Penulis: Yudha Marutha
TVRINews, Denpasar
Wujud toleransi antarumat beragama kembali terlihat di Kota Denpasar selama bulan suci Ramadan. Sejumlah pecalang turut mengamankan pelaksanaan salat tarawih umat Muslim di Masjid At-Taqwa, Jalan WR Supratman, Denpasar.
Pengamanan ini telah berlangsung dari tahun ke tahun. Pecalang dari sejumlah banjar di sekitar masjid bersiaga sejak sore hari untuk memastikan ibadah berjalan aman dan lancar. Mereka berkoordinasi dengan aparat kepolisian serta satuan tugas internal masjid guna menjaga suasana tetap kondusif selama rangkaian ibadah Ramadan.
Koordinator Peribadatan Masjid At-Taqwa, Muhamad Kosim, mengatakan kehadiran pecalang sangat membantu, terutama dalam pengaturan lalu lintas dan keamanan jemaah.
“Kami sangat terbantu dengan kehadiran pecalang. Ini bentuk kebersamaan yang sudah terjalin lama, sehingga umat bisa beribadah dengan tenang dan khusyuk,” ujar Muhamad Kosim, dikutip Selasa, 24 Februari 2026.
Pecalang merupakan satuan pengamanan adat di Bali yang berada di bawah struktur desa adat dan banjar. Selain mengamankan kegiatan adat dan keagamaan umat Hindu, pecalang juga kerap dilibatkan dalam pengamanan kegiatan lintas agama sebagai wujud semangat menyama braya atau persaudaraan.
Salah seorang pecalang, Ketut Gede Darsana, menegaskan keterlibatan mereka dilandasi semangat menjaga kerukunan.
“Kami bertugas secara bergiliran. Ini bentuk tanggung jawab bersama untuk menjaga keamanan dan toleransi di lingkungan kami,” katanya.
Selama Ramadan, pecalang mulai bertugas sekitar pukul 18.00 WITA hingga salat tarawih selesai. Pengamanan dilakukan setiap hari secara bergiliran dalam beberapa regu. Mereka membantu mengatur parkir kendaraan jemaah serta mengantisipasi potensi gangguan keamanan di sekitar area masjid.
Setiap hari, sekitar 250 hingga 300 umat Muslim mendatangi Masjid At-Taqwa untuk berbuka puasa bersama, dilanjutkan salat Isya dan tarawih. Seusai tarawih, sebagian jemaah dan remaja masjid melanjutkan kegiatan tadarus Al-Qur’an.
Kehadiran pecalang di tengah aktivitas ibadah tersebut menjadi simbol harmonisasi sosial di Bali. Praktik saling menjaga dan menghormati antarumat beragama memperkuat citra Denpasar sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan keberagaman.
Editor: Redaksi TVRINews





