Perusahaan milik konglomerat Prajogo Pangestu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), melalui anak usahanya Star Energy Geothermal kian bergeliat di bisnis panas bumi. Perusahaan teknologi energi global SLB menggandeng Star Energy Geothermal melalui penandatanganan untuk mendukung pengembangan proyek panas bumi sekaligus penerapan teknologi di masa depan, baik di Indonesia maupun di pasar internasional.
Dalam pengumuman terbaru manajemen BREN menyatakan kerja sama ini mencakup desain dan perencanaan pengembangan lapangan pada proyek panas bumi Sekincau di Indonesia. Selain itu, kedua perusahaan juga menyusun kerangka kolaborasi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merencanakan peluang proyek panas bumi ke depannya, termasuk di kawasan Amerika Utara.
Dari aksi ini juga perusahaan bekerja sama untuk menyediakan layanan pengeboran terintegrasi untuk tahap pengembangan proyek Sekincau. Kerja sama ini menandai fase baru hubungan antara kedua perusahaan yang sebelumnya telah terjalin dalam kolaborasi teknologi. Lalu kini berkembang menuju tahap perencanaan hingga eksekusi proyek dengan memanfaatkan teknologi serta keahlian teknis dari SLB.
Group CEO Star Energy Geothermal sekaligus Presiden Direktur BREN, Hendra Tan, mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk membentuk masa depan energi panas bumi secara global. Menurutnya, perusahaan melihat peran sebagai upaya untuk mengubah potensi tersebut menjadi dampak nyata bagi pengembangan energi bersih.
“Kolaborasi ini menandai langkah tegas dalam membangun keahlian yang berakar di Indonesia dan dapat diperluas ke tingkat internasional,” ucap Hendra dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (24/2).
Selain itu ia mengatakan kolaborasi dengan SLB menggabungkan kapabilitas operasional Star Energy Geothermal yang telah teruji dengan kekuatan global SLB dalam aspek subsurface dan eksekusi proyek.
Menurut dia, sinergi tersebut menjadikan energi panas bumi tidak hanya sebagai pilar transisi energi Indonesia, tetapi juga sebagai solusi yang dapat diterapkan secara global untuk mempercepat penurunan emisi.
“Dan meningkatkan ketahanan energi serta menciptakan nilai berkelanjutan lintas benua,” katanya.
Berdasarkan perjanjian tersebut, SLB menargetkan peningkatan efisiensi pengembangan proyek, sekaligus menekan risiko subsurface dan risiko eksekusi. Langkah ini diharapkan dapat mendukung realisasi proyek panas bumi yang layak secara teknis maupun komersial.
Managing Director Indonesia SLB, Nurzhan Ongaltayev, mengatakan teknologi canggih, keahlian teknis hingga disiplin operasional menjadi faktor penting untuk mempercepat pengembangan proyek panas bumi.
Ia menyebut melalui perjanjian dan peluang kolaborasi baru ini, SLB menghadirkan keahlian konsultasi subsurface dan pengalaman eksekusi global untuk mendukung pengembangan panas bumi.
“Mulai dari pelaksanaan proyek di Indonesia hingga evaluasi peluang di luar negeri,” ucapnya.




