Review Marty Supreme: Karakter yang Sunyi di Tengah Dunianya yang Berisik

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Marty Supreme adalah film terberisik yang pernah saya tonton. Sepanjang 149 menit durasi, dialog sahut-menyahut tanpa jeda. Belum selesai satu tokoh menyelesaikan kalimatnya, tokoh lain sudah menimpali dengan nada yang tak kalah tinggi.

Kekacauan visual dan audio ini jadi ciri khas yang sangat ambisius dari sang sutradara, Josh Safdie. Meskipun di beberapa aspek ada celah kekurangan, film ini rasanya layak mendapatkan 9 nominasi di Oscar 2026.

Alur Cerita

Berlatar tahun 1952, penonton diperkenalkan pada Marty Mauser, pemuda Yahudi yang bekerja sebagai sales sepatu di New York. Di balik kesehariannya yang tampak biasa, ia memendam ambisi besar menaklukkan dunia melalui olahraga tenis meja.

Ia bahkan mematenkan merek bola pingpong miliknya sendiri yang diberi nama Marty Supreme. Idenya masif, cerdas, dan brilian, termasuk sejarah perubahan warna bola ping pong dari putih menjadi oranye. Namun tingkahnya agak menjengkelkan dan bikin kita ikut emosi.

Kehidupan pribadi Marty tidak kalah berantakan dari ambisinya. Ia terjebak dalam perselingkuhan dengan kekasih masa kecilnya, Rachel Mizler (Odessa A'Zion), yang sudah berstatus istri orang. Ia juga menjalin hubungan terlarang dengan Kay Stone (Gwyneth Paltrow).

Namun, sebagai pria, Marty punya tujuan dan ambisi yang sangat sejati. Energi dan penghasilannya ia kumpulkan demi satu tujuan: terbang ke Inggris untuk mengikuti kejuaraan tenis meja di Stadion Wembley.

Visual Tahun 50-an yang Otentik

Safdie berhasil menangkap esensi New York tahun 50-an dengan sangat cantik dan dinamis. Latar perang dunia II juga diselipkan dengan sangat pas pada porsinya lewat lontaran dark jokes tokoh Marty.

Namun, ketika narasi berpindah ke London, Inggris, kontras budaya mulai muncul. Marty yang kasar dan blak-blakan sering mengejutkan jurnalis olahraga Inggris melalui lelucon-lelucon yang dianggap tidak pantas.

London digambarkan Safdie sebagai kota yang dingin, kaku, dan sangat bermoral. Kehadiran Marty di kota itu adalah anomali. Marty bertingkah jadi dirinya sendiri, tetapi terus menyita perhatian.

Metafora Tenis Meja

Menariknya, struktur film ini bergerak layaknya permainan pingpong itu sendiri. Ritme dan semangat tenis meja meresap ke dalam setiap adegan dan dialog.

Ada efek hipnotis dari gerakan bolak-balik yang cepat, berisik, dan memusingkan. Namun entah kenapa, film ini tetap memikat untuk diikuti hingga akhir.

Kehidupan Marty, layaknya di meja tenis, terasa dibolak-balik, melesat cepat, dari satu kegagalan ke permasalahan lain. Setiap keputusannya selalu menghasilkan masalah baru. Namun Marty selalu punya jawaban dan "pukulan balik" yang cemerlang.

Akting Timothée Chalamet

Timothée Chalamet memberikan performa yang luar biasa sebagai Marty. Ia berhasil menghidupkan karakter yang gelisah, digerakkan oleh rasa tidak puas dan rasa kasihan pada diri sendiri. Chalamet memerankan kegilaan Marty dengan wajah yang sangat meyakinkan, menunjukkan rusaknya kondisi mental sang atlet.

Marty tenang di tengah kepalanya yang berisik. Dia melakukan segala hal agar tujuannya tercapai, bahkan menipu, memanipulasi, demi orang-orang yang dia kasihi.

Gwyneth Paltrow Tampil Gemilang

Gwyneth Paltrow hadir sebagai sosok penyeimbang yang cerdas di tengah narsisme Marty yang meluap-luap. Karakter Paltrow digambarkan sangat sensual sekaligus bijak.

Memerankan karakter seorang bintang, Paltrow merespons Kay Stone sebagai sosok yang kenal Marty dan memahami pria itu lebih baik daripada Marty memahami dirinya sendiri.

Karakter yang Sunyi

Di tengah hiruk-pikuk suara, pertengkaran, dan bunyi bola pingpong yang tak henti, Marty sebenarnya adalah karakter yang sunyi. Ada kekosongan emosional dan yang ia rasakan meski dunia sekelilingnya bergerak dengan cepat.

Obsesi terhadap kejayaan dan ambisi justtu menbuat Marty terlihat sendiri, melintasi mentalnya yang kian kabur. Ia harus menghadapi kegagalan dan konsekuensi yang gelap seiring perjalanan hidupnya yang penuh tekanan.

Menjelang akhir film, intensitas yang terasa lebih tinggi. Saya turut merasakan keputusasaan Marty saat segala hal penting dalam hidupnya, yang seolah terbuang begitu saja.

Meski penuh kekacauan, Marty entah bagaimana selalu mampu bangkit kembali. Puncaknya terlihat pada adegan penutup yang menunjukkan kedewasaan emosional yang mengharukan.

Harga diri ketika menang dari Endo di Jepang dan kelahiran anaknya lewat Rachel, membuat Marty menemukan dirinya sendiri dalam kesendirian. Dua adegan ajaib itu rasanya langka ditemukan di genre film biopik olahraga.

Antiklimaks

Sayangnya, film ini punya bagian ending yang terasa tanggung. Mengingat energi film yang begitu meledak di awal, penutupnya terasa terlalu rapi dan kurang menggigit.

Selain itu, pemilihan soundtrack pada beberapa bagian terasa sedikit klise dan amburadul. Musik yang digunakan kadang gagal mengimbangi keunikan visual Safdie, sehingga memberikan kesan yang sedikit mengurangi pengalaman menonton.

Namun, secara keseluruhan, Marty Supreme adalah pencapaian besar di tahun 2025. Dengan sembilan nominasi Oscar dan pendapatan box office melampaui 100 juta dolar AS, film ini membuktikan bahwa karya independen masih memiliki taji yang kuat di pasar global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Doxa Ijazah Jokowi dan Pertarungan Ruang Publik
• 20 menit lalurctiplus.com
thumb
Mantan Wali Kota Palembang Harnojoyo Dituntut 3,6 Tahun Penjara, Kasus Korupsi Revitalisasi Pasar Cinde
• 3 jam lalutvonenews.com
thumb
Akses Mudah dari Delta Silicon Lippo, UBSI Kampus Cikarang Jadi Kampus Favorit Karyawan
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
5 Penginapan Super Nyaman dan Seru di Sentul, Pas untuk Ajak Anak Libur Lebaran
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Sosok El Mencho, dari Buruh Migran hingga Jadi Raja Kartel Meksiko yang Tewas Ditembak Militer
• 5 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.