumpang.
Makanan dan minuman yang dibagikan beraneka ragam. Ada kue, roti, minuman kemasan, hinga nasi kuning. Makanan dan minuman tersebut didapat dari hasil sumbangan siswa kelas XII yang sedang mengikuti Pondok Ramadhan di sekolah. Warga pun yang menerima bisa memilih makanan yang dikehendaki.
Kepala SMA Negeri 2 Surabaya Titik Hariani mengungkapkan bahwa bagi-bagi takjil oleh siswa tersebut merupakan agenda rutin dalam rangka kegiatan Pondok Ramadhan. ”Jadi, selama tiga hari ini seluruh siswa Muslim mengikuti Pondok Ramadhan. Sementara siswa Nasrani mengikuti kegiatan Pondok Kasih dan yang Hindu mengikuti Pondok Dharma. Semoga di bulan ini siswa dapat meningkat spiritualitasnya sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap sesama dengan melakukan kegiatan yang berdampak langsung ke masyarakat,” kata Titik di tengah memantau pembagian takjil.
”Makanan dan minuman yang dibagikan merupakan sumbangan dari siswa. Jadi, yang membagikan takjil tersebut hanya sebagian dari siswa kelas XII. Sedangkan sebagian lagi mengantarkan sembako ke tempat lain, seperti liponsos. Kegiatan ini diharapkan bisa menumbuhkan rasa bersyukur,” ujar Titik.
Salah satu siswa yang sedang mengikuti Pondok Dharma, Putu Lupita Anindya Maheswari, merasa senang bisa diperkenankan berpartisipasi dalam pembagian takjil walau berbeda keyakinan. Sejak pembagian takjil dimulai, dia tidak kalah sibuk dari teman-teman yang lain. Setelah berhasil membagikan, ia pun bergegas mengambil takjil lain untuk dibagikan kepada warga yang telah menunggu.
”Saya sangat senang bisa mendapatkan pengalaman baru. Bisa ikut membagikan takjil. Rasanya senang sekali melihat takjil diterima masyarakat luas,” kata Putu Lupita.
Pembagian takjil tidak berlangsung lama, sekitar 30 menit. Namun, pengalaman yang tidak seberapa lama itu menjadi modal besar siswa untuk menjadi manusia yang peduli terhadap sesama.





