jpnn.com - JAKARTA - Institut Nahdliyin Nusantara (Insantara) merilis 14 nama yang punya potensi menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU).
Diketahui, rapat pleno PBNU menyepakati Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026.
BACA JUGA: Muncul Gagasan Penggunaan AHWA dalam Pemilihan Ketua PBNU
Peneliti Insantara Wildan Efendy dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (24/2), mengatakan pihaknya menentukan nama-nama kandidat ketum PBNY tersebut berdasarkan tiga aspek utama.
Tiga aspek tersebut, yakni tingkat popularitas, rekam jejak, serta hasil wawancara mendalam dengan pengurus hingga warga NU.
BACA JUGA: Duet Maruf Amin-Abdussalam Shohib Bisa Kembalikan Jati Diri PBNU
Berdasarkan hal itu, kata dia, terdapat 14 nama yang terbagi dalam empat klaster.
Adapun dua nama di antaranya adalah petahana Yahya Cholil Staquf alias Gus Yahya dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat sekaligus Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa Abdul Muhaimin Iskandar alias Cak Imin.
BACA JUGA: PBNU Dukung Indonesia Bergabung dengan Board of Peace, Sebut Demi Lindungi Palestina
Berikut 14 nama kandidat calon ketum PBNU menurut Insantara yang terbagi dalam 4 klaster.
Klaster Internal PBNU:1. Gus Yahya
2. Mohammad Nuh
3. Syaifullah Yusuf
4. Zulfa Mustofa.
Klaster PWNU:5. Abdul Ghaffar Razin
6. Abdul Hakim Mahfudz
7. Juhadi Muhammad.
Klaster Tokoh NU dan Pesantren:8. Imam Jazuli
9. Abdussalam Shohib
10. Yusuf Chudlori
11. Marzuqi Mustamar.
Klaster Tokoh Politik dan Pemerintahan:12. Cak Imin
13. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid
14. Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Wildan Efendy mengatakan aspirasi pengurus wilayah, cabang, dan warga kultural sangat kuat untuk terpilihnya Ketum PBNU yang baru.
“Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU,” kata dia. (antara/jpnn)
Simak! Video Pilihan Redaksi:
Redaktur & Reporter : Soetomo Samsu




