Jika Mampu Stop Merokok Selama Puasa, Mengapa Tak Selamanya Saja?

kompas.id
4 jam lalu
Cover Berita

Selama berpuasa, umat Muslim di Indonesia harus menahan lapar, haus, dan berbagai kebiasaan sehari-hari dari fajar hingga maghrib. Tanpa disadari sekitar 12 jam lamanya, tubuh dan pikiran bisa terlepas dari candu nikotin. Ini merupakan momentum bagi para perokok berlatih untuk berhenti selamanya.

Program berhenti merokok dari Kementerian Kesehatan juga sering memanfaatkan momentum Ramadhan untuk mendorong warga mengurangi konsumsi rokok. Sebab, periode tanpa rokok selama puasa memberi kesempatan tubuh membersihkan diri dari zat berbahaya. Kadar nikotin perlahan turun, indra penciuman membaik, dan napas lebih lega.

Dalam waktu singkat setelah berhenti merokok, tubuh akan menunjukkan perubahan positif. Hanya dalam 20 menit, tekanan darah, denyut nadi, dan aliran darah tepi membaik. Dalam 12 jam, hampir seluruh nikotin telah dimetabolisme dan kadar karbon monoksida dalam darah kembali normal, membuat suplai oksigen ke organ tubuh meningkat.

Perbaikan berlanjut pada hari-hari berikutnya. Dalam 1–2 hari, nikotin mulai tereliminasi dari tubuh, sementara fungsi pengecap dan penciuman membaik serta sistem kardiovaskular bekerja lebih optimal.

Sekitar hari ke-5, sebagian besar metabolit nikotin sudah hilang, kemampuan perasa dan pembau semakin tajam, dan kesehatan jantung serta pembuluh darah terus menunjukkan peningkatan.

Secara logika, jika seseorang bisa berhenti merokok selama 12 jam saat berpuasa, seharusnya ia bisa berhenti merokok selamanya. Artinya, yang utama adalah niat dan kesadaran penuh untuk mau berhenti merokok.

"Jadi jika merokok lagi saat berbuka puasa membuat Anda sulit berhenti merokok, artinya pengendalian diri anda belum kuat. Anda berhenti merokok saat puasa sebatas karena agama, tidak karena kesadaran bahwa merokok itu membahayakan kesehatan Anda," kata dokter spesialis paru Erlina Burhan, Selasa (24/2/2026).

Berbuka puasa dianjurkan dengan air putih dan makanan bergizi, bukan rokok.

Namun, lanjut Erlina, tantangan sesungguhnya sering datang menjelang imsak atau setelah azan magrib. Usai makan berat, secangkir kopi bersama sebatang rokok terasa seperti ritual yang sulit dilepas para perokok. Butuh niat yang teguh untuk melawan godaan ini.

Baca JugaWHO Desak Indonesia Naikkan Cukai Rokok

Menurut Erlina, berbagai godaan untuk merokok itu harus dilawan dengan menggantinya dengan kebiasaan kecil. Sebagian orang memilih permen karet, minum teh hangat, membaca buku, atau berolahraga ringan. Kunci utamanya adalah menjaga tangan dan pikiran tetap sibuk.

Tak kalah sulit adalah lingkungan. Nongkrong bersama teman perokok bisa menjadi godaan berat. Banyak orang yang berhasil berhenti memilih untuk sementara menjauh dari situasi yang memicu keinginan merokok.

Dukungan keluarga

Dukungan keluarga juga berperan besar. Buanglah asbak dan semua rokok yang ada di rumah. Jika perlu, buatlah papan peringatan larangan atau bahaya merokok di rumah sebagai pengingat diri.

"Yang utama adalah niat yang teguh dan kesadaran untuk hidup sehat di tengah keluarga yang juga sehat karena tidak ada asap rokok yang mereka hirup," ucap Guru Besar Tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.

Baca JugaRokok Ancam Generasi Emas

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama menambahkan, merokok saat berbuka puasa akan memperparah kondisi tubuh relatif lemah setelah seharian tidak makan dan minum. Sebab, ketika perut kosong langsung dimasukkan zat-zat berbahaya pada rokok, hal itu menimulkan dampak buruk.

Salah satu bahaya yang dapat terjadi ketika seseorang langsung merokok saat berbuka puasa adalah tubuh akan merasakan mual dan pusing. Kandungan karbon monoksida yang masuk ke tubuh dapat mempengaruhi hemoglobin, sehingga tubuh kekurangan oksigen.

Gangguan lainnya yang dapat terjadi saat langsung merokok pada waktu berbuka puasa adalah merasakan nyeri seperti terbakar pada dada atau heartburn. Kemudian, tukak lambung karena mengurangi kandungan natrium bikarbonat yang dapat menetralkan asam lambung diproduksi oleh pankreas.

Baca JugaRokok Bukan Budaya Indonesia

Risiko kanker paru-paru pun akan meningkat jika langsung merokok saat berbuka puasa. Kandungan nikotin yang masuk saat perut masih kosong dapat membuat racun langsung memberi dampak pada organ dalam tubuh, sehingga kanker paru-paru lebih berisiko terjadi.

"Jangan buka puasa dengan merokok. Berbuka puasa dianjurkan dengan air putih dan makanan bergizi, bukan rokok," kata Tjandra.

Oleh karena itu, Ramadhan hanya datang setahun sekali, tapi keputusan berhenti merokok bisa mengubah sisa hidup selamanya. Puasa mengajarkan bahwa menahan diri tak sekadar ritual, tapi latihan keteguhan. Di antara lapar, haus, dan doa-doa yang terpanjat, banyak orang menemukan kesempatan memulai hidup lebih sehat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cuaca Ekstrem Ancam Sulsel 24 Februari -1 Maret
• 7 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Pledoi Marcella Santoso: Minta Divonis Bebas dan Tuntutan Cabut Izin Advokat Dibatalkan
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Banjir di Bali, 60 Wisatawan Asing Dievakuasi dari Hotel
• 3 jam lalukumparan.com
thumb
Eks Dirut KAI Ignasius Jonan Diangkat Jadi Presiden Komisaris Soho Global (SOHO)
• 28 menit lalubisnis.com
thumb
DPR Tidak Pernah Putuskan Penutupan Ritel Modern, Said Abdullah: Kewenangan Ada pada Pemerintah
• 20 jam laluliputan6.com
Berhasil disimpan.