JAKARTA, KOMPAS.com - Co-founder Gojek, Kevin Aluwi, menjelaskan alasan Gojek harus bekerja sama dan banyak menggunakan produk Google.
Hal ini terungkap ketika Nadiem Makarim selaku terdakwa sekaligus eks Mendikbudristek bertanya langsung kepada Kevin hadir dalam sidang lanjutan kasus dugaan korupsi laptop berbasis Chromebook.
“Apakah GoTo atau Gojek akan harus terpaksa, karena core bisnisnya, berkolaborasi dengan Google, dengan Maps, dengan Google Play Store, dan layanan-layanan lainnya?” tanya Nadiem dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (23/2/2026).
Baca juga: Hakim Cecar Komunikasi Nadiem dan Pihak Gojek Saat Jabat Menteri
Kevin menjelaskan, sejak awal Gojek sudah menggunakan produk Google meski belum ada investasi yang masuk.
“Kita pasti akan terus menggunakan layanan-layanan Google bahkan tanpa investasi Google. Karena satu, tentunya layanan Maps eh Google Maps itu yang terbaik di dunia,” kata Kevin.
Kevin mengatakan, saat ini, pengguna Android atau ponsel berbasis pada sistem operasi Google masih menguasai pangsa pasar di Indonesia, yaitu sekitar 80 persen.
“Penggunaan Google Play Store itu luar biasa penting apalagi di Indonesia, mengingat bahwa pangsa pasar Google Android itu 80% di market Indonesia,” imbuhnya.
Kevin mengatakan, mayoritas pengguna Gojek adalah pengguna ponsel berbasis sistem operasi Google.
Hanya sekitar 15-20% pengguna Gojek yang menggunakan Apple atau iPhone.
“Kira-kira startup-startup lainnya di Indonesia yang mempunyai aplikasi. Menurut Pak Kevin apakah mereka banyak juga yang melakukan kolaborasi yang sama dengan Google?” tanya Nadiem.
Kevin mengatakan, hampir semua pembuat aplikasi di Indonesia perlu berkolaborasi atau membayar jasa serta produk Google.
Baca juga: Nadiem Ungkap Alasan Rapat Zoom Kemendikbudristek Tidak Boleh Direkam
Hal ini tidak terlepas dari pengguna Android yang mendominasi pengguna teknologi di Indonesia.
“Seberapa dominan Android di Indonesia? Kalau kita punya aplikasi kan cuman dua ya, Apple Store atau Android. Sedominan apa sih Android di Indonesia?” Cecar Nadiem.
“Mungkin di Indonesia sekitar 95% kali ya,” jawab Kevin.
Dalam kasus ini, Eks Mendikbudristek Nadiem Makarim bersama tiga terdakwa lainnya disebut telah menyebabkan kerugian keuangan negara senilai Rp 2,1 triliun.