Nuklir Taktis Beijing & Kartel Meksiko Mengamuk: Dunia Menuju Dua Titik Ledak Sekaligus?

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan geopolitik global kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Dua perkembangan besar—pergeseran strategi nuklir Tiongkok dan ledakan kekerasan kartel narkoba di Meksiko—memunculkan kekhawatiran baru mengenai stabilitas keamanan internasional.

Laporan intelijen Amerika Serikat mengindikasikan adanya perubahan signifikan dalam doktrin nuklir Beijing. Di saat yang sama, krisis keamanan di Meksiko pada 22–23 Februari memaksa Washington mengaktifkan respons lintas lembaga. Banyak pengamat menilai kedua peristiwa ini, meski terjadi di kawasan berbeda, sama-sama berpotensi memengaruhi kalkulasi strategis Amerika Serikat.

Pergeseran Strategi Nuklir Beijing

Menurut sejumlah pejabat tinggi Amerika Serikat, komunitas intelijen Washington menilai bahwa strategi nuklir Tiongkok tengah mengalami transformasi penting. Jika selama beberapa dekade Beijing menekankan doktrin “kehancuran bersama” (mutual assured destruction) dengan mengandalkan hulu ledak berdaya hancur besar sebagai alat penangkal, kini fokus disebut bergeser pada pengembangan senjata nuklir taktis berdaya ledak rendah.

Pada 22 Juni 2020, sensor seismik internasional mendeteksi getaran anomali berkekuatan 2,75 magnitudo di sekitar kawasan Lop Nur, Xinjiang—wilayah yang sejak lama dikenal sebagai lokasi uji coba nuklir Tiongkok. Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS secara terbuka menyebut getaran tersebut diduga terkait eksperimen miniaturisasi hulu ledak nuklir.

Menurut penilaian Washington, Beijing kini mengembangkan hulu ledak berkekuatan hanya beberapa kiloton, dengan tingkat presisi lebih tinggi dan ambang penggunaan yang lebih rendah. Istilah “lebih dapat digunakan” merujuk pada konsep bahwa senjata tersebut tidak lagi semata-mata berfungsi sebagai penangkal strategis, melainkan berpotensi dipertimbangkan sebagai instrumen taktis di medan konflik.

Implikasi terhadap Selat Taiwan

Sejumlah pengamat luar menilai perubahan ini berkaitan erat dengan dinamika keamanan di sekitar Taiwan. Dalam skenario eskalasi militer di Selat Taiwan, Tiongkok diduga dapat mempertimbangkan penggunaan senjata nuklir berdaya rendah untuk memaksa mundur intervensi militer Amerika Serikat.

Target potensial yang disebut dalam analisis keamanan mencakup pangkalan militer AS di Jepang atau simpul pertahanan udara utama di Taiwan. Logika strategisnya dinilai sangat agresif: menyerang target militer terbatas untuk menghindari serangan terhadap kota-kota besar, sehingga menciptakan dilema bagi Washington—apakah akan membalas dengan eskalasi nuklir penuh demi mempertahankan satu pangkalan atau instalasi tertentu.

Isu ini disebut menjadi salah satu topik sensitif menjelang rencana kunjungan Presiden AS, Donald Trump, ke Beijing pada April mendatang. Sejumlah analis menilai pengungkapan informasi intelijen ini merupakan bentuk tekanan diplomatik awal sebelum pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung.

Insiden Militer di Guangdong dan Shandong

Di tengah meningkatnya ketegangan tersebut, muncul kabar tambahan pada periode libur Tahun Baru Imlek. Seorang mayor purnawirawan India bernama Samar melalui platform X menyebut bahwa dalam rentang 24 jam terjadi dua insiden di fasilitas militer Tiongkok—pertama di Shantou, Provinsi Guangdong, dan kemudian di Zibo, Provinsi Shandong.

Informasi tersebut belum terverifikasi secara independen. Namun dia mengaitkannya dengan rumor keterlibatan kelompok militan asal Pakistan yang disebut melakukan aksi pembalasan atas dugaan kebocoran koordinat pimpinan mereka.

Kelompok tersebut, menurut klaim yang beredar, pernah terlibat dalam aksi-aksi besar pada 2001, 2006, dan 2008 yang memicu ketegangan serius di Asia Selatan. Jika benar, insiden ini berpotensi menyoroti risiko kebijakan penggunaan aktor proksi di luar negeri—yang sewaktu-waktu dapat berbalik menjadi ancaman domestik.

Krisis Kartel di Meksiko: CJNG Mengamuk

Sementara itu, pada 22 Februari, situasi keamanan di Meksiko memburuk secara drastis. Pemimpin kartel narkoba Jalisco New Generation Cartel (CJNG), yang dikenal dengan julukan “El Mencho”, dilaporkan tewas dalam operasi aparat keamanan. Malam yang sama, putranya ditangkap dan dibawa ke lokasi rahasia untuk diinterogasi.

CJNG segera melancarkan aksi balasan terkoordinasi di sedikitnya delapan negara bagian.

Negara bagian Jalisco menetapkan status siaga merah. Kota Guadalajara dan destinasi wisata Puerto Vallarta mendadak berubah menjadi zona krisis. Jalan-jalan diblokade dengan kendaraan terbakar, layanan publik dihentikan, dan kepanikan meluas.

Pada 23 Februari, Kedutaan Besar India di Meksiko mengimbau warganya untuk tetap berada di dalam ruangan. Otoritas konsuler AS mengeluarkan peringatan serupa. Konsulat Jenderal AS di Guadalajara menghentikan layanan publik, sementara maskapai seperti Air Canada dan United Airlines membatalkan sejumlah penerbangan.

Kartel bahkan mengeluarkan ancaman terbuka bahwa siapa pun yang berada di jalan akan dianggap sebagai target. Laporan tak resmi menyebut adanya penembakan terhadap pesawat yang mendarat darurat di bandara Guadalajara.

Dimensi Geopolitik yang Lebih Luas

Sejumlah laporan sebelumnya menuding kartel Meksiko sebagai bagian dari jaringan perang non-konvensional terhadap Amerika Serikat. Tuduhan tersebut mencakup dugaan pasokan bahan baku narkotika sintetis dari Tiongkok serta penggunaan jaringan keuangan bawah tanah untuk pencucian uang.

Jika eskalasi terjadi secara bersamaan—ketegangan nuklir di Selat Taiwan dan instabilitas domestik di Amerika akibat kekerasan kartel—Washington dapat dipaksa membagi fokus strategisnya.

Kantor berita Reuters melaporkan bahwa gugus tugas lintas lembaga AS telah dikerahkan untuk menangani krisis Meksiko. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan dalam negeri kini dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi penahanan global.

Dunia di Persimpangan

Rangkaian peristiwa sejak 22 hingga 23 Februari memperlihatkan betapa rapuhnya keseimbangan global saat ini. Pergeseran doktrin nuklir di Asia Timur dan ledakan kekerasan di Amerika Utara mungkin terjadi di kawasan berbeda, tetapi keduanya memiliki dampak strategis yang saling berkaitan.

Di tengah persiapan kunjungan diplomatik tingkat tinggi dan dinamika keamanan yang cepat berubah, dunia tampak memasuki fase ketidakpastian baru—di mana keputusan politik, kalkulasi militer, dan stabilitas domestik saling berkelindan dalam satu lanskap risiko global yang semakin kompleks.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Digendong Persib dan Dewa United, BRI Super League Melesat 7 Peringkat di Ranking Kompetisi Klub Asia 2025/2026, Jadi Posisi ke-18
• 1 jam lalubola.com
thumb
Tradisi Berbagi Makin Nyata, Moms Bakal Lebih Fokus Belanja dan Kirim Hampers?
• 5 jam laluherstory.co.id
thumb
Tambah Koleksi Saham SUPA, Grab Kucurkan Dana Rp361 Miliar
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Oknum Brimob Aniaya Pelajar hingga Tewas, Lemkapi Minta Proses Hukum Tegas!
• 18 jam laluokezone.com
thumb
Profil Arya Irwantoro, Suami Dwi Sestyaningtyas yang Terseret Polemik Status Kewarganegaraan Anak dan Beasiswa LPDP
• 8 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.