Bisnis.com, BANDA ACEH — Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meresmikan 41 Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) NU di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel, Lombok Barat, sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat kualitas gizi santri dan mendukung program strategis nasional.
Peresmian yang berlangsung Sabtu (21/2/2026) itu menjadi peluncuran keempat setelah sebelumnya digelar di Cirebon, Jember, dan Batang. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, jajaran pimpinan PBNU, serta perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Data menunjukkan banyak santri kita yang kenyang secara kuantitas namun masih mengalami masalah kesehatan seperti anemia karena gizi yang tidak seimbang. Program ini hadir untuk memperbaiki kualitas sumber daya manusia pesantren agar lahir generasi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Yahya Cholil Staquf, dikutip dari NU Online, Senin (23/2/2026).
Kerja sama PBNU dengan Badan Gizi Nasional telah dimulai sejak peringatan Harlah ke-102 NU pada Februari 2025. Target pembangunan 1.000 titik SPPG di seluruh Indonesia sebagai bentuk dukungan NU terhadap program strategis Presiden.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui SPPG diposisikan sebagai wujud sinergi NU dan pemerintah dalam menghadirkan layanan gizi yang terstandar di lingkungan pesantren.
Ketua PWNU NTB Masnun Tahir menyatakan peluncuran SPPG di Pesantren Darul Qur’an Bengkel merupakan kelanjutan dari marwah perjuangan Datuk Bengkel, rais syuriah pertama PWNU NTB. Dia memandang program tersebut sebagai bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat.
Baca Juga
- Didorong MBG, Belanja Pemerintah Tumbuh 25,7% Pada Januari 2026
- Efek MBG dan Kopdes Merah Putih, Sektor Logistik Diramal Tumbuh 8%
- Menko Zulhas Tegaskan MBG Tetap Berjalan Normal Selama Ramadan, Menu Diganti Makanan Kering
Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah 2 BGN Nurjaeni memberikan apresiasi atas capaian PBNU dan menyebut SPPG bukan hanya dapur penyedia makanan halal dan aman, tetapi juga diproyeksikan sebagai pusat perubahan perilaku gizi atau center of excellence.
Saat ini, tercatat 188 SPPG telah berdiri dan 205 lainnya dalam tahap persiapan. Sebagian ditargetkan menjadi unit percontohan nasional yang dapat menjadi rujukan bagi negara-negara ASEAN.
Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menekankan pentingnya pembentukan forum pengelola dapur di bawah fasilitasi TKA-PBNU guna menjaga standardisasi dan keberlanjutan program di berbagai provinsi. Langkah tersebut diharapkan memperkuat kemandirian pangan warga Nahdliyin dan masyarakat luas.
Sementara itu, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal menyoroti dampak ekonomi mikro dari keberadaan dapur-dapur pesantren yang menyerap bahan pangan dari petani, peternak, dan UMKM lokal.
“Pesantren akan menjadi basis baru kekuatan ekonomi umat. Dimulai dari SPPG, kita berharap ini merambah ke kemandirian peternakan dan pertanian di lingkungan pesantren. Jika ini terjadi, kekuatan ekonomi rakyat akan tercipta secara masif,” ujar Iqbal.
Adanya peluncuran 41 SPPG di Lombok, NU menegaskan peran strategis pesantren tidak hanya sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai penggerak peningkatan kualitas gizi dan pemberdayaan ekonomi.





