Ramadan jadi momen tepat untuk merefleksikan diri, lebih selektif terhadap hal yang kita konsumsi, lebih tenang dalam bertransaksi, dan lebih peduli pada sesama.
Namun, di tengah meningkatnya aktivitas digital selama Ramadan, mulai dari belanja online, donasi, hingga pembelian tiket mudik dan penyewaan kendaraan atau gadget, kebutuhan berbagi dokumen untuk administrasi juga ikut naik.
Sayangnya, masih ada kebiasaan yang dinormalisasi: menyimpan dan membagikan dokumen pribadi secara sembarangan.
Melalui kampanye #VIDAJagaKalian, masyarakat diajak menghentikan kebiasaan ini dan beralih ke cara yang lebih aman dalam mengelola identitas digital.
Di era digital, kebocoran data pribadi jarang bermula dari sistem yang diretas. Sering kali justru dimulai dari kebiasaan sederhana: foto KTP di galeri ponsel, scan KK tersimpan tanpa proteksi, atau dokumen penting yang dikirim lewat chat tanpa kontrol. Ketika file itu tersebar, kita kehilangan kendali. Jadi sekali bocor, data bisa digunakan berkali-kali.
AVP Product Management VIDA, Mukti Pradana, menyampaikan bahwa dokumen pribadi yang disimpan di galeri tanpa proteksi atau dibagikan lewat chat itu seperti bungkus gorengan yang tercecer. Mudah diambil, mudah dimanfaatkan, dan sering tidak kita sadari sudah berpindah tangan.
Ramadan adalah momen untuk memperbaiki kebiasaan, termasuk kebiasaan digital. Kalau bisa aman, kenapa harus ambil risiko?” jelasnya.
VIDA Kampanyekan Dua Langkah SederhanaKampanye ini menyoroti dua langkah sederhana, yakni stop normalisasi kebiasaan berisiko dan start kebiasaan aman.
Stop Normalisasi:
Stop menyimpan dokumen sensitif di galeri ponsel tanpa proteksi tambahan.
Stop mengirim foto KTP, KK, atau paspor lewat aplikasi chat tanpa kontrol akses.
Stop menganggap kebocoran data sebagai hal biasa yang tidak akan berdampak pada diri sendiri.
Satu ponsel hilang, satu akun email diretas, atau satu chat yang diteruskan tanpa izin bisa membuka pintu bagi penyalahgunaan identitas, mulai dari pendaftaran pinjaman online ilegal hingga pengambilalihan akun.
Mari Mulai:
Menyimpan dokumen penting di penyimpanan terenkripsi dengan proteksi biometrik.
Berbagi dokumen dengan kontrol akses, batas waktu, dan riwayat penggunaan.
Memastikan identitas digital tetap berada di tangan pemiliknya.
Melalui VIDA App, masyarakat dapat menggunakan fitur DocsVault untuk menyimpan dokumen dalam penyimpanan terenkripsi dengan pengamanan biometrik wajah. Ketika dokumen perlu dibagikan, fitur SecureShare memungkinkan pengguna mengatur durasi akses, batas jumlah akses, hingga mencabut akses kapan saja. Dokumen tidak lagi dikirim sebagai file bebas, melainkan sebagai akses terkontrol.
“Keamanan tidak harus rumit. Kami merancang VIDA App agar masyarakat bisa tetap praktis tanpa mengorbankan keamanan. Berbagi dokumen bukan berarti berbagi kendali. Identitas adalah hak pemiliknya,” tambah Mukti.
Ramadan adalah momen perubahan. Saatnya menghentikan kebiasaan lama yang berisiko dan membangun budaya baru yang lebih aman. Karena dokumen asli yang bocor sering kali lebih berbahaya daripada dokumen palsu. Data pribadi yang tersebar sekali bisa dimanfaatkan berkali-kali.





