Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas terkoreksi dipicu oleh aksi ambil untung di tengah ketidakpastian tarif Presiden AS Donald Trump dan memanasnya tensi geopolitik Timur Tengah.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (24/2/2026) harga emas di pasar spot turun 1,1% menjadi US$5.172,05 per troy ounce. Sementara itu, harga emas Comex melemah 0,40% ke level US$5.204,70 per troy ounce.
Sebelumnya, harga emas melonjak lebih dari 7% dalam empat sesi terakhir. Kenaikan tersebut dipicu minat investor terhadap aset safe haven setelah Presiden AS Donald Trump menjanjikan tarif impor baru serta meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran.
Song Jiangzhen, peneliti di Guangdong Southern Gold Market Academy menebut, pergerakan dalam kisaran 2% masih tergolong volatilitas pasar yang normal saat ini. Dia menilai penurunan pada Selasa kemungkinan merupakan penyesuaian pasar China terhadap pergerakan global selama masa libur.
“Dalam jangka panjang, sentimen tetap positif, dengan ketidakpastian di Iran dan risiko isolasi AS akibat kebijakan tarifnya,” ujarnya.
Pasar global masih diliputi kebingungan setelah Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor global menjadi 15%, menyusul putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat yang membatalkan skema tarif resiprokal andalannya.
Baca Juga
- Harga Buyback Emas Antam, Galeri24, dan UBS di Pegadaian Hari Ini Selasa 24 Februari 2026
- Harga Emas Antam Hari Ini (24/2) Melonjak, Dibanderol Rp3,06 Juta per Gram
- Menakar Ramalan Harga Emas 2026
Sejumlah mitra dagang utama AS juga dilaporkan kesulitan menyesuaikan tarif terbaru dengan kesepakatan sebelumnya, memperburuk ketegangan hubungan dagang.
Evaluasi Uni Eropa menunjukkan kebijakan baru Trump berpotensi menaikkan bea atas sebagian ekspor mereka melebihi batas yang diizinkan dalam perjanjian perdagangan.
Di tengah meningkatnya sentimen risk off, harga emas kini kembali terkonsolidasi di atas level US$5.000 per troy ounce setelah sempat mengalami koreksi tajam pada awal bulan. Gelombang aksi beli spekulatif sebelumnya mendorong reli multi-tahun hingga menyentuh rekor di atas US$5.595 pada akhir Januari, sebelum berbalik melemah tajam.
Sejak itu, emas telah memulihkan lebih dari separuh kerugian tersebut, meski pergerakan harga masih cenderung fluktuatif.
Sejumlah bank global seperti BNP Paribas SA, Deutsche Bank AG, dan Goldman Sachs Group Inc. memperkirakan harga emas akan kembali menguat. Mereka menilai faktor fundamental yang menopang reli sebelumnya masih bertahan, termasuk kekhawatiran atas independensi bank sentral AS, pergeseran dari obligasi dan mata uang negara maju, serta risiko geopolitik, terutama di Timur Tengah.
AS dilaporkan telah mengerahkan kekuatan militer terbesar di kawasan tersebut sejak 2003, menjelang dimulainya kembali pembicaraan terkait program nuklir Iran pekan ini.
Meski menyatakan lebih memilih solusi diplomatik, Trump memperingatkan bahwa akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Iran jika kesepakatan tidak tercapai, seraya menepis laporan bahwa Pentagon mengkhawatirkan potensi sulitnya kampanye militer berkepanjangan.





