Bisnis.com, ANKARA -- Hampir empat tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan di televisi nasional bahwa angkatan bersenjata negaranya memulai invasi skala penuh ke Ukraina. Perang yang secara resmi disebut Kremlin sebagai operasi militer khusus (SMO) itu kini telah berlangsung lebih lama dibandingkan dengan keterlibatan Uni Soviet dalam Perang Dunia II pada 1941–1945.
Dikutip melalui Al Jazeera, korban tewas di pihak Rusia yang diverifikasi oleh BBC dan media independen Rusia, Mediazona, telah melampaui 186.000 orang—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan kerugian Tentara Merah selama perang Afghanistan pada 1980-an.
Di sisi lain, jutaan warga Ukraina mengungsi ke luar negeri, sementara mereka yang bertahan harus menghadapi musim dingin di tengah gempuran rudal Rusia yang menargetkan infrastruktur energi.
Lantas, bagaimana empat tahun perang ini mengubah kehidupan di Rusia?
Kehidupan Tetap Berjalan di Tengah Ancaman
Baca Juga
- Geger Lagi, Pelabuhan Rusia Dihantam Pesawat Nirawak Ukraina
- Update Jumlah Kerugian Rusia di Ukraina
- Ini 20 Poin Proposal Perdamaian Ukraina-Rusia yang akan Dibahas Zelensky & Trump
Wilayah barat Rusia yang berbatasan langsung dengan Ukraina, seperti Kursk dan Belgorod, kerap menjadi sasaran serangan artileri dan drone Ukraina. Bahkan, sebagian wilayah Kursk sempat berada di bawah kendali pasukan Ukraina untuk sementara waktu.
Kendati demikian, warga setempat mengaku mulai terbiasa dengan situasi tersebut.
"Kalau setiap serangan harus lari ke bunker, kita tak akan pernah bisa hidup normal,” ujar seorang warga yang kini menetap di Kursk.
Data dari media lokal menyebutkan ratusan warga sipil tewas di wilayah Belgorod sejak perang dimulai. Berbeda dengan wilayah perbatasan, kota-kota besar seperti Moscow dan Saint Petersburg relatif tak merasakan dampak langsung perang. Sanksi Barat memang membuat sejumlah produk impor sulit ditemukan dan harga barang meningkat, tetapi aktivitas ekonomi tetap berjalan.
“Memang mahal, tapi daya beli warga Moskow tidak terlihat turun drastis,” ujar Andrey, warga ibu kota berusia 30 tahun.
Andrey menggambarkan pusat perbelanjaan dan kafe tetap ramai, serta layanan taksi dan pengantaran daring semakin menjamur.
Namun, sejumlah merek Barat menghilang dari etalase toko sejak sanksi diberlakukan. Produk teknologi dari Eropa digantikan oleh merek Tiongkok atau Korea Selatan. Untuk mengakali pembatasan pembayaran internasional, sebagian warga bahkan membuka rekening bank di negara seperti Kirgizstan.
Di sisi lain, pembatasan dalam negeri juga meningkat. Pemerintah Rusia memperketat undang-undang terkait “berita palsu” tentang perang serta memblokir sejumlah platform media sosial Barat, mendorong penggunaan alternatif dalam negeri.
Opini Publik: Antara Dukungan, Keraguan, dan Apatisme
Survei opini menunjukkan dukungan publik terhadap perang tetap tinggi, meski analis menilai sulit memastikan akurasinya di tengah ancaman hukum bagi suara antiperang.
Sebagian warga yang awalnya skeptis berubah sikap seiring waktu. Ada yang kini mendukung narasi resmi Kremlin tentang “denazifikasi” Ukraina di bawah Presiden Volodymyr Zelenskyy. Motif historis, termasuk kenangan keluarga terhadap Perang Dunia II, turut memengaruhi pandangan tersebut. Namun, tidak sedikit pula yang bersikap apatis.
“Banyak orang memilih tak peduli dan fokus pada kehidupan sehari-hari,” kata Andrey.
Dari Medan Tempur ke Pengasingan
Bagi sebagian tentara, pengalaman di garis depan mengubah pandangan mereka. Seorang mantan prajurit yang pernah ditempatkan di wilayah Luhansk mengaku mulai meragukan tujuan perang setelah menyaksikan langsung dampaknya terhadap warga sipil.
Dia akhirnya meninggalkan posnya dan melarikan diri ke luar negeri dengan bantuan organisasi pendukung pembelot. Kini, ia hidup dalam pengasingan dan berharap suatu hari bisa kembali ke Rusia yang lebih damai.
Gelombang Emigrasi dan Kekecewaan
Pada tahun pertama perang, diperkirakan sekitar dua juta warga Rusia meninggalkan negaranya. Kota-kota seperti Yekaterinburg menjadi titik awal eksodus kaum muda dan kelompok oposisi.
Sebagian menetap di Eropa, termasuk Berlin, Jerman. Namun, tidak semua emigran menemukan kehidupan yang lebih mudah di luar negeri. Tantangan pekerjaan, status imigrasi, dan meningkatnya sentimen anti-imigran membuat sebagian dari mereka kembali ke Rusia.
Empat tahun setelah invasi dimulai, kehidupan di Rusia menunjukkan dua wajah: di satu sisi, rutinitas kota besar berjalan hampir normal; di sisi lain, wilayah perbatasan dan keluarga tentara merasakan langsung dampak perang. Di tengah dukungan, keraguan, dan apatisme, perang yang awalnya disebut sebagai operasi khusus kini menjadi realitas panjang yang membentuk ulang masyarakat Rusia.





