Bisnis.com, JAKARTA – Realisasi program makan bergizi gratis (MBG) sepanjang 2025 mencapai Rp51,5 triliun dari pagu anggaran Rp71 triliun. Dari realisasi tersebut, sebesar Rp43,3 triliun langsung diterima masyarakat dalam bentuk makanan bergizi.
Seiring dengan demand domestik yang besar, pemerintah mencatat adanya lonjakan produksi pertanian dan peternakan. Sepanjang 2025, produk domestik bruto (PDB) subsektor peternakan tumbuh 12,4% year on year (YoY), lebih tinggi dari pertumbuhan PDB sektor pertanian 5,33% atau PDB nasional yang tumbuh 5,11%.
Pertumbuhan juga terlihat pada kinerja keuangan dua pemain unggas terbesar di Tanah Air, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA). Kedua emiten sepanjang Januari-September 2025 sama-sama membukukan pertumbuhan penjualan dan laba bersih, dan diestimasi akan kembali melonjak sampai akhir tahun bahkan di sepanjang 2026 ini.
Banyak laporan menyatakan bahwa kedua emiten ini memiliki peluang yang strategis untuk menjadi pemasok kebutuhan pangan program MBG pemerintah. Apalagi, 2026 ini pemerintah menambah pagu anggaran MBG menjadi Rp335 triliun.
Meski demikian, hanya manajemen JPFA yang sudah menyatakan secara terbuka keterlibatannya di program MBG. Direktur Japfa Rachmat Indrajaya menerangkan bahwa sejak program ini berjalan pada 6 Januari 2025, perseroan telah melakukan pemenuhan supply terhadap bahan baku MBG di sejumlah dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Tentunya MBG ini akan berdampak baik bagi perusahaan seperti kami. Dengan adanya MBG ini, jelas sekali dampak positif bagi Japfa sendiri,” katanya beberapa waktu lalu.
Baca Juga
- Pasca Privatisasi Japfa di Singapura, Keluarga Santosa Jadi Pemilik Manfaat JPFA
- Peluang Japfa Comfeed (JPFA) pada Tahun Kuda Api
- Target Harga Teranyar Charoen Pokphand (CPIN) Jelang Lebaran
Selain itu, Japfa juga memasok bahan baku program MBG secara tidak langsung melalui koperasi penyedia SPPG. Perseroan juga berencana akan bermitra dengan 1.000 toko sembako yang merupakan bagian dari Program Koperasi Merah Putih hingga kuartal pertama 2026, dan akan terus bertambah hingga akhir 2026.
Walau punya demand yang bagus, Financial Controller Japfa Erwin Djohan menegaskan Japfa tidak menetapkan target pendapatan tertentu dari program MBG. "Jadi kami hanya mengisi ruang yang masih ada. Jadi kami tetap kerja sama dan koordinasi dengan semua pihak," tandas Erwin.
Adapun, JPFA sepanjang Januari-September 2025 membukukan pertumbuhan penjualan 4,42% YoY ke Rp43,10 triliun dan laba bersih meningkat 15,05% YoY ke Rp2,41 triliun. Sedangkan, CPIN membukukan kenaikan penjualan 1,78% YoY ke Rp50,60 triliun dengan pertumbuhan laba bersih 41% YoY ke Rp3,36 triliun.
Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia mengatakan kinerja emiten perunggasan dalam sembilan bulan pertama 2025 tumbuh solid seiring dengan meningkatnya demand, yang salah satunya dari serapan program MBG.
Panin Sekuritas menghitung, implementasi program MBG menciptakan captive demand berskala besar dengan target serapan daging ayam sekitar 1,1 juta ton di 2026 dan berpotensi menciptakan excess demand lebih dari 500.000 ton. Angka tersebut cukup signifikan jika dibandingkan dengan konsumsi daging ayam nasional pada 2025 sekitar 3,8-3,9 juta ton dan produksinya sekitar 4,3 juta ton.
"Dukungan anggaran MBG sebesar Rp335 triliun serta pemulihan daya beli, memperkuat prospek permintaan protein hewani, mengingat konsumsi ayam per kapita Indonesia masih relatif rendah," ujar Sarkia.





