Jepang mengingatkan Amerika Serikat agar kebijakan tarif baru yang tengah disiapkan tidak membuat posisi mereka lebih buruk dibandingkan kesepakatan dagang kedua negara yang diteken tahun lalu. Pesan itu disampaikan Menteri Perdagangan Jepang Ryosei Akazawa dalam percakapan telepon dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick pada Senin (23/2) malam.
Dalam pembicaraan sekitar 40 menit tersebut, kedua pejabat sepakat Jepang dan AS akan bekerja sama memastikan implementasi cepat proyek-proyek di bawah mekanisme investasi senilai USD 550 miliar. Dalam pernyataan resmi Kementerian Perdagangan Jepang, Akazawa menegaskan seiring peluncuran kebijakan tarif baru oleh Trump, Jepang tidak boleh berada pada posisi yang lebih buruk dibanding kesepakatan tahun lalu.
“Kami akan terus bekerja untuk mengimplementasikan kesepakatan dagang ini secara stabil dan pasti, dan kami juga akan terus meminta AS melakukan hal yang sama,” kata Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Minoru Kihara dalam konferensi pers rutin, dikutip dari Bloomberg, Selasa (24/2).
Perjanjian tersebut menjadi kompromi penting bagi Jepang. Mereka setuju membentuk kendaraan investasi USD 550 miliar di AS, sementara AS menurunkan tarif impor mobil Jepang menjadi 15 persen dari sebelumnya 27,5 persen, sektor yang merupakan tulang punggung ekspor Jepang.
Namun hampir setahun sejak Presiden Donald Trump mulai mengancam berbagai tarif setelah menjabat pada Januari 2025, arah kebijakan dagang AS masih memicu kebingungan. Setelah Mahkamah Agung membatalkan tarif resiprokal Trump, pemerintah AS menyatakan akan memberlakukan tarif umum 10 persen mulai Selasa pagi, berdasarkan lembar fakta Gedung Putih. Trump bahkan sempat mengisyaratkan kenaikan hingga 15 persen.
Meski demikian, dinamika terbaru itu diperkirakan tidak langsung memperburuk kondisi Jepang karena banyak produknya memang sudah menghadapi tarif impor AS sebesar 15 persen.
Minoru Kihara juga menegaskan pemerintah akan terus mendorong implementasi kesepakatan dagang secara konsisten dan meminta komitmen yang sama dari Washington. Tokyo juga akan mencermati perkembangan lanjutan serta potensi dampaknya terhadap perjanjian yang sudah ada.
Gelombang awal proyek investasi yang diumumkan Trump pekan lalu mencakup pembangunan infrastruktur data, terminal minyak laut dalam, serta fasilitas produksi berlian sintetis untuk industri semikonduktor. Seluruh proyek tersebut berbasis di AS, menegaskan fokus investasi Jepang untuk memperdalam hubungan ekonomi bilateral.
Di tengah ketidakpastian tarif, mantan Menteri Pertahanan Jepang Itsunori Onodera menyebut situasi kebijakan dagang AS sebagai benar-benar kacau dalam siaran Fuji TV pada Minggu. Meski begitu, ia menepis kemungkinan Jepang membuka kembali negosiasi kesepakatan.
Menurut Onodera, prioritas utama Jepang dalam negosiasi tahun lalu adalah penurunan tarif mobil, sektor ekspor terbesar sekaligus penopang lapangan kerja dan investasi domestik. Ia menekankan tarif mobil tidak termasuk dalam putusan Mahkamah Agung, sehingga renegosiasi justru berisiko memicu dampak negatif. Jika pembahasan ulang diperlukan, prosesnya harus dilakukan secara menyeluruh dan hati-hati.





