VIVA – Pelatih Jose Mourinho kembali menjadi sorotan jelang laga krusial Liga Champions. Juru taktik Benfica itu memilih langkah tak biasa dengan memanfaatkan regulasi UEFA untuk tidak berbicara kepada media sebelum duel penentuan melawan Real Madrid.
Benfica dijadwalkan bertandang ke Santiago Bernabeu pada leg kedua babak play-off Liga Champions. Pada pertemuan pertama di Lisbon, Benfica harus mengakui keunggulan Real Madrid dengan skor tipis 0-1.
Satu-satunya gol pada laga tersebut dicetak oleh Vinicius Junior, namun pertandingan justru dibayangi isu non-teknis. Insiden dugaan ujaran rasis yang melibatkan Vinicius dan pemain muda Benfica, Gianluca Prestianni, mencuri perhatian publik.
Usai mencetak gol, Vinicius melaporkan adanya komentar bernada rasis kepada wasit Francois Letexier, yang kemudian mengaktifkan protokol anti-rasisme UEFA. Namun, Mourinho justru menyebut selebrasi Vinicius sebagai pemicu reaksi suporter tuan rumah.
“Jika mencetak gol seperti itu, seharusnya dirayakan dengan cara yang lebih hormat,” kata Mourinho kala itu. Ia juga menambahkan, insiden serupa disebutnya kerap terjadi di setiap stadion yang disinggahi Vinicius.
Pernyataan tersebut menuai kecaman luas dari publik dan pengamat sepak bola Eropa. Kritik juga datang dari sejumlah pelatih ternama, yang menilai komentar Mourinho tidak sensitif terhadap isu rasisme.
Menjelang leg kedua di Madrid, Mourinho memilih menghindari sorotan. Ia dipastikan absen dari konferensi pers resmi Benfica yang dijadwalkan Selasa waktu setempat. Keputusan itu diambil dengan memanfaatkan celah regulasi UEFA.
Dalam Pasal 79.04 Regulasi Liga Champions UEFA disebutkan, apabila pelatih kepala tengah menjalani skorsing, klub diperbolehkan menunjuk asisten pelatih untuk memenuhi kewajiban media. Mourinho sendiri diketahui menerima kartu merah pada leg pertama, sehingga harus menjalani larangan mendampingi tim di pinggir lapangan.
Alhasil, tugas konferensi pers akan diemban oleh asisten pelatih Benfica, Joao Tralhao.





