SBY: Dulu Seolah Angkatan Darat Diutamakan, Kini Air Power Sangat Penting

kompas.com
15 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengulas prioritas kekuatan militer Indonesia di masa lalu yakni angkatan darat yang kini perlu diubah.

“Dulu kan seolah-olah untuk Indonesia diutamakan angkatan darat atau army. Sekarang, air power ini sangat penting," kata SBY saat memberikan kuliah umum di Gedung Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Baca juga: SBY: Jika Ada Serangan Udara ke Jakarta, Apa yang Kita Lakukan?

Saat ini, perang modern tidak lagi sepenuhnya bertumpu pada kekuatan darat.

Ia kemudian mencontohkan skenario bagaimana kesiapan daerah-daerah di Indonesia, salah satunya Jakarta, ketika dihadapkan dengan serangan udara.

“Sekarang begitu ada air strike menghancurkan Jakarta, Pindad di Bandung, PAL di Surabaya, kota-kota yang lain apa yang kita lakukan? Hayo?" tanya SBY.

Baca juga: SBY Tekankan Penguatan ASEAN di Tengah Dinamika Geopolitik Global

Dalam konteks ancaman modern, kekuatan udara (air power) menjadi sangat menentukan.

Dia menjelaskan, pada masa lalu doktrin pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Hankamrata) menitikberatkan pada strategi menghadang musuh di perbatasan, mempertahankan pantai dan pulau-pulau besar, hingga perang gerilya dan serangan balasan.

“Itu kan doktrinnya dulu,” ucapnya.

Namun, menurut SBY, perkembangan teknologi militer membuat pola serangan bisa berlangsung cepat dan langsung menyasar pusat pemerintahan maupun objek vital strategis.

Karena itu, Indonesia harus membangun sumber daya, meningkatkan keterampilan, serta menyusun kebijakan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

“Kita masih perlu, resource kita, kita bangun, skill kita harus dibangun, policy-nya harus dibikin. Jadi bagi saya apapun harus siap karena kita tidak bisa pilih-pilih," katanya.

Perang siber

SBY juga bicara soal prang siber yang menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Dunia AI, dunia robotik, dunia beyond conventional thinking, conventional warfare, kita harus siap. Jadi jangan takut," kata SBY, Senin.

Baca juga: SBY Ingatkan Potensi Perang Dunia Ketiga dan Konflik Nuklir: Sinyalnya Sangat Kuat

Ia menilai, Indonesia tidak bisa lagi hanya mengandalkan doktrin lama yang menempatkan angkatan darat sebagai kekuatan utama.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

SBY menegaskan, konsep perang modern dan peperangan hybrid (hybrid warfare) menuntut kesiapan menyeluruh, baik dari sisi militer konvensional, siber, teknologi, maupun doktrin pertahanan.

“Jadi ini modern warfare, modern teknologi, modern doctrine, semuanya harus siap. Dan kalau hybrid intinya, tidak memilih. Semuanya harus siap dilakukan. Intinya begitu," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ban Overheat dan Motor Ga Mau Belok, Ada Apa dengan Yamaha V4 di MotoGP?
• 22 jam lalumedcom.id
thumb
Pramono Ungkap Penyebab Bus Transjakarta Adu Banteng di Jalur Langit Koridor 13 hingga Sebabkan 23 Orang Terluka
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Puasa Keempat: Membaca Wadi Ar-Rummah antara Sains dan Nubuat
• 11 jam lalukumparan.com
thumb
46 Personel Polres Metro Depok Jalani Tes Urine Dadakan, Kapolres-Kapolsek Ikut Diperiksa
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Akhirnya AS Tarik Total Semua Pasukannya dari Negara Arab Ini
• 9 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.