EtIndonesia. Seorang maestro pemahat sedang berjalan-jalan di hutan. Di sana dia menemukan sebatang kayu berkualitas sangat baik.
Kayu itu dibawanya pulang. Dia memutuskan untuk mengukirnya menjadi sebuah patung dewa.
Dia menghabiskan banyak waktu dan mencurahkan seluruh tenaga serta perasaannya. Akhirnya, lahirlah sebuah patung dewa yang benar-benar memuaskan hatinya.
Setelah selesai, dia melihat sisa kayu di sampingnya. Dia mengambil sepotong kayu yang cukup besar dan secara sederhana membentuknya menjadi sebuah kentongan kayu.
Patung dewa itu kemudian ditempatkan di kuil. Setiap hari dia menerima penghormatan dari para umat, disembah, diberi dupa dan persembahan. Kedudukannya sangat terhormat.
Sementara kentongan kayu diletakkan di depan altar. Setiap pagi dan sore, mengikuti irama doa para biksu, dia terus-menerus dipukul tanpa henti…
Suatu malam, kentongan kayu bertanya kepada patung dewa : “Kita berasal dari kayu yang sama. Mengapa engkau menikmati penghormatan dan persembahan, sedangkan aku setiap hari harus dipukul? Mengapa nasib kita begitu berbeda?”
Patung dewa menjawab: “Dulu kamu tidak bersedia menerima pahatan kapak dan pisau. Sedangkan aku harus menanggung rasa sakit ukiran yang tak terlukiskan. Karena itu, perlakuan yang kita terima hari ini tentu berbeda jauh.”
Ada pepatah mengatakan : “Giok yang tidak diasah tidak akan menjadi perhiasan.”
Semua ujian dan tempaan yang kita alami hari ini, sesungguhnya adalah bagian dari proses untuk meningkatkan pencapaian kita di masa depan.
Apakah kita ingin menjadi patung yang dihormati atau kentongan yang dipukul—pilihannya ada pada diri kita sendiri.
Hikmah Cerita
Saya sangat setuju dengan kalimat: “Semua tempaan yang kita alami hari ini adalah bagian dari rencana untuk meningkatkan pencapaian di masa depan.”
Kesuksesan bukanlah kebetulan. Dan kesuksesan yang hanya terjadi karena kebetulan pun biasanya tidak bertahan lama. Hanya mereka yang ditempa oleh berbagai ujianlah yang memiliki mental dan karakter kuat untuk menghadapi dunia yang terus berubah.
Namun, jika direnungkan lebih dalam, kisah patung dan kentongan ini juga menyisakan ruang untuk berpikir.
Keduanya berasal dari kayu yang sama. Kualitas kayunya sama.
Patung memang mengalami pahatan yang menyakitkan. Tetapi bukankah kentongan juga melalui proses pemahatan? Kayu tidak mungkin langsung menjadi kentongan tanpa dibentuk. Bahkan di banyak kuil, kita melihat patung yang sangat indah ukirannya, dan juga kentongan dengan pahatan yang sangat halus. Ada pula patung dan kentongan yang sederhana.
Artinya, dalam kehidupan nyata, banyaknya ujian yang kita alami tidak selalu menjamin kesuksesan.
Kadang, ujian bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat. Namun bisa juga mempercepat kehancurannya.
Tempaan bukan jaminan sukses. Tetapi tanpa tempaan, peluang untuk sukses jauh lebih kecil.
Seperti pendidikan. Memiliki pendidikan tinggi tidak menjamin seseorang pasti berhasil. Tetapi itu adalah salah satu faktor yang meningkatkan peluang keberhasilan.
Semakin banyak bekal dan syarat keberhasilan yang kita miliki, semakin besar pula kemungkinan kita untuk menonjol.
Intinya, hidup bukan soal mengeluh atas proses pahit yang kita alami. Melainkan bagaimana kita memaknai tempaan itu dan mengubahnya menjadi kekuatan.(jhn/yn)





