Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan pengadaan kendaraan di lingkungan BUMN menjadi perbincangan. Kali ini muncul kabar PT Agrinas Pangan Nusantara berencana impor 105.000 unit kendaraan pick up dari India yang nantinya dipakai untuk operasional Koperasi Merah Putih.
Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri manufaktur. Meski kemudian Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad meminta rencana impor mobil besar-besaran tersebut ditunda.
Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA) menilai bahwa setiap keputusan impor kendaraan tidak bisa dipandang semata sebagai transaksi dagang, melainkan memiliki implikasi struktural terhadap ekosistem industri. Ketua Umum GAMMA Dadang Asikin menegaskan bahwa industri permesinan memiliki peran fundamental dalam proses industrialisasi otomotif nasional.
"Industri permesinan adalah jantung industrialisasi otomotif nasional. Jika ada kebijakan yang melemahkan industri otomotif, maka akan berdampak langsung pada penguatan industri penyokongnya seperti industri pengerjaan logam dan mesin," kata Dadang kepada CNBC Indonesia dikutip Selasa (24/2/2026).
Ia menjelaskan, produksi satu unit kendaraan melibatkan ratusan komponen hasil rekayasa mesin dan tooling. Di balik satu kendaraan, terdapat aktivitas panjang mulai dari desain, fabrikasi, hingga proses engineering yang dikerjakan industri dalam negeri.
"Setiap satu unit kendaraan diproduksi, melibatkan ratusan komponen hasil rekayasa mesin dan tooling. Inilah fondasi kemandirian industri nasional," ujarnya.
Mobil pickup Tata Yodha. (Dok. Tata)
Menurutnya, kontribusi industri permesinan tidak berdiri sendiri. Sektor ini terhubung langsung dengan industri baja dan logam dasar, industri komponen kecil dan menengah, hingga sektor pendidikan vokasi dan teknik.
"Kontribusi industri permesinan berdampak pada industri baja dan logam dasar, industri komponen kecil dan menengah, sektor pendidikan vokasi dan teknik, serta penyerapan tenaga kerja terampil," jelasnya.
Dadang menekankan, penguatan mesin, tooling, dan engineering dalam negeri akan menentukan posisi Indonesia dalam peta industri otomotif global. Tanpa penguasaan sektor tersebut, Indonesia hanya akan menjadi pasar.
"Jika mesin, tooling, dan engineering dikuasai dalam negeri, Indonesia tidak hanya menjadi pasar otomotif, tapi menjadi basis produksi regional, bahkan mampu mengembangkan platform kendaraan sendiri," katanya.
Karena itu, ia meminta evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pengadaan kendaraan di lingkungan BUMN agar selaras dengan visi besar kemandirian industri nasional.
"Keberpihakan terhadap produk dalam negeri bukan sekadar slogan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dan konsisten. Industri nasional tidak boleh hanya dijadikan simbol kampanye, melainkan harus menjadi prioritas dalam implementasi kebijakan," tutup Dadang.
(fys/wur) Add as a preferred
source on Google




