EtIndonesia. Perkembangan terbaru dari Timur Tengah kembali menyorot situasi keamanan di Jalur Gaza. Pada 23 Februari 2026, stasiun televisi Israel i24News melaporkan bahwa militer Israel merilis pembaruan resmi terkait operasi darat yang berlangsung di Gaza selatan.
Dalam pernyataan tersebut, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan bahwa Brigade Lapis Baja ke-7 berhasil menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah milik Hamas sepanjang kurang lebih satu kilometer di wilayah Rafah, dekat perbatasan Mesir.
Operasi Tiga Bulan di Rafah
Menurut laporan militer Israel yang dipublikasikan pada 23 Februari 2026, operasi ini merupakan hasil dari tiga bulan pengerahan intensif pasukan darat, termasuk unit zeni tempur dan intelijen medan.
Selama operasi tersebut:
- Puluhan militan Hamas dilaporkan tewas dalam kontak senjata dan serangan presisi.
- Ratusan target dihancurkan, mencakup:
- Titik peluncuran roket
- Pos pengamatan dan persembunyian
- Gudang senjata
- Infrastruktur bawah tanah dan fasilitas permukaan
Pasukan zeni tempur Israel disebut telah melakukan peledakan terkontrol untuk meruntuhkan seluruh jalur terowongan, sekaligus memastikan tidak ada cabang tambahan yang tersisa aktif di kawasan tersebut.
IDF menyatakan bahwa jaringan yang dihancurkan merupakan bagian dari sistem terowongan strategis yang digunakan Hamas untuk mobilitas militer, penyimpanan logistik, dan perlindungan dari serangan udara.
Rafah: Titik Strategis di Gaza Selatan
Kota Rafah memiliki posisi strategis karena berada di selatan Jalur Gaza dan berbatasan langsung dengan Mesir. Sejak pecahnya konflik besar Israel–Hamas pada Oktober 2023, wilayah ini menjadi salah satu titik paling sensitif secara militer dan kemanusiaan.
Jaringan terowongan bawah tanah—yang oleh Israel sering disebut sebagai “metro bawah tanah Hamas”—selama bertahun-tahun menjadi elemen kunci strategi pertahanan dan serangan kelompok tersebut. Terowongan-terowongan ini digunakan untuk:
- Pergerakan pasukan tanpa terdeteksi
- Penyimpanan senjata dan bahan peledak
- Perlindungan komando dari serangan udara
Pasca Gencatan Senjata 2025: Operasi Pembersihan Berlanjut
Setelah tercapainya gencatan senjata antara Israel dan Hamas pada tahun 2025, ketegangan bersenjata memang menurun, namun Israel tetap mempertahankan operasi keamanan terbatas, terutama di wilayah timur Gaza.
IDF menyebut kawasan tersebut sebagai bagian dari zona keamanan di sekitar garis demarkasi yang dikenal sebagai “Garis Kuning”—sebuah istilah militer internal yang merujuk pada zona pemisah taktis untuk mencegah infiltrasi dan pembangunan kembali infrastruktur militan.
Menurut pernyataan resmi IDF pada 23 Februari 2026:
Operasi penghancuran terowongan di Rafah merupakan tonggak penting dalam kampanye sistematis untuk melumpuhkan ancaman bawah tanah utama di Gaza selatan.
Militer Israel juga menegaskan bahwa penghancuran jaringan ini secara signifikan mengurangi kapasitas Hamas untuk membangun kembali kekuatan militernya di sektor tersebut.
Dampak Strategis dan Tantangan ke Depan
Para analis keamanan menilai bahwa fokus Israel terhadap infrastruktur bawah tanah menunjukkan perubahan pendekatan strategis pasca-gencatan senjata 2025. Alih-alih operasi skala besar yang melibatkan pengepungan luas, kini operasi lebih terarah pada:
- Pengumpulan intelijen presisi
- Serangan terbatas dengan tujuan spesifik
- Penghancuran infrastruktur militer tersembunyi
Namun demikian, situasi di Gaza tetap rapuh. Organisasi kemanusiaan internasional berulang kali memperingatkan bahwa operasi militer, bahkan yang berskala terbatas, tetap membawa risiko terhadap populasi sipil di wilayah padat penduduk seperti Rafah.
Hingga 23 Februari 2026, belum ada pernyataan resmi dari pihak Hamas terkait klaim penghancuran terowongan tersebut.
Kesimpulan
Operasi yang diumumkan pada 23 Februari 2026 ini menandai fase lanjutan dari strategi Israel dalam menetralisir ancaman bawah tanah di Gaza selatan. Dengan dihancurkannya terowongan sepanjang satu kilometer di Rafah, IDF mengklaim telah melumpuhkan salah satu jalur logistik penting Hamas.
Meski demikian, dinamika keamanan di Gaza masih sangat fluktuatif. Pasca-gencatan senjata 2025, setiap operasi militer tetap berpotensi memicu eskalasi baru, terutama di kawasan sensitif seperti Rafah yang menjadi simpul strategis antara Gaza dan Mesir.
Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada respons kedua belah pihak serta dinamika diplomasi regional yang terus berlangsung di Timur Tengah.





